Ortu Jangan Tabu Beri Edukasi Terkait Reproduksi kepada Anak Difabel

PCM Boyolali membuat kegiatan penyuluhan kepada orang-orang terdekat anak dengan disabilitas karena masih banyak kasus-kasus tentang pelecahan dan kekerasan seksual menimpa anak disabilitas.
SHARE
Ortu Jangan Tabu Beri Edukasi Terkait Reproduksi kepada Anak Difabel
SOLOPOS.COM - Peserta mengikuti acara penyuluhan tentang Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) di Selo, Boyolali, Sabtu (22/1/2022). (Solopos/Ni`matul Faizah)

Solopos.com, BOYOLALI — Yayasan Penyandang Cacat Mental (YPCM) Boyolali menyelenggarakan acara penyuluhan tentang Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) di Selo, Boyolali, pada Sabtu (22/1/2022). Acara ini diselenggarakan dengan mengundang 32 peserta terdiri atas orang tua dari anak penyandang disabilitas, guru dari anak disabilitas, dan bidan desa di Kecamatan Selo.

Hal tersebut disampaikan Ketua YPCM Boyolali, Rosihan Ari, saat ditemui Solopos.com pada Sabtu mengatakan acara itu adalah hasil kerja sama dengan Yayasan NRL Indonesia dan Liliane Fonds. Ketiganya adalah organisasi yang bergerak membantu penyandang disabilitas.

PromosiHari Keluarga Nasional: Kudu Tepat, Ortu Jangan Pelit Gadget ke Anak!

“Kegiatan ini adalah kerja sama YPCM Boyolali, NRL Indonesia dan Liliane Fonds. Kami mengundang stakeholder seperti dari Dinas Kesehatan dan NRL Indonesia sebagai narasumber. Pesertanya wali dari anak binaan YPCM, para guru yang menjadi fasilitator kami, serta bidan-bidan desa,” kata Ari.

Surat untuk Bunda Selvi Gibran

Baca juga: Difabel Boyolali Dilatih Menjahit, Berpeluang Kerja di PT PAN Brothers

Lebih lanjut, Ari mengatakan YPCM Boyolali membuat kegiatan penyuluhan kepada orang-orang terdekat anak dengan disabilitas karena masih banyak kasus-kasus tentang pelecahan dan kekerasan seksual yang melibatkan anak disabilitas.

“Kami dari YPCM berinisiatif mengadakan acara tentang penyuluhan hak kesehatan reproduksi dan seksual untuk anak disabilitas mengingat fakta yang terjadi di lapangan banyak yang belum tahu. Dampaknya? Sering kali kami dapati mereka [penyandang disabilitas] menjadi korban dan pelaku kekerasan atau pelecehan seksual, indikasinya ya mereka belum memahami itu,” kata Ari.

Susah Mengadakan Bimbingan

Lebih lanjut, Ari mengatakan sumber informasi terdekat anak disabilitas, orang tua mereka, masih menganggap tabu pengetahuan tentang kesehatan seksual dan reproduksi untuk anak.

“Dan juga keadaan orang tua yang masih menganggap ini adalah sebuah hal tabu yang akan disampikan ke anak, sehingga hal tersebut terlambat. Anak sudah mengalami itu [kekerasan atau pelecehan seksual], tapi orang tua masih susah untuk mengadakan bimbingan,” kata Ari.

Baca juga: Jejak Dakwah Sunan Kalijaga di Asale Sumur Songo Cepogo Boyolali

Tanpa bermaksud mendiskriminasi, Ari mengatakan untuk memberikan pengetahuan kepada anak disabilitas dan nondisabilitas berbeda. Untuk anak disabilitas, menurut Ari, membutuhkan pendekatan khusus.

“Latar belakang disabilitas kan mungkin berbeda dilihat dari sisi intelektual, tak hanya itu secara fisik kan juga ada perbedaan dengan anak nondisabilitas. Sehingga perlu ada pendekatan, metode, dan cara tersendiri juga menyesuaikan karakteristik anak disabilitas,” ungkapnya.

Kepala Puskesmas Selo, Yustina Nugraheti, mengatakan banyak kasus pelecehan seksual yang terjadi kepada penyandang disabilitas. Yustina juga menyoroti bahwa penyandang disabilitas memang membutuhkan pendampingan khusus.

“Banyak kasus pelecehan seksual yang terjadi pada disabilitas, namun mereka kurang pemahaman dan kurangnya kemandirian. Pengetahuan mereka tentang hal ini, antara disabilitas sangat berbeda dengan nondisabilitas. Kalau nondisabilitas mungkin lebih mudah memahami dari pembelajaran sekolah, kalau disabilitas perlu pendampingan ekstra. Di sini pentingnya peran guru fasilitator, orang tua, dan bidan desa,” kata Yustina dalam sambutan acara.

Baca juga: Bayar Rp5.500, Kebun Raya Indrokilo Boyolali Tetap Ramai Pengunjung

Ia berharap dengan adanya penyuluhan ini, maka orang terdekat penyandang disabilitas makin paham. Ia juga berharap ada tindak lanjut setelah penyuluhan terkait hak kesehatan seksual dan reproduksi untuk penyandang disabilitas.

“Harapannya dengan adanya penyuluhan ini, kami jadi semakin paham dan semakin tahu. Yang penting adalah tindak lanjutnya nanti setelah acara ini, semoga ini dapat berkelanjutan,” harap Yustina.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago