[ X ] CLOSE

Mobilitas Kaum Boro Wonogiri Menurun Selama PPKM Darurat, Dampak Penyekatan?

Jumlah kaum boro atau perantau Wonogiri yang pulang kampung berkurang sejak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM darurat.
Mobilitas Kaum Boro Wonogiri Menurun Selama PPKM Darurat, Dampak Penyekatan?

Solopos.com, WONOGIRI — Mobilitas kaum boro atau warga perantauan di Wonogiri menurun selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM darurat sejak 3 Juli lalu. Hal itu diduga karena adanya penyekatan dan pemeriksaan di perjalanan.

Penurunan jumlah kaum boro yang datang ke Wonogiri dari kota-kota besar maupun sebaliknya terpantau melalui data produksi Terminal Tipe A Giri Adipura Wonogiri.

Berdasarkan data itu, pada hari pertama hingga hari ketiga PPKM darurat (3-5/7/2021), jumlah penumpang kedatangan maupun keberangkatan bus Antarkota Antarprovinsi (AKAP) masih normal.

Baca Juga: Aturan Salat Iduladha dan Penyembelihan Hewan Kurban di Wonogiri Saat PPKM Darurat

Namun pada hari keempat hingga hari keenam, PPKM darurat penumpang di Terminal Giri Adipura Wonogiri terpantau sepi atau menurun. Jumlah penumpang kedatangan maupun keberangkatan selalu di bawah 1.000 orang.

Padahal pada kondisi normal, jumlah penumpang setiap hari mencapai 1.100-1.500 orang. Pada Selasa (6/7/2021), ada 786 penumpang datang dan 594 penumpang berangkat. Pada Rabu (7/7/2021), ada 866 penumpang datan dan 792 penumpang berangkat.

Kemudian pada Kamis (8/7/2021), ada 928 penumpang datang dan 700 penumpang berangkat. Koordinator Terminal Giri Adipura Wonogiri, Agus Hasto Purwanto, membenarkan adanya penurunan jumlah penumpang selama PPKM darurat.

Baca Juga: 60% Tempat Tidur di RSUD Wonogiri Untuk Pasien Covid-19, Begini Tanggapan Bupati

“Ya [penumpang menurun], karena PPKM darurat,” katanya saat dihubungi Solopos.com, Jumat (9/7/2021).

Tersisa 10 Persen Perantau

Camat Jatisrono, Suradi, mengatakan mobilitas kaum boro yang datang ke daerahnya berkurang banyak sejak PPKM darurat. Hal itu ia dapatkan berdasarkan laporan dari para kepala desa.

Kaum boro yang melakukan mobilitas hanya tersisa sekitar sepuluh persen daripada saat hari normal. “Sepertinya kaum boro mantap untuk tidak pulang-pergi ke kampung halaman. Biasanya dalam satu hari ada 50 orang yang tiba di Jatisrono dari kota-kota besar. Kini tidak sampai sepuluh orang, hampir tidak ada,” katanya, Jumat.

Baca Juga: Pengumuman! Jalan di Sekitar Alun-Alun Wonogiri Ditutup Mulai Pukul 16.00-06.00 WIB

Suradi mengatakan berdasarkan laporan Kapolsek Jatisrono yang diperoleh dari petugas Terminal Jatisrono, Wonogiri, selama PPKM Darurat jumlah penumpang di terminal itu semakin menurun.

Pada Kamis, jumlah kaum boro yang tiba di terminal hanya empat orang. Sedangkan yang berangkat ke wilayah Jabodetabek sebanyak 11 orang dan hanya menggunakan tiga bus AKAP. Dalam situasi normal, penumpang yang datang di Terminal Jatisrono bisa mencapai 25-30 orang setiap hari.

“Meski ada penurunan mobilitas kaum. boro, pendataan terhadap warga perantauan yang tiba di Jatisrono tetap dilakukan. Sebab akhir-akhir ini kasus Covid-19 tengah naik. Jogo tonggo diaktifkan terus, sehingga perkembangan mobilitas kaum boro terpantau,” kata Suradi.

Baca Juga: Tragis! Warga Jember Bunuh Diri di Wonogiri Setelah Istrinya Meninggal Akibat Covid-19

Penumpang Bus

Penurunan mobilitas kaum boro selama PPKM darurat juga dibenarkan oleh Staf Operasional Perusahaan Otobus (PO) Haryanto wilayah Wonogiri, Heru Setiyono.

“Benar, sejak ada PPKM darurat ini sepi. Terlebih tiga hari terakhir ini. Turunnya hampir 80 persen. Biasanya kalau siang, bus berangkat ke Jakarta ada tujuh unit, sekarang paling dua hingga tiga unit. Penumpang tidak penuh,” katanya saat dihubungi Solopos.com, Jumat.

Menurut Heru, turunnya mobilitas warga perantauan pada PPKM darurat dimungkinkan karena mereka takut adanya penyekatan dan pemeriksaan kelengkapan surat. Selama PPKM ada pemeriksaan di kawasan Tol Semarang dan Bekasi.

Baca Juga: Wonogiri Tak Lagi Zona Merah, Efek PPKM Darurat?

Selain itu, lanjutnya, saat ini bukan bulan baik. Artinya waktu ini tidak ada orang yang menggelar hajatan dan tidak ada peringatan hari khusus atau tradisi masyarakat jawa yang harus dijalankan.

“Ya ini masih ada sedikit warga yang pulang-pergi namun sangat minim. Yang diwajibkan penumpang harus selaku memakai masker saat di dalam bus,” kata Heru.

Promo & Events
Berita Terkait
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago