Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

NARKOBA DI LAPAS : Lempar Narkoba ke Lapas Sambil Pura-Pura Cari Rumput

SHARE
NARKOBA DI LAPAS : Lempar Narkoba ke Lapas Sambil Pura-Pura Cari Rumput
SOLOPOS.COM - Ilustrasi (JIBI/Antara)

Harianjogja.com, SLEMAN – Peredaran narkoba di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika II A Pakem, Sleman terungkap.

Titik luar Lapas yang menjadi lokasi favorit para pelaku pelemparan narkoba yakni di area sebelah timur dan utara Lapas Narkotika. Di sebelah timur dan utara lapas merupakan lahan kosong yang dipenuhi semak belukar.

PromosiRekomendasi Merek Jeans Terbaik Pria & Wanita, Murah Banget!

Dari lokasi inilah seorang tersangka penyelundup narkoba ke Lapas melancarkan aksinya dengan berpura-pura sebagai pencari rumput.

Salahsatu pelempar narkoba, Novianto, mengatakan biasanya ia melakukan pelemparan dari timur dan utara Lapas Pakem. Agar tidak mencurigakan ia menyaru dengan berpura-pura seperti layaknya petani mencari rumput di dekat Lapas. Jika sudah ada kesempatan maka dilemparkanlah bola tenis berisi narkoba ke dalam Lapas Pakem.

“Biasanya membawa tali, pura-pura cari rumput,” ungkap Novianto di Mapolres Sleman, Senin (22/9/2014).

Untuk memuluskan aksi pelemparan, Novianto biasanya mengajak seorang teman dengan menggunakan satu sepeda motor. Dua rekannya yang ikut membantu melakukan pelemparan yakni Rahmad Edi alias Kancil, 22, dan DD, 17, pelajar di bawah umur yang juga ditangkap Satresnarkoba Polres Sleman.

Keduanya secara bergantian menemani Novianto. Eksekusi pelemparan narkoba ke dalam Lapas dilakukan sendiri sedangkan satu rekannya bertindak mengawasi area sekitar Lapas.

“Biasanya bergantian, saya yang melempar terus teman yang mengawasi. Kalau sudah sepi langsung lempar ke dalam,” imbuh warga Ambarukmo, Caturtunggal, Depok, Sleman ini.

Serupa dengan tersangka pelempar sebelumnya yang ditangkap, Novianto pun tidak menampik bahwa keberadaan tiang penangkal petir di dalam Lapas menjadi titik ukuran pelemparan. Menurut dia, selama melakukan pelemparan sejak bulan Juli 2014 selalu berhasil.

Setiap sekali lemparan atau satu bola isi narkoba, ia mendapatkan upah Rp100.000. Kemudian dibagi dengan temannya yang membantu. “Kadang bawa dua, kadang tiga [bola], sesuai sms [operator],” ungkapnya.

Ia mengaku terpaksa menjadi pelempar narkoba karena pekerjaannya sebagai buruh serabutan tidak menentu hasilnya. Novianto enggan memberitahukan siapa pemasok narkoba.

Menurutnya komunikasi hanya dilakukan melalui pesan singkat dan tidak pernah bertemu. Bahkan tawaran menjadi pelempar diakuinya didapatkan melalui pesan singkat kemudian ia menyetujuinya.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode