Mitos Larangan Menikah Anak Pertama dengan Ketiga, Ada yang Percaya?

Terdapat mitos di Jawa soal larangan menikah antara anak pertama dengan ketiga yang dikenal nikah lusan. Adakah yang percaya?
Mitos Larangan Menikah Anak Pertama dengan Ketiga, Ada yang Percaya?
SOLOPOS.COM - Ilustrasi pernikahan adat Jawa. (Freepik)

Solopos.com, SOLO — Dalam tradisi Jawa, terdapat mitos larangan menikah antara anak pertama dengan anak ketiga yang bisa disebut nikah lusan (telu dan kepisan).

Mitos ini masih ada yang percaya dan ada pula yang mengabaikannya. Konon katanya, bagi yang melanggar larangan tersebut, hubungan rumah tangganya akan sering diwarnai pertengkaran, rezeki seret, perceraian, hingga kematian.

Akibat adanya mitos ini, banyak pasangan kekasih yang merelakan hubungannya berhenti di tengah jalan alias putus.

Baca Juga:  Biodata Ribka Sugiarto, Pebulutangkis Berprestasi Asli Karanganyar

Menurut pengelola akun Instagram @misterisolo, mitos larangan menikah antara anak pertama dengan anak ketiga ini memiliki tujuan baik. Pasalnya, dalam sisi psikologis, larangan pernikahan ini muncul karena sikap anak pertama yang mandiri dan anak ketiga yang cenderung manja.

“Perbedaan sikap ini yang dikhawatirkan menimbulkan percekcokan dalam rumah tangga. Bahkan, ketakutan terhadap percekcokan inilah yang dipercaya akan menjauhkan kedua pasangan jauh dari rejeki. Jika dilanjutkan lagi dikhawatirkan akan menimbulkan penyakit untuk masing-masing orang tua yang ditakutkan akan mempersingkat umur karena sakit-sakitan karena memikirkan rumah tangga si anak,” ujar pengelola akun Instagram @misterisolo di unggahannya.

Baca Juga:  Sejarah Makamhaji Sukoharjo, Cinta Sejati Guru Ngaji dengan Putri Raja

Sementara itu, dalam dunia gaib sendiri, larangan ini merupakan aturan yang harus ditaati.

Hal ini dikarenakan bagi yang melanggar mitos larangan menikah anak pertama dan ketiga, rumah tangganya disebut-sebut akan diganggu oleh jin.

Baca Juga: Cukai Naik 11 Persen, Harga Rokok Bakal Naik di 2022?

“Dalam dunia gaib, beberapa entinitas Jawa Kuno masih beranggapan bahwa ini adalah aturan baku dalam berumah tangga. Bahkan sebagian dari mereka merasa wajib mengganggu para pelanggar aturan ini dari membuat sang pengantin lebih gampang emosi atau memberikan ketidaknyaman lainnya,” jelas dia.

Sehingga mereka yang melanggar mitos larangan menikah ini perlu melakukan sebuah ritual khusus saat acara pernikahan berlangsung. Adapun ritualnya adalah memberikan sesaji ke temapt-tempat khusus yang dianggap keramat. “Adapula yang melakukan sedekah tumpeng dan bancakan bahkan adapula yang menyembelih hewan dan kepalanya ditanam di pekarangan,” pungkas dia.

Baca Juga:  Viral Makan di Angkringan Habis Rp106.000, Netizen Bandingin Sama Solo!


Berita Terkait
    Promo & Events
    Honda Motor Jateng
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago