[x] close
top ear
Minuman soda cap Badak (Istimewa)
  • SOLOPOS.COM
    Minuman soda cap Badak (Istimewa)

Minuman Soda Badak: Legendaris dengan Sensasi "Menggigit"

Dulu minuman soda legendaris Badak memiliki delapan varian rasa mulai jeruk, anggur, nenas, air soda, kopi, raspberry, dan sarsaparila.
Diterbitkan Kamis, 26/03/2020 - 01:00 WIB
oleh Solopos.com/Danang Nur Ihsan
3 menit baca

Solopos.com, SOLO — Botol kaca bergambar badak bercula satu dan tulisan “Badak” tertata di meja sebuah kedai di Depok, Jawa Barat. Ada beberapa botol minuman ringan dengan berbagai merek di kedai itu. Namun, minuman soda Badak asal Pematang Siantar, Sumatra Utara ini yang mencuri perhatian dengan gaya vintage-nya.

Minuman ini terbuat dari air, karbondioksida (CO2), garam, sodium, dan sulfatrinasius. Kehadiran karbondioksida pada Badak memberi sensasi “menggigit” dan segar. Sensasi inilah yang dicari para pembeli fanatik Badak.

Sederet rumah makan di Medan atau rumah makan Medan di Jakarta biasanya menawarkan menu Susu Badak. Namun, ini bukan susu hasil perahan badak, melainkan soda gembira.

Resmi Diperpanjang, Pelajar di Jateng Belajar di Rumah hingga 13 April

Susu kental manis diaduk dengan soda Badak, lalu ditambah es batu. Rasanya manis dengan sensasi segar. Jika diseruput saat terik, Susu Badak mampu melepas dahaga. Minuman soda legendaris ini punya kisah panjang. Usianya sekitar satu abad.

Di tengah gempuran minuman soda merek internasional, Badak tetap eksis. Beberapa warung, kedai kopi, dan rumah makan di Pulau Sumatra dan Jawa masih menjajakan minuman soda legendaris ini.

Sebagaimana dikutip dari indonesia.go.id, beberapa waktu lalu, sejak pertama kali diproduksi, tidak banyak terjadi perubahan, baik pada rasa maupun kemasan. Sejak mulai diproduksi hingga sekarang, Badak tetap setia menggunakan botol kaca dengan desain vintage.

Alasan Pakai Botol Kaca

Pemakaian botol kaca berperan mempertahankan karbondioksida pada minuman soda. Dengan demikian, sensasi menggigitnya tetap kuat. Badak lebih dahulu dikenal masyarakat Pematang Siantar jauh lebih dulu sebelum minuman bersoda dengan merek internasional atau teh botolan memenuhi pasar seperti saat ini.

Bahkan pabrik minuman ini diperkirakan telah ada sejak 1916. Pabrik dengan nama NV Ijs Fabriek Siantar didirikan oleh Heinrich Surbeck yang merupakan seorang pria asal Swiss yang tinggal dan menetap di Kota Pematang Siantar.

Kabar Duka: Ibu Presiden Jokowi Meninggal

Kuasa Agustino Saragih dalam skripsi berjudul PT Pabrik Es Siantar di Pematang Siantar 1959-1990, menyatakan NV Ijs Fabriek Siantar awalnya hanya memproduksi es batu batangan. Sejak 1920-an, pabrik es ini mulai membuat minuman soda berlabel Badak.

Pemakaian nama Badak sebagai merek minuman soda mengandung makna filosofis. Badak terkenal berkulit keras serta bertanduk kuat. Makna filosofisnya adalah minuman berlabel Badak akan bertahan di tengah gempuran minuman-minuman bermerek internasional.

Di tahun 1920-an, bukan hanya minuman-minuman soda Badak yang ada di pasaran. Coca Cola mulai dikenal di Indonesia pada 1927. Masuknya Fanta ke Indonesia pada 1973 juga membuat persaingan di pasar minuman bersoda kian ketat.

Viral, Keluarga Nekat Bongkar Plastik Jenazah PDP Corona di Kendari

Ketika Badak mulai mendapatkan nama, ada kisah pahit yang dialami sang pemilik awal. Hidup Surbeck berakhir tragis. Ia meninggal di tangan laskar rakyat yang memberontak Belanda pascaproklamasi kemerdekaan.

Sepeninggal Surbeck, NV Ijs Fabriek Siantar tetap menjalankan aktivitas produksi. Karyawan pabrik, Elman Tanjung, mengelola perusahaan bersama rekan-rekannya sampai putri Surbeck, Lydia Rosa, kembali ke Pematang Siantar pada 1947.

Tinggal 2 Varian

Isu nasionalisasi pascakemerdekaan memaksa NV Ijs Fabriek Siantar mengubah namanya dari bahasa Belanda menjadi bahasa Indonesia yaitu PT Pabrik Es Siantar.

Kepemilikan perusahaan berpindah tangan kepada pribumi. Di tahun 1969, pengusaha pribumi bernama Julius Hutabarat membeli PT Pabrik Es Siantar dengan cara mencicilnya hingga 1971.

Ketika itu, minuman soda legendaris ini kian berjaya. Merek ini digdaya di Sumatra Utara pada 1970 sampai 1980-an.

Saat itu ada delapan varian rasa minuman soda berlabel Badak, mulai dari jeruk, anggur, nenas, American ice cream soda, air soda, kopi, raspberry dan sarsaparila. Varian yang disebutkan terakhir, sarsaparila, bahkan pernah diekspor ke Swiss, negara asal Surbeck.

Ternyata Ini Foto Asli Soeharto Naik Nmax

Soda rasa buah dilakukan dengan memasak gula cukup lama. Kemudian ditambah pemanis berupa sukrosa, air bersih, dan asam sitrat.

Air gula ini lalu disaring dan dimasak lagi dengan tambahan air, karbondioksida dan esens. Setelah itu didiamkan hingga semua bahan benar-benar larut dan tercampur rata.

Produksi Badak pada masa jayanya mencapai 40 ribu krat per bulan. Namun, seiring dengan menurunnya permintaan, produksi minuman soda legendaris ini berkurang jadi 500 krat per bulan. Variannya pun dikurangi dari delapan menjadi dua yaitu air soda dan sarsaparila.


Editor : Profile Danang Nur Ihsan
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini