Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Nama 8 Siswa di Sragen Tiba-Tiba Menghilang, Sekolah Lapor ke Provinsi

Nama delapan calon siswa SMAN 1 Gondang Sragen mendadak hilang dari daftar PPDB 2022 sekolah tersebut. Diduga ada orang yang membatalkan pendaftaran delapan siswa tersebut.
SHARE
Nama 8 Siswa di Sragen Tiba-Tiba Menghilang, Sekolah Lapor ke Provinsi
SOLOPOS.COM - Salah satu orang tua calon siswa asal Bumiaji, Gondang, Sragen, menunjukkan bukti riwayat akun anaknya yang diperoleh dari SMAN 1 Gondang, Sragen, Senin (4/7/2022). (Solopos.com/Tri Rahayu Salah satu orang tua calon siswa asal Bumiaji, Gondang, Sragen, menunjukkan bukti riwayat akun anaknya yang diperoleh dari SMAN 1 Gondang, Sragen, Senin (4/7/2022).)

Solopos.com, SRAGEN — Delapan nama calon siswa SMAN 1 Gondang, Sragen, mendadak menghilang menjelang penutupan pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2022, Jumat (1/7/2022) sekitar pukul 16.00 WIB.

Panitia PPDB SMAN 1 Gondang langsung meresponsnya dengan melaporkan kasus itu secara  lisan dan tertulis ke Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Wilayah VI Provinsi Jawa Tengah supaya segera diambil kebijakan, Senin (4/7/2022).

PromosiRekomendasi Merek Jeans Terbaik Pria & Wanita, Murah Banget!

Kepala SMAN 1 Gondang, Singgih Santosa, menjelaskan hilangnya delapan nama itu berawal dari adanya aduan orang tua calon siswa yang masuk dalam daftar jalur zonasi pada Jumat lalu pukul 16.00 WIB. Sebelumnya nama-nama itu ada, tetapi sekitar pukul 16.00 WIB tahu-tahu hilang dari daftar jalur zonasi.

“Ada nama-nama mereka yang masuk ke SMA di Sambungmacan dan ada yang tidak mendapat sekolah, serta ada yang masuk jalur prestasi. Mereka mengadu ke sekolah karena orang tua dan calon siswa tidak merasa mendaftar ke sekolah lain dan dari panitia PPDB juga tidak mengetahui,” ujarnya saat ditemui wartawan.

Baca Juga: Akun Calon Siswa SMAN 1 Gondang Sragen Dibajak, Kok Bisa?

Singgih menduga ada orang yang menyalahgunakan akun calon siswa itu. Ia ingin agar kasus ini diusut tuntas agar tak terulang.

Ketua Tim Panitia PPDB SMAN 1 Gondang, Hartono, mengungkapkan kasus ini terungkap awalnya dari ada calon siswa mendaftar secara online ke SMAN 1 Gondang. Ada calon siswa yang jaraknya dekat sehingga optimistis diterima lewat jalur zonasi.

Mereka ada yang di urutan 100-an dan ada yang di bawah nomor 100, sambungnya, secara prosedur sudah pasti diterima.

“Tiba-tiba menjelang penutupan pendaftaran, delapan nama itu hilang. Setelah pendaftaran ditutup mereka terdeteksi berada di sekolah lain. Mereka mengadu ke sekolah. Kami menelusuri aduan itu dengan berkoordinasi dengan panitia di Provinsi Jateng,” katanya.

Baca Juga: Simak! Begini Cara Akses Pengumuman Hasil PPDB Jateng 2022

Ada yang Batalkan Pendaftaran

Panitia PPDB di Provinsi Jateng, sambung Hartono, mengidentifikasi adanya riwayat akun calon siswa melakukan pembatalan. Akun para calon siswa yang mendaftar pada Rabu (29/6/2022) dan pada Jumat (1/7/2022) di atas pukul 14.00 WIB itu, teridentifikasi membatalkan pendaftaran di SMAN 1 Gondang dan mendaftar di SMAN Sambungmacan.

“Secara sistem sistem otomatis nama mereka hilang dari daftar di SMAN 1 Gondang. Masalahnya, para calon siswa itu merasa tidak melakukan pembatalan dan tidak mendaftar ke SMAN lain. Kesimpulan sementara, bisa jadi ada orang lain selain siswa yang menyalahgunakan akun calon siswa itu,” ujarnya.

Hartono menjelaskan akun yang dimiliki para calon siswa bersifat rahasia berdasarkan nomor induk siswa nasional (NISN). Akun itu dilengkapi nomor registrasi dan kata sandi atau password untuk menjaga kerahasiaan.

Baca Juga: SMP Negeri di Klaten Ini Tak Terapkan Zonasi tapi Masih Kurang Siswa

Panita PPDB sudah menyarankan calon peserta agar mengubah password. Hartono tidak tahu apakah delapan siswa yang hilang namanya ini telah mengubah password atau tidak. Kalau password tidak diubah, ujar dia, selain yang calon siswa bersangkutan, panitia juga mengetahui kodenya.

Hartono mengatakan panitia PPDB terdiri atas delapan orang. Mereka sudah menandatangani pakta integritas untuk tidak melakukan hal melanggar aturan selama menjadi panitia PPDB. Panitia PPDB juga, lanjut Hartono, baru tahu adanya kasus itu setelah ada aduan.

“Calon siswa yang mendaftar itu ada 400-an orang dan kuotanya hanya 324 orang sehingga tidak mungkim mampu mengawasi satu per satu. Kasus ini tidak hanya merugikan delapan siswa tetapi juga merugikan sekolah karena orang luar berpikirnya panitia macam-macam. Kami berharap pelakunya bisa dijerat dengan sanksi hukum,” pintanya.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode