Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Mondosiyo Sudah Jadi WBTB, Warga Karanganyar Minta Dukungan Pemerintah

Warga Pancot, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar meminta peran lebih pemerintah dalam pengembangan Mondosiyo setelah tradisi turun temurun ini ditetapkan menjadi warisah budaya tak benda.
SHARE
Mondosiyo Sudah Jadi WBTB, Warga Karanganyar Minta Dukungan Pemerintah
SOLOPOS.COM - Masyarakat menyaksikan hiburan reog dalam tradisi Mondosiyo di Lingkungan Pancot, Kelurahan Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Selasa (28/6/2022). (Solopos.com/Akhmad Luidyanto)

Solopos.com, KARANGANYAR — Tradisi Mondosiyo di Lingkungan Pancot, Kelurahan Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, diharapkan bisa digelar lebih meriah dan lebih besar ke depannya Pemkab Karanganyar diminta ikut lebih berperan pada tradisi yang punya potensi jadi daya tarik wisata tersebut.

Hal ini menyusul ditetapkannya Mondosiyo Pancot sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek).

PromosiRekomendasi Merek Jeans Terbaik Pria & Wanita, Murah Banget!

Penetapan tersebut diberikan melalui sertifikat bernomor 0017/F4/KB.0404/2021 yang ditandatangani Mendikbudristek, Nadiem Anwar Makarim, tertanggal 7 Desember 2021. Sertifikat diserahkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Karanganyar kepada masyarakat setempat dalam saat tradisi Mondosiyo Pancot, Selasa (28/6/2022).

Salah satu tokoh masyarakat Pancot, Sulardi, mengatakan dengan sudah berstatus WBTB tersebut seharusnya pemerintah berperan lebih besar terhadap tradisi yang sudah diselenggarakan secara turun temurun oleh warga setempat itu.

Baca Juga: Meriah, Ada Yang Beda Pada Tradisi Mondosiyo di Tawangmangu Kali Ini

“Sampai hari ini masyarakat tetap semangat menjalankan tradisi ini. Harapannya dengan adanya WBTB ini masyarakat bisa bergandengan dengan pemerintah agar Mondosiyo tidak hanya seperti ini. Tapi dikemas lebih bagus dan meriah,” ujarnya di sela-sela pelaksanaan tradisi Mondosiyo Pancot, Selasa.

Penyelenggaraan yang lebih besar yang ia maksud misalnya dengan menambah kegiatan pawai atau kirab. “Konsep pengembangannya kami punya, yaitu penambahan pawai/kirab. Ini pernah kami lakukan pada 1990-an dan memakan biaya yang sangat besar,” ujarnya.

Dalam penghitungan saat ini, biaya penyelenggaraan dengan kirab tersebut akan menelan biaya sekitar Rp60 juta. Oleh sebab itu, ia berharap pemerintah mengambil perann itu.

“Kalau hanya ditopang dari masyarakat ya tidak mungkin kuat. Makanya pemerintah harus hadir di sini, apalagi sudah ada penetapan Mondosiyo Pancot sebagai WBTB pemerintah harus mendukung,” imbuhnya.

Baca Juga: Serunya Berebut Ayam Tradisi Mondosiyo di Tawangmangu, Ini Foto-Fotonya

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Karanganyar, Yopi Eko Jati Wibowo, justru mengharapkan peran itu yang diambil pemerintah pusat.

“Kalau sudah diakui sebagai WBTB mestinya ada program-program dari Kemendikbud misalnya pendampingan dan sebagainya. Kalau ada proposal kegiatan harapannya bisa dapat dukungan dari Kemendikbud untuk pengembangan-pengembangannya,” ujarnya.

Pengembangan tersebut utamanya berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitarnya. “Setiap tahun kan tradisinya sudah ada, sehingga ke depan bisa dikembangkan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakatnya. Nanti bisa diusulkan untuk pendampingan dan lainnya,” ujarnya.

Baca Juga: Ini Tradisi Dhukutan & Mondosiyo di Tawangmangu Ditetapkan Sebagai WBTB

Selama ini penyelenggaraan Mondosiyo dibiayai sendiri oleh masyarakat dan dukungan dana dari Pemkab Karanganyar senilai Rp10 juta.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode