Merawat Kenangan

Merawat kenangan adalah sebuah bentuk penghargaan. Candi Borobudur layak mendapatkannya, karena kebanggaan bangsa.
SHARE
Merawat Kenangan
SOLOPOS.COM - Rini Yustiningsih (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, ACEH —  Kedai-kedai kopi di Banda Aceh tak pernah sepi. Terutama saat Sabtu malam. Hari Sabtu (14/5/2022) malam, puluhan kedai kopi di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, padat pengunjung. Padahal jarak antara satu kedai dengan kedai lainnya tak sampai 50 meter. Ratusan anak-anak muda Aceh berkumpul, bersenda-gurau di kedai-kedai kopi yang banyak tersebar di jantung Aceh itu.

Jika Solo terkenal dengan budaya wedhangan, maka Aceh dikenal dengan budaya ngupi. Kupi merupakan bahasa Gayo untuk menyebut kopi. Hampir semua kedai/warung kopi lebih menggunakan kata kupi dibanding kopi sebagai nama warungnya.

PromosiHari Keluarga Nasional: Kudu Tepat, Ortu Jangan Pelit Gadget ke Anak!

Cukup masuk akal kenapa kedai/warung kupi di Aceh ramai jujugan anak muda. Di Banda Aceh tak ada mal. Anak muda mau nongkrong atau main di mana? Karaoke khusus buat keluarga, atau hanya bisa dipakai beramai-ramai bersama teman, bioskop pun tak ada.

Surat untuk Bunda Selvi Gibran

Jika lebih dari pukul 21.00 WIB berpacaran di taman-taman kota bisa kena razia. Ya hiburan paling aman, sehat dan bikin gembira ya nongkrong bercengkrama dengan teman-teman maupun keluarga di kedai kupi.

kedai kopi
Suasana di salah satu kedai kopi d Banda Aceh, Mei 2022. (Solopos.com/Rini Yustiningsih)

Kedai kupi bisa buka hingga tengah malam. Ketika berkumpul di satu meja, nyaris tak satupun di antara mereka pegang gawai. Mereka saling bercerita dan tertawa bersama. Beda banget dengan pengunjung kedai kopi di Solo, duduk semeja tapi malah asyik dengan gawainya.

Hal lain yang layak diapresiasi, yakni Banda Aceh merupakan kota yang pintar merawat kenangan. Sisa-sisa tsunami dahsyat 26 Desember 2004 masih terawat dengan baik di beberapa tempat. Kenangan itu tidak hanya tersimpan di masing-masing benak warga Aceh. Namun, dibagikan kepada masyarakat luar Aceh lainnya.

Tujuannya sebagai pengingat bahwa tsunami dahsyat pernah terjadi meluluhlantakkan Aceh. Sebagai pengingat pula di atas segala kekuasan apapun, hanya Tuhan lah yang Maha Kuasa. Semua bisa terjadi seketika, jika Tuhan menginginkannya.

Salah satu tanda pengingat itu yakni monumen kapal tsunami di Lampulo, Kuta Alam, Banda Aceh. Saat tsunami, kapal ini terseret hingga nyangkut di atap rumah warga.

Yang menarik, kondisi itu oleh warga dibiarkan apa adanya. Kapal di atap rumah permukiman warga dijadikan monumen. Tempat itu dikelola oleh warga. Pengunjung tidak dikenai biaya tiket masuk, hanya dikenai tarif parkir untuk mobil. Itu pun seiklasnya.

Tempat monumental lainnya yakni Museum PLTD Apung terletak di Punge Bang Cut, Jaya Baru, Banda Aceh. Kapal ini sebelumnya merupakan kapal generator listrik PLN. Kapal seberat 2.600 ton pada saat tsunami terseret hingga ke daratan.

Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya gelombang tsunami pagi itu, mampu menyeret kapal sepanjang 63 meter dan seluas 1.900 meter persegi. Kapal ini saat tsunami berada di pelabuhan penyeberangan Ulee Lheuh, terseret hingga 2,4 km ke tempatnya saat ini.

Baik objek wisata kapal Lampulo maupun kapal PLTD tidak dikenai tarif  alias gratis. Pengunjung tidak ditarik bayaran apapun. Soal tarif objek wisata di Aceh, memang unik. Sebagian besar objek wisata dari mulai museum, monumen, hingga pantai, wisatawan tak ditariki bayaran.

Museum PLTD Aceh
Kapal PLTD yang terseret tsunami dijadikan museum di Aceh. (Solopos/Rini Yustiningsih)

Museum Tsunami Aceh yang dibangun dengan arsitektur ciamik dan teknologi lumayan menarik hanya menetapkan harga tiket Rp5.000 per wisatawan. Wisatawan Aceh datang dari segala penjuru. Terbanyak dari daerah lain di Sumatra.

Borobudur

Aceh berhasil merawat kenangan. Jejak-jejak tsunami tak dibiarkan menjadi barang rongsok, kotor teronggok tak berguna. Jejak-jejak itu dirawat dengan baik, dikelola hingga akhirnya menjadi objek wisata. Kenangan bagi mereka mahal harganya, jadi layak mendapat tempat istimewa.

Merawat kenangan, itu pula yang kini menjadi perhatian sejumah pihak terkait polemik tiket naik ke Candi Borobudur sebesar Rp750.000. Sebenarnya ada tujuan mulia pemerintah dengan memberlakukan tiket naik ke Candi Borobudur itu, yakni memberlakukan pembatasan pengunjung. Penyelamatan Candi Buddha terbesar di dunia.

Sebenarnya masyarakat masih bisa masuk ke kompleks kawasan candi dengan tiket Rp50.000. Hanya saja dengan tiket itu nantinya mereka tidak bisa naik ke candi. Beda dengan dulu. Sebelumnya tiket masuk yang dibebankan kepada wisatawan juga bisa menjadi akses bagi wisatawan untuk naik ke candi menyusuri Lorong-lorong dan tingkatannya.

Desember 2019, saya berkesempatan berwisata ke candi ini. Cukup kaget juga melihat ribuan wisatawan yang datang. Sebagian besar wisatawan domestik. Mereka datang berombongan. Pengelola candi sudah memasang di banyak titik soal larangan yang harus dipatuhi wisatawan. Di antaranya, dilarang buang sampah sembarangan, dilarang mencorat-coret candi, dilarang naik ke bagian stupa. Tujuannya yakni menjaga kondisi candi. Namun, sayangnya masih banyak wisatawaan yang belum mematuhi.

Namun, masih ditemukan coretan-coretan liar di batu candi yang dilakukan tangan-tangan nakal. Masih tercium pula samar-samar bau pesing di beberapa sudut. Dan masih ada pula wisatawan yang naik ke stupa candi, bahkan menduduki patung-patung Buddha yang terletak di bagian stupa terbuka. Mereka merasa pose foto terbaik yakni duduk di patung-patung maupun stupa itu.

Lebih miris lagi, tak jauh dari lokasi wisatawan domestik ini mencari sudut terbaik untuk foto, ada serombongan wisatawan dari Kamboja yang tengah berdoa di depan patung-patung ini. Bagaimanapun juga Borobudur bagi umat Buddha adalah tempat peribadatan mereka.

Candi Borobudur
Suasana Candi Borobudur pada 26 Desember 2019. (Solopos/Rini Yustiningsih)

Hasil kajian Balai Konservasi Borobudur menunjukkan tingkat keausan batu candi yang makin mengkhawatirkan dan adanya pengikisan dan penurunan lantai candi. Sejak 2003 hingga 2007 terjadi tingkat keausan sebesar 0,7 cm pada bagian tangga naik. Kemudian pada sisi utara, selatan dan barat tingkat keuasan per tahun mencapai 0,8 cm.

Kondisi ini dipicu oleh beban jumlah wisatawan. Badan Pusat Statistik Magelang menyebut jumlah wisatawan domestik ke Borobudur mencapai 3.663.054 pengunjung (2018),  2019 sebanyak 3.747.757 orang.

Pada 2020, turun menjadi 965.699 orang karena pandemi.
Sementara wisatawan manca sebanyak 192.231 pengunjung (2018), pada 2019 naik menjadi 242.082 orang. Namun pada 2020 turun menjadi 31.551 orang.

Kini, di masa pelonggaran Covid-19, diprediksi wisatawan menggeliat lagi. Pemerintah akan membatasi wisawatan yang naik ke candi menjadi 1.200 orang per hari. Instrumen pembatasan pengunjung dengan pengenaan tarif Rp750.000 menuai pro-kontra.

Sebenarnya tidak hanya itu. Bisa saja upaya pembatasan pengunjung dilakukan dengan melihat “niat/tujuan” mereka yang datang.  Misalkan bagian-bagian dalam (naik) candi hanya boleh diakses untuk kepentingan ibadah, penelitian, dan dokumentasi. Jadi wajar dikenakan tarif khusus.

Narasi yang dibangun untuk pembatasan pengunjung bukan soal harga tiket, namun lebih kepada tujuan aksesibilitas.

Bagaimana pun juga menyelamatkan Borobudur adalah sebuah keniscayaan. Merawat kenangan adalah sebuah bentuk penghargaan. Borobudur layak mendapatkannya, karena kebanggaan bangsa.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago