top ear
Sholahuddin (Istimewa/Dokumen pribadi)
  • SOLOPOS.COM
    Sholahuddin (Istimewa/Dokumen pribadi)

Mereka yang Lupa...

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 11 November 2020. Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Solopos Institute.
Diterbitkan Minggu, 15/11/2020 - 20:34 WIB
oleh Solopos.com/Sholahuddin
4 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Dalam sebuah diskusi di grup WhatsApp, seorang anggota grup mengatakan kalau mau melihat karakter asli seseorang, berilah dia kekuasaan. Niscaya dia akan berubah. Diskusi di grup itu gayeng membahas perubahan karakter seseorang saat dia menduduki jabatan publik.

Teman saya itu merujuk kata-kata mantan Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln, nearly all men can stand adversity, but if you want to test a man’s character, give him power. Hampir semua orang tahan dengan kesulitan, tetapi jika Anda ingin menguji karakter seseorang, beri dia kekuasaan.

Anggota grup yang lain menyebut nama tokoh yang dinilai ”berubah” itu. Saya tidak perlu menyebut nama karena bisa bikin baper (terbawa perasaan). Yang sebelumnya dikenal kritis, tiba-tiba tumpul nalar kritisnya.

Tokoh yang sering mengkritik penguasa tempo dulu, kini sibuk mendelegitimasi aksi protes sebagai wujud kegelisahan publik. ”Saya dulu sering demo karena belum ada Mahkamah Konstitusi (MK),” begitu dia berapologi.

Tokoh yang dulu dipersepsikan merakyat, tiba-tiba menampakkan gelagat menjauh. Tokoh yang sebelumnya memaknai demokrasi sebagai kegembiraan rakyat, sekarang mempertontonkan praktik demokrasi yang kian menakutkan.

Perubahan karakter seseorang saat di lingkaran kekuasaan bukan rahasia lagi. Meski harus diakui pula ada orang yang tetap baik saat jadi orang penting. Saya jadi teringat kata-kata seorang tokoh politik saat musim pemilihan umum beberapa tahun silam.

Beri kesempatan orang baik untuk memimpi. Orang baik harus didorong masuk dalam lingkaran pengambil keputusan agar ia mampu mewarnai kekuasaan. Kira-kira begitu. Pertanyaannya, bagaimana orang baik tetap baik kalau berada pada habitus yang buruk?

Nilai-nilai sosial dan kebiasaan-kebiasaan yang berlangsung lama mengendap jadi perilaku manusia. Begitu tafsir sederhana saya terhadap habitus ala Pierre Bourdieu. Politik adalah habitus yang kompleks, ruwet, dan banyak kepentingan.

Saat orang masuk ke dalam lingkungan politik, seseorang tak lagi menjadi pribadi bebas. Dalam tafsir Immanuel Kant, manusia tak lagi otonom, punya otoritas berkehendak atas namanya sendiri, padahal otonom sebagai bentuk moralitas tertinggi manusia.

Sebaliknya ia menjadi heteronom. Orang berkehendak atas kemauan atau pengaruh pihak lain dalam habitus-nya. Bisa dibayangkan bukan? Diskusi di grup itu mencontohkan perubahan karakter orang saat ontran-ontran proses perumusan Undang-Undang Cipta Kerja beberapa waktu lalu.

Peserta diskusi mengkritik tokoh-tokoh yang bisa menjadi juru pencerah publik malah bersikap sebaliknya. UU Cipta Kerja yang telah diundangkan menjadi UU Nomor 11 Tahun 2020 kini masih menyisakan masalah. Saya tidak menyoroti konten UU yang tebalnya mencapai 1.187 halaman itu.

Saya lebih tertarik menilai karakter para pembentuk undang-undang menyikapi respons publik. Kegaduhan tidak perlu terjadi manakala para pengendali kekuasaan bisa arif mendengarkan suara publik yang menghendaki proses pembentukan UU dilakukan hati-hati.

Sayangnya, aksi protes, bahkan demonstrasi di jalan, tidak dimaknai sebagai kegelisahan rakyat yang telah memberi mandat untuk mengelola republik ini. Protes publik muncul karena penyusunan RUU sejak awal tidak transparan, tidak melibatkan partisipasi publik secara patut, serta isi produk legislasi yang menyisakan banyak pertanyaan.

Proses pembentukan UU seperti “kejar setoran” sehingga mengakibatkan produk legislasi yang buruk. Terjadi kesalahan-kesalahan substansial yang sungguh mengganggu. Para pengendali kekuasaan bukannya menyikapi semua kegelisahan publik secara bijak.

Bukan kelapangan hati untuk menemukan kebajikan atas karut-marut proses legislasi, tapi mereka sibuk mencari apologi dan pembenaran. Kegelisahan massal hanya dimaknai sebagai gerakan tanpa makna.

Kegelisahan massal hanya dipersepsikan sebagai gerakan orang yang kebelet hendak jadi penguasa. Kegelisahan massal hanya dimaknai karena ada pihak yang menunggangi. Tidak lebih dari itu.

Mereka Lupa

Mereka lupa para pembentuk UU diberi mandat rakyat untuk menjalankan tugas sebaik-baikya. Lupa sesungguhnya pemilihan umum bukan sekadar mencoblos gambar di bilik suara, tetapi harus dimaknai sebagai amanah yang dipercayakan pemilih kepada mereka.

Mereka lupa suara rakyat adalalah “suara Tuhan” yang layak untuk didengar. Mengabaikan suara rakyat sama saja mengabaikan suara Tuhan dalam makna sesungguhnya. Mereka lupa kekuasaan adalah sakral sebagai arena menebar kebajikan, bukan untuk menghegemoni yang lemah.

Ajaran kitab suci yang saya yakini sangat keras mengkritik model manusia jenis ini: punya hati tak mau memahami, punya mata tak mau melihat, punya telinga tak mau mendengar. Di mata Tuhan, mereka makhluk yang rendah. Mereka telah melawan fitrah dirinya sebagai manusia.

Dalam situasi seperti ini, saya jadi ingat ahli sejarah dunia Yuval Noah Harari melalui buku Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia. Ia menyebut manusia di muka planet ini sesungguhnya masuk spesies sapiens (bijak) dan dalam genus Homo (manusia). Jadilah Homo sapiens atau manusia-manusia yang bijaksana.

Sebuah predikat yang amat mulia. Kaum Homo sapiens ini mampu membuat tiga revolusi dalam hidup, yaitu kognitif (cara berpikir manusia), revolusi pertanian, dan revolusi sains. Revolusi ini yang membuat manusia bertahan dari kepunahan dan terus membangun kemajuan.

Kalau perspektif Harari ini saya pakai, sesungguhnya kini ada perubahan karakter Homo sapiens saat orang memegang jabatan publik. Perubahan bukan karena ada intervensi rekayasa genetika seperti diungkapkan Harari.

Perubahan karena lingkungan kekuasaan (habitus) yang menyebabkan manusia bisa berubah karakter dengan meninggalkan unsur “sapiens” pada dirinya. Jadilah Homo (tanpa) sapiens. Manusia yang lupa akan kearifan...


Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini