Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

MIMBAR KAMPUS : Tak Ada PKI di Perpustakaan

SHARE
MIMBAR KAMPUS : Tak Ada PKI di Perpustakaan
SOLOPOS.COM - Mutimmatun Nadhifah mutimmah_annadhifah@yahoo.com Mahasiswa Tafsir Hadis Institut Agama Islam Negeri Surakarta
Mutimmatun Nadhifah  mutimmah_annadhifah@yahoo.com  Mahasiswa Tafsir Hadis Institut Agama Islam Negeri Surakarta

Mutimmatun Nadhifah
mutimmah_annadhifah@yahoo.com
Mahasiswa Tafsir Hadis Institut Agama Islam Negeri Surakarta

Partai Komunis Indonesia (PKI) memang pernah mewarnai sejarah Indonesia. Sebagian warga negeri ini menyebutnya sebagai sejarah kelam. Membicarakan PKI berarti menjejaki cerita merah dan terkadang membuat gelisah.

PromosiGelaran B20 di Jawa Timur Fokus pada Rantai Pasok UMKM

Ada keberpihakan terhadap sekelompok golongan, juga ada kesewenangan-wenangan yang pernah dilakukan. Sejarah tetaplah sejarah yang tetap harus disampaikan dengan jujur kepada generasi selanjutnya.

Kejujuran akan membentuk upaya generasi muda menjadi berpikir sesuai dengan yang dikehendaki, menerima atau menolak, atau juga merefleksikan apa yang pernah terjadi di masa lampau dan membandingkannya dengan kehidupan sekarang.

Tapi, kekuatan politik lebih kuat sehingga demi kekuasaan banyak manipulasi yang memang sengaja dibuat. Keinginan untuk mengekalkan kekuasaan lebih diutamakan daripada kejujuran terhadap bangsa dan sejarah.

Masyarakat sekarang seolah memang dibutakan dan tidak diperkenalkan dengan sejarah Indonesia secara jujur. Ada banyak dusta yang memang disengaja. Buku-buku terus dihilangkan dan pencegahan-pencegahan masuknya buku ke perpustakaan terus dilakukan dan kebijakan ini dituruti dan dipatuhi dengan sengaja.

Banyak perpustakaan kampus (dan sekolah dasar atau menengah) di Indonesia yang jarang bahkan sengaja tidak mengoleksi buku-buku sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI), kecuali buku resmi versi penguasa (Orde Baru).

Rak-rak buku lebih dipenuhi dengan buku-buku yang konon bisa mengantarkan para siswa atau mahasiswa menjadi sarjana yang berkompeten dalam bidang yang  mereka pilih tanpa ada pertimbangan untuk memperkenalkan siswa/mahasiswa terhadap sejarah secara jujur.

Penghilangan buku dari perpustakaan utamanya dari perustakaan di kampus-kampus ini menjadi bukti tidak ada upaya akademis yang jelas untuk mendukung atau menolak ajaran Marxisme. Dosen-dosen juga jarang menyinggung Partai Komunis Indonesia dan lebih banyak tunduk dan tetap berguru kepada rezim Orde Baru.

Mereka menerima mentah-mentah apa yang diinformasikan Orde Baru. Menghilangkan sejarah seperti menjadi sebuah kesepakatan bersama dan hal ini mengesankan bahwa warisan sejarah yang menceritakan penindasan terhadap kaum ”kiri” (komunis) menjadi realitas yang diterima secara ”ikhlas”.

Orde Baru sudah tumbang, namun sampai sekarang perpustakaan-perpustakaan tetap sepi dari buku-buku tentang komunisme. Upaya menjauh dari komunisme juga menjadi bukti bahwa kebersamaan ditolak dan terpecahnya hubungan yang disertai penindasan menjadi diterima.

Ketakutan terhadap rezim Orde Baru terus dipelihara dan kemudian menyerah terhadap dusta sejarah.       Buku Pergolakan Pemikiran Islam, Catatan Ahmad Wahib (2013) menarasikan seruan-seruan dan kritik Ahmad Wahib tentang bagaimana dia menjadi muslim yang tak hanya muslim karena opini masyarakat.

Ahmad Wahib menghendaki dirinya menjadi muslim yang benar, menjadi muslim sesuai yang ia yakini. Ia menggali apa sebenarnya muslim dengan mengendapkan dan mengolah pengalaman-pengalamannya yang menjelma menjadi muslim Indonesia yang memberontak.

Ahmad Wahib menulis: Bagaimana aku bisa memusuhi PKI melampaui batas seperti halnya teman-teman. Aku punya teman-teman aktivis ormas PKI. Dan hubungan kami terus baik sampai sekarang. Aku pernah bertetangga dengan mereka, bahkan sampai hari ini. Mereka memiliki putra-putra yang diserahkan padaku untuk diajari agama.

Lewat catatan hariannya Ahmad Wahib mengatakan manusia tidak berhak untuk memusuhi kelompok-kelompok yang oleh kebanyakan orang dijauhi dan bahkan dibenci. Menurut Ahmad Wahib, perbedaan mental, ilmu, dan pengalaman membuat manusia itu berbeda-beda dalam mengambil sikap.

Ini hal yang sulit untuk dibantah. Dan pernyataan-pernyataan itu telah mengantarkan kita pada perspektif-perspektif berbeda dan juga berseberangan bahwa tak selamanya apa yang oleh kebanyakan orang dianggap jelek atau berbahaya harus dihilangkan.

Soe Hok Gie, penulis buku Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan, juga menyerukan gugatan ketika melihat keadaan negeri yang kacau dan tak keruan. Soe Hok Gie menggugat saat pemerintah terus-menerus menindas ekonomi rakyat, mengganyang PKI, dan bentuk penindasan yang lain.

 

Kesadaran

Menurut Soe Hok Gie, menjadi tugas kaum intelingensia untuk mengambil tindakan. Soe Hok Gie menulis: Makin lama aku membaca makin timbul kesadaran ada sesuatu kekuatan yang supranatural, irasional dan tidak dapat dimengerti yang menguasai seluruh masyarakat dan pribadi.

Ia juga menulis: Dan seolah-olah manusia tidak dapat menolaknya apakah sense untuk mengkhianati sebagai kekuatan yang mutlak? Entah. Tapi aku kira begitu. Beberapa bulan yang lalu aku percaya sejarah adalah lokomotif yang dibuat manusia, tetapi manusia sendiri tidak dapat menahannya.

Pengakuan Soe Hok Gine ini mengingatkan kita bahwa seburuk apa pun sejarah tetap tidak bisa dihilangkan dari bumi ini. Sejarah tetaplah sejarah, seburuk apa pun tidak boleh dibungkam atau bahkan dihilangkan.

Upaya akademis bukan hanya memperkenalkan mata kuliah dan mengantarkan mahasiswa sebagai sarjana semata, sedangkan perpustakaan membuang dan tidak memberi tempat untuk sejarah Indonesia.

Kampus yang berguru dan juga masih tunduk terhadap rezim Orde Baru ini menjadi bukti nyata bahwa kampus hanya akan memperkenalkan kepada mahasiswa klasifikasi keilmuan yang lebih condong arahnya pada keinginan-keinginan praktis untuk membentuk mahasiswa bukan sebagai pembaca sejati.

Kita masih beruntung bisa membaca buku Catatan Seorang Demonstran, buku yang menceritakan secara jelas bagaimana keadaan Indonesia dari Orde Lama sampai Orde baru dengan jelas dan bentuk-bentuk penggayangan yang dilakukan PKI.

Perpustakaan tak perlu fobia kepada buku-buku tentang PKI dan sejenisnya. Tiap bacaan akan mencerdaskan. Tiap bacaan yang dibaca dalam kerangka inteletualitas bukanlah untuk melumpuhkan pikiran manusia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode