Minat Baca Memuaskan, Solo Butuh Rumah Baca Berbasis RW

Hasil survei Disarpus Kota Solo menunjukkan indeks minat baca dan indeks kegemaran membaca warga Kota Solo 74,54 dan 79,37.
Minat Baca Memuaskan, Solo Butuh Rumah Baca Berbasis RW
SOLOPOS.COM - Ilustrasi orang tua menumbuhkan minat baca anak (Freepik).

Solopos.com, SOLO—DPRD Solo meminta Pemkot Solo tidak terlena dengan hasil survei minat baca warga Kota Solo yang dikategorikan memuaskan. Legislator mendorong Pemkot terus mendekatkan bahan literasi yang berkualitas di lingkungan warga, salah satunya dengan melestarikan perpustakaan berbasis rukun warga (RW). Selain itu perpustakaan-perpustakaan sekolah yang mati suri selama pandemi Covid-19 perlu dihidupkan lagi.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua DPRD Solo, Sugeng Riyanto, saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat (26/11/2021). Pihaknya mengaku cukup takjub dengan hasil survei Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kota Solo yang menunjukkan tingginya minat baca warga Kota Bengawan.

Dalam survei tersebut, indeks minat baca dan indeks kegemaran membaca warga berada di nilai 74,54 dan 79,37. “Agak mengherankan sebenarnya. Kami melihat saat ini hampir semua orang lebih asyik main gadget, perpustakaan-perpustakaan sepi,” ujar Sugeng.

Baca Juga: Solo Optimalkan Medsos untuk Promosi Wisata

Pihaknya menilai tingginya minat baca dalam survei belum berbanding lurus dengan fasilitas literasi yang dihadirkan Pemkot pada warga. Menurut dia, rumah baca perlu didorong hingga tataran RW sehingga warga dapat mengakses bacaan berkualitas dengan mudah.

Saat ini Pemkot baru memiliki 18 perpustakaan kampung yang tersebar di 16 kelurahan. Padahal ada 54 kelurahan di Kota Bengawan. “Saya membayangkan hasil itu [tingginya minat baca] berbanding lurus dengan keberadaan rumah baca di setiap RW,” ujar politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Tak hanya berdiri secara fisik, Sugeng mengatakan perpustakaan kampung harus dikelola partisipatif dengan melibatkan sebanyak mungkin warga atau komunitas. Hal itu agar perpustakaan atau rumah baca bisa beroperasi secara kontinyu dan diminati masyarakat. Sugeng melihat perpustakaan kampung yang ada saat ini belum membangkitkan minat literasi warga secara optimal.

Baca Juga: Kini, Jajan Jenang dan Gorengan Lebih Mudah dengan Bank Digital

“Perpustaaan di Taman Cerdas kami lihat fungsi literasinya juga masih lemah. Sekarang Taman Cerdas lebih dimanfaatkan sebagai ruang publik. Kami mendorong Pemkot menghidupkan perpustakaan kampung berbasis RW sehingga akses literasi dapat merata. Demikian halnya sekolah yang perlu segera menggiatkan kembali perpustakaannya.”

 

Hasil Survei

Kabid Perpustakaan Disarpus Solo, Samsu Tri Wahyudin, mengatakan hasil survei minat baca Disarpus mengambil 400 responden dari total 522.364 orang penduduk Solo per Desember 2020. Responden, imbuhnya, berada di rentang usia 10-60 tahun yang diambil dengan teknik random sampling.

“Responden survei paling banyak di usia 10-19 tahun yakni 23% dan umur 30-39 tahun yakni 21,3%,” terangnya.

Baca Juga: Sejarah Pola Situasional dalam Suksesi KGPAA Mangkunagoro Solo

Samsu mengakui masih ada sejumlah kendala dalam menyediakan bahan bacaan di masyarakat. Pihaknya berencana menambah sosialisasi ihwal keberadaan perpustakaan kampung dan perpustakaan keliling. Selain itu Disarpus akan mengampanyekan beragam fasilitas yang dapat diakses warga di perpustakaan kota.

“Kami juga berencana menggiatkan kerja sama dengan elemen eksternal untuk memanfaatkan fasilitas perpustakan. Misal untuk pelatihan, diskusi dan lain sebagainya.”

 


Berita Terkait
    Promo & Events
    Honda Motor Jateng
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago