[x] close
top ear
Nasi berkat Wonogiri (Istimewa)
  • SOLOPOS.COM
    Nasi berkat Wonogiri (Istimewa)

Nasi Berkat Wonogiri Kian Populer, Dulu Hanya Ada Saat Hajatan Kini Bisa Dibeli Setiap Hari

Nasi berkat Wonogiri kini bisa didapatkan tanpa adanya hajatan.
Diterbitkan Senin, 3/08/2020 - 23:15 WIB
oleh Solopos.com/Aris Munandar
2 menit baca

Solopos.com,WONOGIRI -- Keberadaan nasi berkat yang saat ini tengah populer di kalangan masyarakat sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Perbedaanya terletak pada ketersediaan nasi berkat.

Jika dulu hanya bisa ditemui saat ada orang mempunyai hajat atau syukuran, kini bisa didapatkan setiap hari. Karena saat ini banyak pedagang yang menjual.

Hal iti diungkapkan oleh salah satu penjual nasi berkat asal Kecamatan Batutetno, Wonogiri, Bambang Tri Warsito, saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Batu Tengah RT 001/RW 010, Desa Baturetno, Baturetno, Minggu (2/8/2020).

Setiap malam ia berjualan nasi berkat di angkringan miliknya di sebelah utara Balai Desa Baturetno. Selain itu ia juga menerima pesanan dari masyarakat. Ia mengatakan, sejak ia masih kecil sekitar 1970-an, nasi berkat sudah ada.

Punya Penyakit Autoimun? Ini Daftar Makanan yang Wajib Dikonsumsi & Dihindari

Bahkan saat itu menjadi makanan yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak ketika orang tua pulang dari orang yang mempunyai hajatan."Dulu makan dengan teman itu segar sekali. Apalagi bungkusnya daun jati," kata Tri.

Ia mengatakan, komposisi nasi berkat di Baturetno terdiri dari nasi putih, serundeng, oseng cabai tempe, bihun dan semur daging.

Penjual nasi berkat juga ditemui di beberapa warung di Kecamatan Pracimantoro. Namun mempunyai ciri khas berbeda. Hal itu diungkapkan oleh Camat Pracimantoro, Warsito, saat dihubungi Solopos.com, Senin (3/8/2020).

"Nasi berkat di Pracimantoro tidak ada serundengnya. Selain itu oseng-osengnya terbuat dari cabai dan kentang atau istilahnya sambel goreng," kata dia.

Sejarah

Dosen Prodi Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Heri Priyatmoko, mengatakan dalam catatan sejarah yang tertuang dalam Serat Centhini (1814-1823), sudah mengisahkan adanya nasi berkat.

Heri menjelaskan, jika sudah ada pada tahun itu, berarti keberadaannya nasi bekat sudah ada sejak dua abad lalu. Pada zaman dahulu, nasi berkat ada di setiap acara syukuran, selametan atau acara keramaian dan perayaan.

"Nasi berkat sebenarnya tidak terbiasa ada di warung. Tetapi keberadaanya berada di acara kegembiraan. Jadi buka makanan keseharian," kata dia saat dihubungi Solopos.com, Senin (3/8/2020).

Secara terminologi, menurut dia, berkat berarti sudah didoakan. Jadi nasi berkat merupakan nasi yang sudah didoakan. Maka keberadaanya berada di acara-acara syukuran dan hajatan. Di mana setiap acara tersebut selalu diawali dengan acara doa.

Sudah Pendadaran, 3.700 Siswa Siap Dikukuhkan Jadi Warga PSHT Sragen

Ia mengatakan, berdasarkan sejarah komposisi nasi berkat dari zaman dahulu hingga sekarang masih tetap sama. Keberadaan nasi berkat yang saat ini mudah didapatkan, lanjut dia, menandakan bahwa sego berkat merupakan kreativitas tradisional yang membuat orang mempunyai ikatan emosional terhadap sejarah.

Saat pandemi ini, nasi berkat mampu menangkap peluang tentang kerinduan para perantau. Kini perantau bisa menikmati nasi berkat tanpa harus pulang kampung.

"Nasi berkat beda dengan nasi tiwul. Kalau tiwul bisa dinikmati setiap hari. Jadi orang bisa bernostalgia saat di kampung halaman dulunya. Selain itu juga menunjukkan identitas sebagai warga Womogiri," kata Heri.


Editor : Profile Ahmad Baihaqi
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini