top ear
Agus Kristiyanto (Istimewa/Dokumen pribadi)
  • SOLOPOS.COM
    Agus Kristiyanto (Istimewa/Dokumen pribadi)

New Normal Keolahragaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (23/6/2020). Esai ini karya Agus Kristiyanto, guru besar analisis kebijakan pembangunan olahraga di Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah aguskriss@yahoo.co.id.
Diterbitkan Sabtu, 27/06/2020 - 20:38 WIB
oleh Solopos.com/Agus Kristiyanto
6 menit baca

Solopos.com, SOLO — Kebijakan pranata kehidupan baru (the new normal) di tengah pandemi Covid-19 masih menjadi perdebatan sengit di berbagai kalangan pada saat grafik penularan virus corona memang masih fluktuatif. Kebijakan ”berdamai dengan corona” tampak secara serius diterapkan pemerintah mulai awal Juni 2020 ini.

Jargon ”bersama melawan corona” tetap berlangsung tetapi disandingkan dengan kemasan baru, yakni skenario ”berdamai dengan corona”. Aktivitas sosial, budaya, dan perekonomian diupayakan mulai dibuka secara bertahap dan perlahan dengan tetap memerhatikan protokol kesehatan yang dirumuskan Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO).

Menggunakan masker, sering mencuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir, menjaga jarak aman antarindividu (physical distancing), serta menghindari kontak-kontak secara fisik dalam berinteraksi. Skenario menuju the new normal tersebut sudah mulai disosialisasikan melalui media massa ke dalam beberapa fase.

Sebagaimana telah diberitakan di Halaman Solopos edisi Selasa, 19 Mei 2020, setidaknya ada  lima fase program menuju kehidupan normal baru (the new normal) yang direncanakan pemerintah. Fase pertama dimulai pada sepanjang pekan pertama Juni berikut dengan kisi-kisi pengaturan perilaku publik yang berbasis pada protokol kesehatan WHO.

Pada pekan kedua dan seterusnya penerapan skenario secara progresif dan berakhir pada tahap evaluasi pada akhir Juli 2020. Salah satu yang secara eksplisit diatur dalam kisi-kisi perilaku publik dalam fase-fase new normal tersebut adalah aktivitas olahraga publik.

Pada fase pertama publik dilarang melakukan aktivitas olahraga di ruang terbuka (outdoor) dengan berkumpul lebih dari dua orang. Disarankan aktivitas olahraga tetap berlangsung di dalam ruangan (indoor) dengan maksimal dua orang dalam satu ruang. Fase-fase berikutnya agak sedikit longgar dan kemudian dievaluasi pada fase kelima.

Wilayah keolahragaan sebenarnya merupakan sesuatu yang berspektrum luas, terkait dengan interaksi secara fisik, mental, dan sosial. Olahraga mencakup pengaturan berbagai fungsi aktivitas personal dan kolektif dalam dimensi tunggal maupun jamak.

Menuju era baru pranata kehidupan keolahragaan menjadi sesuatu yang sangat kompleks karena keolahragaan berada di lini depan risiko pengabaian physical distancing maupun social distancing. Artinya, terdapat ancaman sekaligus peluang jika keolahragaan dipersilakan melalui pintu keluar menuju new normal.

Ancaman

Ancaman pandemi Covid-19 bagi keolahragaan dapat diuraikan dengan menggunakan pisau analisis secara terpisah, yakni pada ranah olahraga prestasi, olahraga pendidikan, dan olahraga rekreasi atau olahraga masyarakat.

Pertama, dalam olahraga prestasi domestik keolahragaan, pemerintah secara tegas telah mengambil sikap menunda pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) yang sedianya diselenggarakan di Papua pada awal September 2020.

Berdasarkan kalkulasi secara simultan dan progresif, pemerintah menyatakan PON wajib ditunda karena pertimbangan keselamatan bersama. Keselamatan bersama menjadi pertimbangan utama dibandingkan mengejar tujuan-tujuan positif lain yang dicapai melalui multi-event olahraga.

Hal tersebut juga merupakan nilai event global keolahragaan di ranah olahraga prestasi. Berbagai single event maupun multi-event olahraga pada tingkat kawasan, regional, internasional juga ditunda pelaksanaannya karena alasan yang sama.

Kedua, dalam ranah olahraga pendidikan, program pendidikan jasmani merupakan mata pelajaran yang sangat terdampak oleh ancaman Covid-19. Jika kelas mata pelajaran yang lain relatif statis tentang posisio tempat duduk, dalam kelas praktik pendidikan jasmani posisi peserta didik sangat dinamis dalam aktivitas fisik.

Dalam melakukan tugas gerak, mereka harus berpindah tempat, berbagi alat/media, bersentuhan dengan teman yang secara absolut mustahil dapat diatur dengan prinsip physical distancing. Pada saat pemerintah menganjurkan untuk stay at home, work from home, dan study at home, para peserta didik dituntut kreatif melakukan aktivitas pembelajaran daring (online) yang dipandu oleh fungsi instruksional guru.

Interaksi antara guru pendidikan jasmani dan aktivitas peserta didik cenderung tidak akan berlangsung secara memadai. Untuk mengembangkan kompetensi di ranah pengetahuan relatif tidak terkendala, tetapi untuk aktivitas yang berupa physical exercise, kendatipun bisa menggunakan pilihan tools audio-video, pasti kualitas tugasnya cenderung tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Ketiga, dalam ranah olahraga rekreasi atau olahraga masyarakat, belajar dari situasi pandemi yang telah berlangsung selama lebih dua bulan, tampaknya justru tidak ada kendala berarti. Olahraga rekreasi adalah olahraga yang dilakukan pada waktu luang.

Pada saat masyarakat lebih banyak harus ”tiarap” di dalam rumah, mereka otomatis memiliki waktu luang yang berlimpah. Mengacu pada ekspresi netizen yanga diunggah di berbagai media sosial, seperti Facebook, Instagram, Whatsapp, dan lain-lain, tampak jelas mereka justru sangat produktif-kreatif mengembangkan aktivitas olahraga rekreasi di rumah.

Dibandingkan olahraga prestasi dan olahraga pendidikan, olahraga rekreasi cenderung tidak rentan dari ancaman pandemi Covid-19. Olahraga yang dilakukan untuk rekreasi dan memelihara kebugaran justru menjadi pilihan aktivitas menjaga imunitas diri dan keluarga.

Mereka memiliki dorongan secara alamiah untuk menjadikan olahraga sebagai instrumen menghibur diri dalam suasana ”terpingit” di dalam rumah. Mewujudkan keseimbangan fisik dan mental melalui olahraga-olahraga ringan yang menyenangkan.

Dalam skenario the new normal yang kini mulai diterapkan pemerintah, tampakanya fase-fase tersebut baru sebatas mengatur tentang perilaku publik dalam ranah olahraga rekreasi. Esensi skenario menggeser olahraga yang awalnya hanya boleh dilakukan indoor menuju pada aktivitas outdoor. Dari aktivitas yang hanya boleh maksimal dua orang hingga memberi toleransi boleh untuk 10 orang.

Tantangan

Dalam sebuah acara webinar internasional yang terselenggara beberapa pekan yang lalu, Profesor Chandra Cahyadi dari Eastern Illinois University, Amerika Serikat, menyampaikan sebuah kutipan bahwa setiap krisis seperti sebuah neraca atau timbangan.

Satu sisi merupakan ancaman bahaya, tetapi di sisi lain merupakan peluang atau tantangan. Seperti itulah, di balik ancaman pandemi Covid-19 yang melahirkan kebijakan new normal, tentu tersedia tantangan atau peluang bagi keolahragaan. Tantangan dan peluang ini merupakan sisi terang kehidupan untuk beradaptasi dengan keadaan.

Kemampuan beradaptasi konon merupakan kemampuan dasar yang dimiliki oleh manusia. Sejak dulu kehidupan manusia selalu diterpa ancaman pandemi global. Manusia tetap eksis karena berhasil beradaptasi dengan keadaan.

Filosofi seperti inilah yang tampaknya menjadi pintu keluar yang dipilih untuk memilih ”berdamai dengan Covid-19” yang merupakn fungsi DNA dari the new normal. Pertama, pembinaan dan pengembangan olahraga prestasi dibangun dengan mindset baru dan keterampilan baru.

Mindset baru berhubungan dengan lebih mengedepankan bahwa iklim kompetisi olahraga merupakan kepanjangan tangan gerakan olimpiade modern yang lebih membangun soft skill semangat kompetisi,  seperti semangat citius (lebih cepat), altius (lebih tinggi), dan fortius (lebih kuat), diasimilasikan dengan olympic values, seperti friendship (persahabatan), excellence (berkeunggulan), dan respect (rasa hormat).

Hal tersebut dianggap mindset baru karena itu adalah nilai-nilai dasar yang selama periode normal yang lalu telah tergeser menjadi ajang pesta untuk sekadar berebut peringkat dan jumlah medali, serta ekses fenomena pencarian bonus bagai sayembara di dalam dongeng.

Keterampilan baru, berkaitan dengan mengejar ketertinggalan penguasaan teknologi generasi baru yang memberi keniscayaan disrupsi teknologi olahraga yang harus ”menguapkan” hiruk pikuk aksesori yang tak diperlukan dalam pembinaan dan pengembangan.

Kedua, pendidikan jasmani tertantang untuk dikemas secara proaktif mengikuti arah kebijakan nasional pendidikan yang berupa merdeka belajar. The new normal bagi pendidikan jasmani artinya lebih bersifat bebas-produktif-kreatif, yakni menjadi aksi merdeka belajar tentang olahraga, merdeka belajar dari olahraga, merdeka belajar melalui olahraga, dan merdeka belajar untuk olahraga.

Ketiga, olahraga rekreasi dalam era new normal memiliki fungsi yang semakin diandalkan pada saat kebutuhan imunitas tubuh, ketahan mental, serta relasi sosial harus dipertahankan bahkan ditingkatkan dalam situasi pandemi yang tidak jelas masa berakhirnya.

Formula olahraga rekreasi sangat berpotensi untuk dikembangkan dalam bentuk aneka festival yang berpadu dengan aktivitas budaya dan pariwisata secara online. Meminimalkan ancaman dan memaksimalkan peluang pada era new normal keolahragaan menjadi aktivitas special interest daya kreasi masyarakat atau komunitas.

Keberhasilannya mewujud efektif jika dimampukan dan didukung oleh kewajiban-kewajiban serius pemerintah dalam pembangunan olahraga yang ”berdamai dengan Covid-19” berikut syarat dan garansi yang harus dipenuhi.


Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini