Mitos Larangan Menikah di Bulan Suro, Bagaimana Menurut Islam?

Apakah mitos larangan menikah di bulan Suro atau Sura adalah benar dan bagaimana menurut Islam mengenai mitos larangan tersebut?
Mitos Larangan Menikah di Bulan Suro, Bagaimana Menurut Islam?
SOLOPOS.COM - Ilustrasi pernikahan. (Freepik.com)

Solopos.com, SOLO — Bagaimana sebenarnya soal larangan menikah di bulan Suro atau Sura menurut Islam?

Seperti diketahui, terdapat mitos yang begitu melekat di masyarakat mengenai larangan menikah di bulan Sura atau Muharram. Adapun yang menyebut jika melanggar larangan tersebut akan sial.

Baca Juga:  Sudah Lebih dari 50 Juta Rakyat Indonesia Divaksinasi Covid-19

Dan hal ini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat di Indonesia, khususnya di Jawa, salah satunya di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Dalam sebuah penelitan skripsi yang berjudul Adat Larangan Menikah di Bulan Suro dalam Prespektif URF dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, kepercayaan tersebut juga dipegang tegun oleh masyarakat Desa Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Baca Juga:  Doa Akhir dan Awal Tahun, Jangan Lupa Dibaca Nanti Sore dan Setelah Magrib ya!

Pasalnya, masyarakat percaya bulan Sura memiliki makna filosofis yang mendalam. Beberapa di antaranya, terjadi peristiwa-peristiwa agung, seperti pembantaian terhadap 72 anak keturunan Nabi dan pengikutnya.

Sehingga hal ini menumbuhkan rasa haru dan sungkan untuk menyelenggarakan pernikahan atau sebuah hajatan di bulan Muharram.

Baca Juga: Sudah Sembuh dari Covid-19 Tapi Masih Batuk, Apa Penyebabnya?

Larangan Menikah di Bulan Suro Menurut Islam

Lalu, bagaimana mengenai mitos larangan menikah di bulan Suro menurut Islam?

Dikutip dari situs konsultasi agama, Konsultasisyariah.com, pengajar di Ponpes Hamalatul Qur’an Yogyakarta, Ustaz Ahmad Anshori menyebut larangan tersebut tidak benar.

Baca Juga: Profil Mooryati Soedibyo, Wong Asli Solo yang Berkeluarga Ningrat

Ia berpendapat Muharram merupakan salah satu dari empat bulan suci dalam Islam.

Sesungguhnya waktu berputar ini sebagaimana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantara dua belas bulan itu, ada empat bulan suci (Syahrul Haram). Tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar; antara Jumadi tsaniah dan Syaban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Tenang Kalau Ini Bukan Prank Kok! Sultan dari Riau Sumbang Rp1 Triliun Lebih untuk Indonesia

Selain itu, Muharram juga dipercaya merupakan bulannya Allah. “Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram”. (HR. Muslim 1163)

Sehingga dari beberapa hadis di atas, Ustaz Ahmad Anshori menegaskan larangan menikah di bulan Suro menurut Islam adalah tidak benar.


Berita Terkait
    Promo & Events
    Honda Motor Jateng
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago