Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Nisan Sejarah Taman Siswa

Kabar sekolah dasar negeri yang tidak mendapatkan murid baru menunjukkan jurang nyata antara masyarakat kaya dan masyarakat miskin.
SHARE
Nisan Sejarah Taman Siswa
SOLOPOS.COM - Arif Yudistira (Solopos/Istimewa)

Solopos.com, SOLO — Seorang kawan yang kebetulan guru di perguruan Muhammadiyah menulis di laman media sosialnya. “Mengapa tidak tanggal lahir Kiai Dahlan yang dijadikan sebagai hari pendidikan nasional? Kan sekolah Muhammadiyah masih ada. Sementara sekolah Taman Siswa sudah bubar dan tidak kelihatan lagi sekolahnya.”

Perguruan Taman Siswa sejatinya masih ada. Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa pun masih ada. Jejak Taman Siswa tidak bisa dimungkiri ada dalam dunia pendidikan kita. Jejak itu tidak hanya ada dalam semboyan atau logo di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

PromosiNimo Highland, Wisata Hits di Bandung yang Mirip Santorini Yunani

Jejak salah satu lembaga perintis pendidikan modern Indonesia itu juga ada dalam buku sejarah dan artefak Taman Siswa. Arsip dan dokumen Taman Siswa bisa kita telusuri di Belanda, di Perpustakaan Nasional (Perpusnas), serta arsip nasional Republik Indonesia. Pertanyaannya, mengapa Taman Siswa menjadi semakin redup dan menghilang gaungnya?.

Fenomena hilangnya pemikiran dan jejak Ki Hajar Dewantara tidaklah sederhana. Peran dan jasa Ki Hajar Dewantara seolah disempitkan dan diletakkan dalam laci sejarah.

Ki Hajar merupakan pejuang kemerdekaan, tokoh politik yang andal, serta guru dalam arti luas yang mendidik para tokoh nasional serta pejuang bangsa yang gigih. Soekarno dalam pidato pemberian gelar kehormatan kepada Ki Hajar Dewantara juga mengatakan bahwa sosok tersebut adalah gurunya.

Keberanian, mentalitas sebagai pejuang, serta pemikirannya dalam dunia pendidikan amatlah layak kita teladani. Ada tiga prinsip dalam pendidikan Taman Siswa yang patut diadopsi oleh para pelaku dunia pendidikan di Indonesia hingga saat ini, yakni mentalitas merdeka, mentalitas kemandirian, dan mentalitas kebudayaan. Ketiganya meresap ke dalam tubuh Taman Siswa.

Bila banyak orang bertanya, apa pembeda atau ciri sekolah Taman Siswa? Maka tiga mentalitas itulah jawabannya. Ki Hajar adalah sosok yang kuat pendirian yang tidak kenal kompromi dalam mempertahankan prinsip “kemerdekaan” dalam pendidikan.

Selain menolak ordonansi sekolah liar, Ki Hajar juga menolak bantuan pemerintah Indonesia saat itu. Sikap itu mengakibatkan kemerosotan dan kejatuhan Taman Siswa pada akhir era 1950-an. Ini adalah konsekuensi sikap Taman Siswa yang tidak mau berhenti melibatkan masyarakat dan senantiasa hidup dalam alam serta jiwa rakyat.

Ki Hajar Dewantara adalah orang yang tidak mau berkompromi soal urusan “kemandirian” dalam pendidikan. Kemandirian ini tidak hanya pada lembaga pendidikan yang dikelolanya, tetapi juga diajarkan kepada murid-muridnya untuk membangun mentalitas yang kuat sebagai bekal mereka.

Aspek yang tidak kalah penting dalam pendidikan di Taman Siswa adalah perhatian kepada aspek kebudayaan. Ki Hajar Dewantara adalah orang yang dididik, dibesarkan, dan digembleng dalam urusan kebudayaan. Dia adalah pejuang yang juga lahir dari rahim keraton yang tidak melepaskan aspek kebudayaan dalam kehidupan dan kesehariannya. Tidak heran, metode Sariswara menjadi andalan di sekolah Taman Siswa yang tidak melupakan aspek kebudayaan dalam pendidikan.

Berdasarkan keterangan di laman Labsariswara, Sariswara merupakan metode mendidik anak melalui kesenian untuk membiasakan segala keindahan dan kehalusan dengan menggabungkan pengalaman semua indra yang ada, baik melalui pendengaran, penglihatan, gerakan fisik, dan juga perasaan (cipta-rasa-karsa). Metode ini juga menggabungkan semua itu dalam satu bingkai cerita yang melekat erat pada diri seorang anak hingga menjadi dewasa.

Ditinggalkan

Pendidikan kita saat ini pelan-pelan memiliki andil menghapus jejak pemikiran Ki Hajar Dewantara. Aspek kemandirian adalah salah satu contohnya. Kita menjadi tidak mandiri dengan adanya dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Pendanaan pendidikan kita belum bisa sepenuhnya mandiri.
Utang untuk pendanaan lembaga pendidikan mengakibatkan kita tidak independen dalam merumuskan kebijakan. Alhasil, arah pendidikan kita menyesuaikan kemauan lembaga donor atau funding. Independensi pendidikan yang menyentuh persoalan di lapangan sering berbeda jauh dari realita. Jurang antara konsep dan pelaksanaan kian menganga.

Contoh kedua adalah aspek kemandirian dan kemerdekaan kebijakan. Pendidikan kita menjadi semakin liberal dengan liberalisasi di tingkat perguruan tinggi hingga tingkat terendah. Pemerintah seolah lepas tangan dan membiarkan pendidikan berada pada mekanisme pasar. Kabar sekolah dasar negeri yang tidak mendapatkan murid baru menunjukkan jurang nyata antara masyarakat kaya dan masyarakat miskin. Yang kaya bersekolah di swasta, sementara yang miskin bersekolah di lembaga pendidikan negeri.

Saat ini, konsep pendidikan berkebudayaan cenderung dihilangkan. Pelajaran seni-budaya semakin terpinggirkan. Kalau tidak menghapusnya, banyak sekolah mengurangi porsi jam belajar kesenian demi mata pelajaran lain seperti matematika dan sains. Ada anggapan bahwa pelajaran kesenian adalah pelajaran yang kurang penting. Ini pernah dikritik oleh Haidar Bagir (2021) dalam bukunya Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia.

Efeknya, kepedulian terhadap pelajaran dan kesenian daerah menjadi hilang. Ini kontras dengan prinsip Taman Siswa yang begitu kokoh dan gigih membawa kesenian ke tingkat internasional pada masanya.

Realitas pendidikan yang makin menjauh dari prinsip yang diajarkan Ki Hajar Dewantara semakin mengubur sejarah Taman Siswa dalam dunia pendidikan. Akibatnya, prinsip Ki Hajar Dewantara dalam dunia pendidikan ibarat nisan alias sekadar jargon semata. Sementara ruhnya telah hilang entah di mana.
Seabad Taman Siswa menjadi momen untuk melakukan refleksi bagi dunia pendidikan nasional. Bagaimana Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa sejatinya telah menanamkan konsep pendidikan yang merdeka, mandiri, dan berkebudayaan, lalu sejauh mana sistem pendidikan nasional kita memelihara ruh tersebut.

Esai ini ditulis Arif Yudistira, peminat dunia pendidikan dan anak, pengasuh SD Muhammadiyah MBS Yogyakarta.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode