top ear

Puluhan karya ilustrasi cerita pendek yang menghiasi Harian Kompas 2011 dipamerkan di Balai Soejadmoko, Rabu (21/9/2011). (Solopos.com- Sunaryo Haryo Bayu)
  • SOLOPOS.COM
    Puluhan karya ilustrasi cerita pendek yang menghiasi Harian Kompas 2011 dipamerkan di Balai Soejadmoko, Rabu (21/9/2011). (Solopos.com- Sunaryo Haryo Bayu)

Nostalgia Bentara Budaya Solo Merawat Seni

Melewati lebih dari satu dekade, pengelolaan Balai Soedjatmoko oleh Bentara Budaya Solo sebagai kantong kebudayaan Kota Solo harus mandek.
Diterbitkan Sabtu, 6/03/2021 - 21:45 WIB
oleh Solopos.com/Ika Yuniati
4 menit baca

Solopos.com, SOLO — Melewati lebih dari satu dekade, pengelolaan Balai Soedjatmoko oleh Bentara Budaya Solo sebagai kantong kebudayaan strategis di pusat Kota Solo harus mandek. Kabar tersebut disambut haru sejumlah pegiat seni Solo yang disampaikan di laman media sosial mereka.

Penghentian aktivitas Bentara Budaya itu dilakukan seiring adanya penggabungan pengelolaan Bentara Budaya Solo di Bentara Budaya Yogyakarta. Padahal, sejumlah program Bentara Budaya di Balai Soedjatmoko turut andil merawat  seni dan kebudayaan di Kota Solo.

Maklum saja, sebelum pandemi, pelopor pemanfaatan ruang bukan pemerintah sebagai kantong kebudayaan ini rajin menggeber sejumlah program. Sebut saja pameran, pentas Keroncong Bale, Parkiran Jazz, Blues on Stage, Klenengan Selasa Legen, Macapatan, juga Diskusi Sastra.

Baca Juga: Landainya Kasus Covid-19 Bikin Tesla Makin Yakin Bikin Pabrik di India

Aneka perasaan yang membuncah ditumpahkan para pegiat kesenian di Solo melalui laman medsos mereka. Komunitas Diskusi Kecil Pawon lewat akun instagram mereka @Diskusikecilpawon misalnya.

Melalui tulisan yang diunggah Minggu (29/2/2021) lalu, Pawon menulis bahwa Balai Soedjatmoko diibaratkan seorang ibu. Diskusi Kecil Pawon tak akan berarti apa-apa tanpa mereka.

Koordinator Komunitas Sastra Pawon, Yudhi Herwibowo mengamininya. Bentara Budaya Solo telah membersamai mereka selama 11 tahun lamanya.

Baca Juga: Pabrik Mobil Listrik Tesla di India, Indonesia Kebagian Apa?

Sejumlah program penting lahir dari diskusi mereka di Balai Soedjatmoko. Salah satunya yakni program perayaan tiga buku. Acara di ruang utama Balai Soedjatmoko tersebut bertujuan mengapresiasi karya para penulis Solo.

Mereka mendatangi para penulis yang baru merilis karya lalu didiskusikan bersama. Seiring berjalannya waktu, lokus penulisnya berkembang hingga wilayah kota lain.

Yudhi kemudian mengingat kembali kali pertama ia dan rekan-rekan sesama pecinta sastra gelar acara di sana. Pada awal berdirinya Bentara Budaya Solo, Pawon diminta mengisi acara setiap bulan.

Baca Juga: 7 Tanaman Ini Kata Fengsui Datangkan Hoki ke Rumah

Setiap tahun selalu ada evaluasi acara. Misalnya pemilihan tema yang harus menjangkau semua usia, termasuk urusan backdrop untuk diskusi, hingga soal kudapan.

“Ingat banget dulu Pawon backdrop bikin sendiri, kecil banget karena kan modalnya sedikit. Tahun berikutnya Bentara Budaya bilang suruh ganti dan mereka yang membuatkan, dibuatkan gede banget. Hidangan makanan juga berubah misal dari gorengan aja, sampai ada gorengan di piringan di luar. Di tempat lain seperti snack, backdrop, kami mengusahakan sendiri. Kalau di bentara sudah diurusi kami sangat terbantu. Ya bakal kangen,” kenangnya, Senin (1/3/2021).

Perupa senior Solo Bonyong Munny Ardhie, Senin, juga merasa kehilangan. Meskipun ia yakin Bentara Budaya tetap berkomitmen turut mendukung pengembangan seni rupa di Solo setelah ini.

Baca Juga: 7 Tips Fengsui Lorong Rumah Ini Undang Energi Positif

Apalagi, tim Bentara Budaya Solo saat ini masih ada dan telah terbukti banyak membantunya maupun perupa lain selama 11 tahun terakhir. Sejumlah perupa ternama yang kemudian besar di Yogyakarta mengawali karirnya dengan pameran di Balai Soedjatmoko.

Bonyong menyebut mendiang Teddy, dan Anton Afganial yang merupakan jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Hal yang paling ia ingat dari Bentara Budaya Balai Soedjatmoko  adalah kepedulian mereka dengan memberikan galeri pameran gratis bagi para perupa.

Balai Soejadmoko, Bentara Budaya Solo
Balai Soejadmoko Bentara Budaya Solo. (Bentarabudaya.com)

Tetap Berkegiatan

Meskipun harus melalui kuratorial yang ketat. Namun dengan begitu para perupa justru ditantang untuk menggarap karya yang bagus sebelum dipamerkan.

Baca Juga: Ini 7 Tips Fengsui Rumah di Tahun Kerbau Logam 2021

“Kami tidak menutup wahana yang di sana sebagai aktivitas seni dan budaya karena timnya masih ada. Kita enggak bahas Bentara Budaya Solo, Bentara Budaya Yogyakarta, dan lainnya tapi Bentara Budaya yang punya tujuan mengembangkan dan menjaga  kebudayaan,” terang General Manager Bentara Budaya Kompas Gramedia, Fitricia Juanita, saat diwawancara, Senin sore. Meski tak lagi bermarkas di Balai Soedjatmoko, kegiatan kesenian Bentara Budaya di Solo bakal tetap ada.

Pasca pandemi nanti mereka membuka kesempatan kolaborasi dengan siapapun demi pengembangan seni dan kebudayaan di Kota Solo.

Lokasinya justru tak terbatas di kompleks Toko Buku (TB) Gramedia Solo, tapi bisa di mana pun. Namun alur perizinannya melalui Bentara Budaya Yogyakarta.

Baca Juga: 4 Zodiak Ini Kata Astrologi Sulit Percayai Orang Lain

Saat ini mereka fokus pada kegiatan digital. Program-program diskusi dan pengembangan kebudayaan dilakukan secara daring. Kalau sebelumnya kegiatan hanya mencakup Jawa, dan Bali, kini bisa merangkul wilayah yang lebih luas.

Pengembangan tersebut dilakukan seiring dengan adanya era disrupsi digital. Mereka aktif menggarap konten digital mulai dari diskusi via media sosial hingga webinar. Harapannya komitmen merawat dan mengembangkan kebudayaan bisa lebih luas lagi.

Fitricia menambahkan bahwa mereka juga bakal mengembangkan website dengan mode bilingual ke Bahasa Inggris sehingga jangkauan apresiasi seni Indonesia  sampai ke luar negeri.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos


Editor : Profile Rahmat Wibisono
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terpopuler

Iklan Baris

berita terkini


Cek Berita Lainnya