Mimpi Juara Perusahaan Teknologi
Solopos.com|kolom

Mimpi Juara Perusahaan Teknologi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 29 Mei 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Solopos.com, SOLO -- Tanpa Indonesia, tech company manapun tak bisa mengklaim juara atau nomor satu di Asia Tenggara. Indonesia sangat menentukan, bukan hanya karena pasar begitu luas, tetapi juga daya beli terus tumbuh. Demikian kata Arif Patrick Rachmat, penerus bisnis Grup Triputra, yang memperkenalkan diri sebagai Chairman Endeavor Indonesia, sebuah organisasi nirlaba pendamping entrepreneur pemula mengembangkan diri.

Saya mengenal Arif lima tahun lalu ketika menghadiri undangan buka puasa bersama yang rutin digelar ayahnya, T.P. Rachmat, pada Ramadan. Ia berbicara pada saat buka puasa virtual yang digelar pada Selasa, 27 April 2021, dalam sesi diskusi yang menghadirkan pendiri usaha rintisan Aldi Haryopratomo dan Gibran Huzaifah.

Arif adalah putra kedua Pak Teddy–sapaan T.P. Rachmat, pendiri Grup Triputra, orang terkaya ke-17 di Indonesia dan pernah 15 tahun memimpin konglomerasi PT Astra International Tbk. Lelaki kelahiran Jakarta, 1 Juli 1975, ini menjalani  pendidikan SMA di Georgetown Preparatory School, Amerika Serikat, lalu melanjutkan S1 di Cornell University dalam bidang operation research and industrial engineering.

Kini ia tengah digadang-gadang untuk meneruskan kejayaan bisnis Grup Triputra. Saat berbicara, dengan nada suara lembut–persis seperti ayahnya–Arif menguraikan pikirannya dengan runtut, jelas, dan tegas.  Dia lalu merilis sejumlah data perusahaan teknologi Shopee dengan kapitalisasi US$160 miliar. Berapa valuasi mereka bila tanpa Indonesia yang berkontribusi 40% pada penjualan? Kita bisa sebut juga Grab dengan US$40 miliar. Tanpa Indonesia, tentu tidak akan seperti sekarang.

Menurut dia, potensi perkembangan ekonomi digital di Indonesia sangat besar. Namun, pertumbuhan itu mensyaratkan daya beli besar sehingga kita bisa mencontoh China dan Amerika Serikat untuk menjamin profitabilitas e-commerce. Arif berhitung dengan pendapatan per kapita saat ini sekitar US$4.000 tidaklah cukup sebagai jaminan keberlajutan profitabilitas.

Minimal kita mesti memiliki pendapatan per kapita dobel dari sekarang bila melihat pengalaman China dengan US$12.000 untuk menciptakan profitabilitas e-commerce sangat besar. Untuk mencapai pendapatan per kapita dobel, Indonesia memerlukan akselerator pertumbuhan dan sama sekali tidak bisa berharap hanya dari pasar yang begitu luas. Artinya, produktivitas mesti dipompa dengan menciptakan sebuah ekosistem usaha dan rantai pasok di dalam negeri.

Usaha bertumbuh tentu akan menciptakan lapangan kerja dan lapangan kerja memberikan pendapatan bagi masyarakat yang ujungnya mendongkrak daya beli. Ini sebenarnya sebuah kombinasi klasik, tetapi sangat relevan terus dipertimbangkan. Ironis bila sebagian besar barang di e-commerce adalah produk dari luar Indonesia.

Tentu saja memompa produktivitas perlu entrepreneur yang lapar dengan skala bisnis lebih besar dan ilmu dari pengalaman para pendahulunya. Pengalaman ini bisa ditularkan melalui sebuah mentoring (pendampingan), semacam entrepreneur menciptakan entrepreneur.

Mengapa Arif begitu perhatian dengan program mentoring? Itu karena dia bersama sejumlah entrepreneur lain melalui Endeavor telah mendampingi setidaknya 59 orang dari 45 perusahaan rintisan yang sebagain diantara mereka telah menjadi salah satu unicorn seperti Bukalapak.

Arif meyakini anak-anak muda yang tengah mengembangkan usaha rintisan ingin scaling up, sebuah upaya agar bisnis berkembang pesat. Mereka memerlukan tiga hal sekaligus, yakni akses terhadap pasar, investasi, dan talenta dengan visi jauh ke depan. Dia lalu merujuk pada dua nama Endeavor Entrepreneur, Aldi Haryopratomo dan Gibran Huzaifah.

Yang pertama adalah mantan CEO Gopay dan yang kedua adalah CEO eFishery. Keduanya adalah contoh mentor dan mentee sukses. Aldy memulai usaha rintisan pada 2009 dengan mendirikan Mapan, aplikasi arisan barang yang diikuti jutaan pengguna. Start-up ini dibeli Gojek pada 2017 sebagai batu loncatan mengembangkan bisnis pembayaran elektronik Gopay. Aldy dan pendiri Gojek Nadiem Makarim adalah teman semasa kuliah di Amerika Serikat.

Di Gojek--ketika itu  telah mendapatkan pendanaan hampir US$1 miliar--Aldy bertemu dengan para mentor yang punya pengalaman dan secara perlahan-lahan mengembangkan Gopay dari semula hanya 20 karyawan menjadi 100 karyawan dan kini ribuan karyawan di lima Negara.  Go Pay adalah salah satu tulang punggung bisnis Gojek sebelum merger dengan e-commerce terbesar Tokopedia menjadi Goto.

Dia menuturkan ekosistem yang terbentuk sekarang telah memungkinkan usaha rintisan mengalami hypergrowth--tumbuh meraksasa dalam waktu cepat. Go Pay yang semula hanya ada ribuan transaksi per hari hanya dalam satu tahun bisa jutaan transaksi per hari. Pandemi Covid-19 juga turut mempercepat adopsi teknologi hingga ke pelosok desa dan ini berkah bagi start-up, memangkas waktu pertumbuhan semula 10 tahun dan kini hanya satu hingga lima tahun.

Aldy yang sejak Januari 2021 pensiun dari Gojek menyebut betapa menjadi mentee dari mentor-mentor sukses seperti almarhum Ciputra sangat penting dalam proses memajukan bisnis. Itulah mengapa dia juga senang hati melakukan mentoring bisnis, salah satunya terhadap Gibran yang mengembangkan eFishery.

”Gibran datang berkata punya robot yang bisa memberi makan ikan kalau lapar. Saya bingung robot member makan ikan itu seperti apa? Tapi, ini sangat menarik makanya saya intensif ngobrol dengan Gibran sampai kemudian eFisheries sampai ada venture capital yang mendanai dan saya jadi komisaris di sana,” tutur dia.

Aldy juga melanjutkan mentoring kepada usaha rintisan lain yakni Halodoc dan Kitabisa. Dia kini sedang mengincar tahapan pendampingan selanjutnya, mengembangkan ekonomi digital yang bisa mengakses orang-orang yang selama ini kesulitan memenuhi kebutuhan.

***

Mentor dan mentee ini mengingatkan saya pada banyak cerita sukses membangun bisnis. Salah satunya yang dilakukan oleh almarhum Ciputra, yang begitu terobsesi untuk menciptakan lebih banyak entrepreneur di negeri ini. Beruntung saya pernah mengikuti beberapa kelas dengan Pak Ci sebagai pengajarnya.

Salah satu yang saya kenang saat melakukan mentoring adalah saat Pak Ci mendefinisikan entrepreneurship sebagai usaha mengubah sampah menjadi emas.  Ini adalah sebuah definisi yang genuine dan terinspirasi dari usahanya mengembangkan Pantai Ancol Jakarta sebagai taman hiburan terbesar di Asia Tenggara.

Relasi mentor dan mentee ini sejatinya saling melengkapi. Mentor yang senior membawa wisdom berkat pengalamannya, mentee bermodalkan visi yang jauh ke depan, melampaui zaman. Visi cemerlang tanpa wisdom bisa tanpa arah, sementara wisdom tanpa visi juga tak berguna.

Oleh karena itu, hal membanggakan ketika menyaksikan betapa revolusi digital ini telah menciptakan begitu banyak usaha rintisan berkembang dan melahirkan orang sukses dalam usia muda. Penting untuk mempersiapkan agar Indonesia menjadi pemain besar dalam ekonomi digital melalui upaya mentoring berkesinambungan agar pasar besar ini tidak sekadar dimainkan oleh orang lain.

 

 

 

 

 

 

 

 



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks
Berita Video
View All

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago