top ear
Rini Yustiningsih (Istimewa/Dokumen pribadi)
  • SOLOPOS.COM
    Rini Yustiningsih (Istimewa/Dokumen pribadi)

Moralitas dalam Tayangan Youtube

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (11/5/2020). Esai ini karya Yustiningsih, jurnalis Solopoa. Alamat e-mail penulis adalah rini.yustiningsih@solopos.co.id.
Diterbitkan Minggu, 17/05/2020 - 21:59 WIB
oleh Solopos.com/Rini Yustiningsih
4 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Kasus youtuber Ferdian Paleka harus menjadi pelajaran bagi para youtuber atau kreator konten video. Jangan sembarangan mengunggah video di media sosial. Jerat hukum menanti mereka yang terbukti melakukan pelanggaran hukum.

Gara-gara video prank atau video usil, jahil, gurauan berisi pemberian bahan pokok yang ternyata berupa sampah dan batu kepada waria, Ferdian bersama rekannya, Tubagus Fahddinar Achyar dan M Aidil Fitrisyah, ditangkap polisi.

Mereka dijerat dengan UU No. 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Pasal 45 ayat (3) undang-undang itu mengatur tentang penghinaan atau pencemaran nama baik melalui informasi elektronik.

Polisi juga menetapkan dua pasal tambahan, yaitu Pasal 36 dan Pasal 51 ayat (2). Ferdian dan teman-temannya terancam hukuman 12 tahun penjara dan denda maksimal Rp12 miliar. Apa yang dilakukan Ferdian hanya secuil gambaran jutaan video di Youtube yang tak memerhatikan moralitas dalam muatan konten.

Boleh dibilang video-video ini berisi “sampah”. Anehnya video-video begini memiliki pasar pemirsa yang terbilang tak sedikit. Konten prank dalam beberapa tahun terakhir makin menjamur di linimasa Youtube dan media sosial seperti Facebook dan Instagram.

Video-video jenis prank dianggap memberi hiburan bagi penggemarnya. Prank menjadi jenis konten ”basah” yang mampu mengundang banyak pemirsa (viewers) dalam waktu cepat serta menambah pengikut (subcscriber) akun media sosial.  Muaranya tak lain adalah uang, pendapatan.

Maka tak mengherankan kini aneka ragam video prank bertebaran. Korban kejahilan bisa siapa saja.  Ada yang ngerjain orang tua, ibu sendiri, keluarga, teman sendiri, hingga orang yang tak dikenal oleh pembuat konten. Model kekonyolan dan kejahilan yang dijadikan video makin aneh-aneh.

Beberapa waktu lalu publik dunia maya heboh dengan video ngerjain pengemudi ojek online. Seorang perempuan memesan makanan lewat ojek daring. Tentu saja kamera tersembunyi diletakkan sedemikian rupa tanpa diketahui sasaran korban keusilan.

Begitu pengemudi ojek datang mengantarkan makanan, si perempuan hanya berbalut handuk. Ekspresi pengemudi ojek yang kaget dan malu terekam oleh kamera itu. Sejurus kemudian baru si perempuan membuka handuknya yang ternyata dia masih berbusana super minim.

Ada juga video lainnya yang juga  ngerjain pengemudi ojek dengan pura-pura batal memesan makanan. Pengemudi ojek yang sering jadi sasaran video prank pun lambat laun geram. Hingga akhirnya mereka mengeluarkan seruan,“Setop jadikan pengemudi ojek sebagai korban prank!”

Bagaimana mungkin dengan nalar yang jernih para pemirsa video-video prank ini bisa tertawa melihat ekspresi-ekspresi tak terduga dari para korban? Tertawa saat korban prank ini kebingungan, saat mereka menangis, terkejut, hingga terjatuh. Tertawa saat perasaan mereka dipermainkan dan jadi sasaran untuk mendulang keuntungan dari jumlah pemirsa.

Memang tidak semua video prank buruk. Ada beberapa video usil namun lebih bersifat eksperimen sosial (social experiment), misalnya pura-pura jadi pengemis/pemulung lalu mengetes kepedulian masyarakat.

Ujungnya nanti pemberi bantuan malah diberi hadiah berupa uang atau bingkisan. Ada pula video prank yang memanfaatkan dan menggunakan kecanggihan teknologi hingga membuat masyarakat terkagum-kagum.

Pasar Potensial

Perusahaan dari Inggris yang memetakan penggunaan teknologi digital di berbagai belahan dunia, We Are Social, mencatat dalam dua tahun terakhir pengguna Youtube melonjak drastis. Youtube melaporkan setiap menit ada 500 jam video baru yang diunggah di seluruh dunia.

Data tahun 2019 di Indonesia menunjukkan jumlah pengguna Youtube mengalahkan jumlah pengguna Facebook dan Instagram. Youtube menduduki peringkat pertama jumlah pengguna media sosial di Indonesia.

Dari 150 juta penduduk Indonesia yang memiliki akun media sosial , sebanyak 88% (132 juta) mengakses Youtube disusul kemudian 81% (121,5 juta) menggunakan Facebook dan 80% (120 juta) mengakses Instagram.

Pemirsa Youtube di Indonesia menjadi pasar potensial bagi para kreator konten baik dari dalam maupun luar negeri. Legitnya kue permirsa Youtube Indonesia menjadi alasan logis untuk berburu pemirsa.

Warganet Indonesia dikenal sebagai warganet yang aktif, cerewet,  dan punya militansi tinggi. Unggahan yang disertai kata kunci (keyword) berbau “Indonesia” pasti dilalap habis oleh warganet Indonesia yang tersebar di penjuru Nusantara dan penjuru dunia.

Banyak yang tahu pula bahwa sekarang ini Youtube dijadikan ladang penghasilan bagi pemilik kreator konten video. Teorinya sederhana, semakin banyak pemirsa video, semakin banyak pengikut akun Youtube dan semakin lama video disaksikan maka cuan kian mengalir deras.

Viewer, viewer, dan viewer menjadi jujugan akhir para kreator konten video tanpa memperhitungkan nilai-nilai tanggung jawab sosial dan moralitas.  Yang penting video ditonton banyak orang!

Mereka yang hanya melulu mengejar fulus tak peduli lagi soal misi kebaikan dalam konten. Idealnya muara konten video yang diunggah di media sosial haruslah menebar kebaikan, membagi pengetahuan, membangun simpati dan empati, menciptakan kesadaran bersama untuk berbuat baik, berbagi inspirasi, mewujudkan tanggung jawab sosial. Itu konten yang ideal.

Pada hakikatnya menciptakan konten yang mengandung nilai-nilai moral dan kebaikan, bukan konten berisi umpatan, cemoohan, pornografi, pelecehan, hingga kesadisan. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pasti kewalahan mengawasi jutaan video yang diunggah di media sosial, terlebih aturan hukum yang memberi wewenang kepada KPI untuk mengawasi video di platform digital masih dirumuskan.

Saat ini, masyarakatlah yang paling efektif untuk memberi efek jera bagi tayangan sampah. Caranya tak perlu ditonton, tinggalkan! Toh, masih banyak tanyangan Youtube yang berkelas. Tayangan yang tak membuat kesehatan mental dan jiwa terganggu. Tayangan yang membuat kualitas hidup lebih bermutu.

Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

Properti Solo & Jogja


berita terkait