top ear
Djoko Subinarto (Istimewa/Dokumen pribadi)
  • SOLOPOS.COM
    Djoko Subinarto (Istimewa/Dokumen pribadi)

Nobel Sastra dan Anak Terbuang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 7 November 2020. Esai ini karya Djoko Subinarto, kolumnis dan bloger.
Diterbitkan Jumat, 20/11/2020 - 20:29 WIB
oleh Solopos.com/Djoko Subinarto
4 menit baca

Solopos.com, SOLO -- The decline of literature indicates the decline of a nation (Goethe). Sastra memiliki peran penting dalam pembangunan dan kemajuan suatu bangsa. Tinggi atau rendahnya peradaban suatu bangsa ikut ditentukan antara lain lewat kualitas produk-produk sastra.

Setiap tahun penghargaan Nobel dianugerahkan kepada mereka yang dianggap memiliki kontribusi luar biasa bagi masyarakat dan kemanusiaan untuk bidang-bidang ekonomi, fisika, kedokteran, fisika, perdamaian serta--tidak ketinggalan--sastra.

Tahun ini Nobel Sastra (Nobelpriset i Litteratur) diberikan kepada penyair Amerika Serikat (AS), Louise Elisabeth Glück, 77. Glück menjadi perempuan ke-16 yang menerima Nobel sejak penghargaan bergengsi ini diberikan kali pertama pada 1901.

Debut Glück di jagat sastra dimulai pada 1968 lewat buku kumpulan puisi bertajuk Firstborn. Sejak itu dia dianggap sebagai salah seorang penyair penting dalam sejarah sastra kontemporer AS.

Menurut Akademi Swedia (Svenska Akademien), yang memutuskan siapa saja yang berhak menerima penghargaan Nobel dalam bidang sastra, puisi-puisi Glück memancarkan keindahan dan kesederhanaan serta menunjukkan keberadaan manusia sebagai sesuatu yang universal.

Sejarah pemberian penghargaan Nobel berawal dari selembar surat wasiat yang ditulis Alfred Nobel. Nobel adalah seorang industrialis Swedia dan juga seorang penemu dinamit. Ia membuat surat wasiat itu di Swedish-Norwegian Club di Paris, Prancis, pada 27 November 1895.

Latar belakang pembuatan surat wasiat tersebut adalah Nobel kecewa berat menyaksikan hasil penemuannya justru kerap dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan yang merusak. Ia menginginkan ada penghargaan yang rutin diberikan setiap tahun untuk mereka yang memiliki jasa-jasa besar bagi kemanusiaan.

Sampai tahun 1967 penghargaan Nobel hanya diberikan untuk lima bidang. Lima bidang itu adalah fisika (diputuskan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia), kimia (diputuskan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia), kedokteran (diputuskan oleh Institut Karolinska), sastra (diputuskan oleh Akademi Swedia), serta bidang perdamaian (diputuskan oleh sebuah komite khusus yang ditunjuk oleh Norwegian Storting).

Baru pada tahun 1968 penghargaan untuk bidang ekonomi juga diberikan. Inisiator pemberian Nobel bagi bidang ekonomi adalah Bank Swedia (Sveriges Riksbank). Lembaga yang bertanggung jawab memutuskan kepada siapa penghargaan Nobel bidang ekonomi layak diberikan adalah Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia.

Secara tradisi pemenang Nobel diumumkan setiap Oktober dan November. Adapun proses seleksi dimulai pada awal musim gugur tahun sebelumnya tatkala lembaga pemberi hadiah mengundang lebih dari 6.000 individu untuk mengusulkan atau menominasikan siapa saja calon penerima Nobel.

Rata-rata jumlah mereka yang dinominasikan untuk meraih Nobel antara 100 orang hingga 250 orang setiap tahun. Yang menominasikan antara lain adalah mereka yang pernah meraih Nobel, anggota lembaga pemberi hadiah itu sendiri; sarjana aktif di bidang fisika, kimia, ekonomi, kedokteran serta sastra; pejabat dan anggota dari berbagai universitas dan akademi.

Yang menominasikan harus memberikan proposal tertulis yang memerinci kelayakan kandidat yang mereka ajukan. Pengajuan proposal untuk pemberian Nobel harus diserahkan kepada panitia Nobel sebelum tanggal 31 Januari pada tahun penghargaan diberikan.

Sama Penting

Dimasukkannya bidang sastra dalam penganugerahan Nobel tentu saja menggarisbawahi bahwa sastra sama pentingnya dengan bidang-bidang kehidupan lainnya. Pendidikan dan pembangunan sastra memang sudah semestinya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan dan pembangunan sebuah bangsa.

Pertanyaannya bagi kita di sini adalah masihkah bangsa dan negeri ini memberi perhatian secara sunguh-sungguh terhadap sastra dan juga para sastrawan? Sebagian besar dari kita mungkin akan menjawab dengan tegas: tidak.

Di negeri ini sastra sudah lama ditempatkan sebagai ”anak terbuang” sehingga jauh dari perhatian para penentu dan para pembuat kebijakan. Kita tentu saja boleh sangat iri dengan kondisi di negara-negara lain, bidang sastra sangat diperhatikan oleh pemerintahnya.

Sastra dikenalkan dan diajarkan kepada anak-anak sekolah sejak dini secara sungguh-sungguh. Pusat-pusat dokumentasi dan kegiatan sastra didirikan dengan sokongan dana pemerintah yang memadai. Para sastrawan mendapat tempat yang sama terhormatnya dengan profesi-profesi lainnya.

Mengingat sangat pentingnya sastra bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, di beberapa gedung parlemen sejumlah negara bahkan didirikan pula pusat-pusat dokumentasi sastra. Hal yang berbeda terjadi di sini. Sastra tampaknya bukanlah bidang yang dianggap terlalu penting oleh bangsa kita.

Lihat saja bagaimana sastra diajarkan secara sambil lalu di sekolah-sekolah kita. Akibatnya sastra cenderung dianggap sebagai sesuatu yang kurang berguna oleh sebagian besar anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini.

Lewat sastra inilah sebenarnya individu dididik untuk menjadi manusia seutuhnya, yang memiliki hati, perasaan, dan pikiran. Dalam hal ini sastra menjadi wahana untuk mengolah dan memperhalus hati, perasaan, serta pikiran sehingga, meminjam istilah Putu Wijaya, mampu mempertebal rasa kemanusiaan kita.

Dalam konteks pembangunan dan kemajuan, entah kenapa para pengelola negeri ini melihat pembangunan dan kemajuan bangsa selalu sebatas hal-hal fisik dan material belaka. Bisa jadi bagi sebagian besar pengelola negeri ini sastra sama sekali tidak ada kaitannya dengan pembangunan dan kemajuan bangsa.

Boleh jadi pula dalam kacamata mereka sastra itu hanya untuk mereka para pengkhayal. Ilmuwan masyhur Albert Einstein pernah dengan tegas menyatakan daya khayal itu jauh lebih penting ketimbang ilmu pengetahuan.

Sastra yang semakin dipinggirkan dari kehidupan bangsa ini dan pada gilirannya membawa dampak bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Lihatlah sebagian besar elemen bangsa ini telah kehilangan rasa kemanusiaan.

Sekarang ini keserakahan, kesewenang-wenangan, ketidakadilan, intoleransi, serta berbagai tragedi kemanusiaan lainnya kerap terjadi di negeri ini. Kita harus mengakui banyak orang pintar di negeri ini, namun realitasnya kepintaran mereka itu kerap malah menjadi faktor yang ikut merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kenapa ini bisa terjadi? Salah satu akar penyebabnya adalah pendidikan di negeri ini sejauh ini hanya diarahkan untuk melahirkan orang-orang pintar, cerdas, serta kompetitif namun justru kehilangan rasa kemanusiaan sehingga akhirnya malah membahayakan kemanusiaan itu sendiri.

Sayangnya, sastra yang--sebagaimana disebutkan di muka--sesungguhnya bisa menjadi sarana untuk mempertebal rasa kemanusiaan justru cenderung dinilai kurang berguna bagi pembangunan bangsa dan negara ini.

 


Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini