top ear
Suradi, 63, warga Tandon RT 002/RW 002, Desa Pare, Kecamatan Selogiri, Wonogiri, saat duduk di dekat peti mati yang ia manfaatkan sebagai meja di ruang tamu rumahnya, Rabu (3/3/2021). (Solopos.com/Aris Munandar)
  • SOLOPOS.COM
    Suradi, 63, warga Tandon RT 002/RW 002, Desa Pare, Kecamatan Selogiri, Wonogiri, saat duduk di dekat peti mati yang ia manfaatkan sebagai meja di ruang tamu rumahnya, Rabu (3/3/2021). (Solopos.com/Aris Munandar)

Merinding! Eks Staf Ahli Bupati Wonogiri Sudah Siapkan Peti Mati hingga Kuburan, Padahal Masih Hidup

Pensiunan anggota staf ahli Bupati Wonogiri, Suradi, telah mempersiapkan peti mati hingga liang lahat untuk dirinya dan sang istri.
Diterbitkan Rabu, 3/03/2021 - 14:28 WIB
oleh Solopos.com/Aris Munandar
2 menit baca

Solopos.com, WONOGIRI – Suradi, 63, warga Tandon RT 002/RW 002, Desa Pare, Kecamatan Selogiri, Wonogiri mempersipakan peti mati untuk dirinya bersama istrinya, Sularni, 62, ketika meninggal dunia nantinya. Kini kedua peti mati itu dijadikan meja di ruang tamu rumahnya.

Selain peti mati, Suradi juga telah memperisiapkan liang lahat dan kijing di Pemakaman Astonoloyo Dusun Pare, Desa Pare, Selogiri. Liang lahat yang sudah dikeruk itu kini diisi pasir kemudian di atasnya diberi batu nisan. Batu nisan diberi nama "Suradi belum meninggal".

Saat Solopos.com, masuk ke ruang tamu rumah Suradi di Wonogiri, Rabu (3/3/2021), satu peti mati yang disiapkan untuknya dijadikan meja dengan ditutupi taplak meja. Sekilas, tidak tampak bahwa itu merupakan peti mati. Karena tutup peti diposisikan terbalik. Sehingga bentuknya terlihat seperti meja biasa.

Baca juga: Pencarian Luweng di Wonogiri: Keruk Tanah Pakai Linggis & Bawa Alat Panjat Tebing

Dijadikan Meja

Sementara itu, peti yang disiapkan untuk Sularmi, berada di ruang tamu, namun tidak digunakan untuk meja. Meski begitu, peti mati itu tetap ditutup dengan taplak meja. Kedua peti itu berwarna cokelat tua pekat. Di peti, terdapat ukiran dan setiap sisinya ada tulisan arab bertuliskan istighfar (Astagfirullahal'adzim) dan tahlil (Laailahailallah).

Pria yang akrab disapa sengan Haji Suradi Prutul itu mengatakan peti mati ia pesan sejak 2010 lalu di toko penjualan peti, Krisak, Desa Singodutan, Selogiri, Wonogiri. Peti terbuat dari kayu jati kualitas super. Harga satu peti Rp10 juta, ditambah harga pengecatan Rp2,5 juta. Jadi total kedua peti yang dibeli itu sebesar Rp25 juta.

Baca juga: Legenda Roro Jonggrang & Misteri Umbul Pengging Boyolali

Sementara itu, kata Suradi, di pemakaman ada empat liang lahat yang disiapkan dan diperuntukkan untuk dirinya, istrinya, dan kedua mertuanya. Empat lubang dengan kedalamam 1,5 meter itu kini diisi pasir Kemudian di atasnya diberi batu nisan dengan naman "Suradi belum meninggal." Begitu juga dengan tiga kijing lainnya.

"Di makam saya bikin cungkup atau semacam bangunan pelindung dan ada gapuranya juga. Jalan ke makam saya cor, saya beli tanah untuk pelebaran jalan. Sehingga bisa dilewati mobil. Makam juga saya pasangi lima lampu merkuri agar terang. Total habis sekitar Rp100 juta," kata dia.

Suradi mengatakan, salah satu alasan peti mati itu digunakan untuk meja di ruang tamu rumahnya di Wonogiri adalah agar bermanfaat. Namun, ia mengaku tamu yang datang ke rumahnya tidak ada yang tahu bahwa meja itu merupaka peti, kecuali Suradi memberitahu kepada tamu itu.

Baca juga: Pusat Prostitusi PSK di Solo, Mungkinkah Dikukut Mas Gibran?


Editor : Profile Chelin Indra Sushmita
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terpopuler

Iklan Baris

berita terkini


Cek Berita Lainnya