[x] close
top ear
Museum Titik Nol Pasoepati (Istimewa/Mayor Haristanto)
  • SOLOPOS.COM
    Museum Titik Nol Pasoepati (Istimewa/Mayor Haristanto)

Museum Titik Nol Pasoepati Dibuka, Simpan Barang-Barang Bersejarah

Sebuah ruangan di markas Republik Aeng-Aeng dijadikan sebagai Museum Titik Nol Pasoepati.
Diterbitkan Rabu, 8/07/2020 - 16:30 WIB
oleh Solopos.com/Chrisna Chaniscara
2 menit baca

Solopos.com, SOLO - Museum Titik Nol Pasoepati berdiri di markas Republik Aeng-Aeng, Jl, Kolonel Sugiyono No.37, Nusukan, Solo. Sejumlah barang berharga disimpan di museum tersebut.

Salah satunya adalah sarung tangan milik Listiyanto Rahardjo. Glove bermerek Umbro ini masih terawat meski usianya sudah lebih dari 20 tahun. Sore itu, Senin (6/7/2020), Listiyanto Rahardjo memberikan sarung tangan bersejarahnya itu pada sesepuh Pasoepati, Mayor Haristanto.

“Ini koleksi istimewa, sangat berharga,” ujar Mayor saat berbincang dengan Solopos.com, Selasa (7/7/2020).

Wong Sragen Wajib Nonton, Seniman Bumi Sukowati Tampil Perdana Setelah Vakum 3 Bulan

Sarung tangan itu memang banyak menyimpan cerita suka dan duka. Itu menjadi sarung tangan terakhir Bejo, julukan Listiyanto, sebelum pensiun dari Timnas pada 1997. Sarung tangan tersebut dikenakan eks Pelita Solo ini saat mengantar Timnas ke final SEA Games 1997 Jakarta dengan mengalahkan Singapura 2-1.

Saat itu dia menggantikan Kurnia Sandy yang cedera di menit ke-76. Sayang di final Pelatih Henk Wullems kembali memilih Kurnia Sandy yang menjadi rival berat Bejo di bawah mistar kala itu. Timnas pun takluk dari Thailand dengan skor 3-5 dalam adu babak penalti di babak pamungkas.

“Selain sarung tangan, Mas Bejo menghibahkan topi saat membawa PSS Sleman menjadi juara Liga 2 tahun 2018. Topi ini juga bersejarah karena mengiringi akhir penantian panjang PSS untuk promosi ke kasta tertinggi selama 11 tahun,” ujar Mayor.

Sarung tangan dan topi itu menjadi koleksi awal Museum Titik Nol Pasoepati yang dicetuskan Mayor Haristanto. Museum itu rencananya akan berada di ruangan seluas tiga kali lima meter di Republik Aeng-Aeng, lokasi yang juga menjadi awal terbentuknya Pasoepati 20 tahun silam.

Memorabilia Suporter

Mayor mengatakan selama ini ruangan tersebut baru sebatas mengumpulkan memorabilia suporter seperti kaus hingga syal. Mayor ingin Museum Titik Nol Pasoepati nantinya dapat memajang koleksi bersejarah para pemain nasional.

“Terutama mantan pemain Pelita Solo karena saya punya ikatan emosional dengan mereka,” ujar Mayor yang menjadi Presiden Pasoepati saat Pelita bermarkas di Stadion Manahan, 2000-2002.

479 Desa Wisata Jatim Dapat Bantuan Ini Sebelum Dibuka Bertahap

Sejauh ini eks Pelita lain seperti Indriyanto Nugroho dan Haryanto “Tommy” Prasetyo juga berencana menghibahkan kostum bolanya. Mayor berharap museum ke depan dapat menjadi wisata sejarah sekaligus edukasi tentang persepakbolaan nasional.

Dia pun mendorong keterlibatan suporter dan publik Solo untuk nyengkuyung museum. “Tempat ini terbuka untuk umum. Silakan yang mau melihat-lihat koleksi atau sekalian berdiskusi,” ujar lelaki yang juga aktivis kota ini.


Editor : Profile Ahmad Baihaqi
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini