Menjaga Kebudayaan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 2 Juni 2021. Esai ini karya Yuliyanti Dewi Untari, guru Bahasa Jawa di SMAN 1 Solo.
Menjaga Kebudayaan Kita

Solopos.com, SOLO -- Indonesia memiliki budaya yang beragam. Tiap provinsi memiliki budaya masing-masing. Jawa Tengah yang terdiri dari 35 kabupaten/kota tentu memiliki 35 kekhasan daerah masing-masing. Penjagaan budaya saat ini dilakukan dengan berbagai cara. Aneka cara yang ditempuh sepertinya belum menyentuh generasi muda agar  mencintai kebudayaan sendiri.

Di tempat saya mengajar ekstrakurikuler budaya Jepang lebih diminati daripada ekstrakurikuler karawitan atau tari tradisional Jawa. Kita tidak bisa begitu saja menyalahkan kaum uda. Mereka berbuat seperti itu karena tidak tahu betapa menariknya kebudayaan kita. Media berpengaruh besar pada ketertarikan seseorang.

Saat ini media lebih memilih menampilkan drama dari belahan dunia lain dibanding mengangkat cerita asli dari kebudayaan sendiri. Perlu berbagai pendekatan agar generasi milenial mencintai budaya sendiri. Mereka bukan tidak cinta, hanya tidak tahu. Semacam tak kenal maka tak sayang. Begitulah generasi muda pada kebudayaan mereka.

Kebudayaan kita termasuk maju. Kebudayaan kita memiliki aksara sebagai wujud kemajuan literasi. Dua pertiga naskah Jawa kuno masih ada di Belanda. Ini menjadikan kita berpikir sebenarnya kebudayaan kita sangat menarik. Pemerintah colonial Belanda pada waktu itu berusaha menjauhkan kita dari budaya sendiri agar kita tak punya jati diri sehingga mudah dipengaruhi.

Silakan baca cerita-cerita pada zaman dahulu tentang penggambaran orang desa. Orang desa digambarkan malas dan bodoh. Penggambaran ini melekat sehingga kita mengasosiasikan orang desa seperti gambaran para penulis masa lalu itu. Cara ini efektif mengirim anak-anak muda pergi ke kota dan enggan membangun desa, meninggalkan kebudayaan mereka.

Kondisi ini yang sedang terjadi pada generasi muda. Apabila kita terus membiarkan hal ini berlanjut, tidak ada upaya mendekatkan kebudayaan sendiri kepada generasi muda, mereka akan kehilangan jati diri. Pelestarian kebudayaan daerah mestinya secara menyeluruh, tidak hanya tampak luarnya.

Pertunjukan-pertunjukan kesenian sebagai karya kebudayaan daerah digelar secara spektakuler namun nilai-nilai kebudayaan yang melatari kesenian daerah itu muncul tidak dikelola dengan baik. Generasi muda masa kini yang terbiasa melihat permukaan pada akhirnya hanya akan melanjutkan pertunjukan sebagi rutinitas tanpa makna.

Tentu berbeda bila ada pemahaman mendalam terhadap pergelaran seni. Generasi penerus akan mencintai budaya dengan hati, pikiran, dan indra. Media digital dan media sosial yang saat ini sangat digemari kaum muda mestinya dimanfaatkan untuk mengenalkan generasi muda kepada akar kebudayaan.

Setelah Kongres Aksara Jawa di Jogja pada Maret 2021  lalu, pengenalan aksara Jawa untuk pengetikan di telepon seluler mulai dilakukan. Ini salah satu upaya mengenalkan aksara Jawa kepada generasi pemegang gawai. Organisasi kemasyarakatan yang intensif memproduksi konten bersumber budaya Jawa juga upaya untuk mengenalkan kebudayaan Jawa kepada generasi muda.

Mutiara Budaya Jawa

Solo Bersimfoni adalah salah satu organisasi kemasyarakatan yang mengangkat nilai-nilai budaya Jawa untuk kaum milenial. Organisasi ini aktif memproduksi konten media sosial bertajuk Hasthalaku. Nilai-nilai tersebut adalah guyub rukun, gotong royong, tepa selira, ewuh pekewuh, pangerten, grapyak semanak, lembah manah, dan andhap asor. 

Guyub rukun bermakna berkumpul, berkelompok, yang dapat bermakna pula sebagai rukun. Guyub dapat bermakna kebersamaan sedangkan rukun bermakna keselarasan, kehidupan tanpa perselisihan, pertikaian, dan konflik. Apabila digabungkan guyub rukun merupakan kondisi yang damai, selaras tanpa pertikaian, yang dijaga secara bersama-sama.

Budaya Jawa mengajarkan pepatah rukun agawe santosa crah agawe bubrah yang bermakna kerukunan akan menciptakan kedamaian, keharmonisan, dan kesejahteraan. Pertikaian akan menciptakan perpecahan dan disharmoni antarsesama. Guyub rukun digambarkan sebagai situasi ideal masyarakat hidup dalam keharmonisan.

Bukan karena semua sama, tetapi mampu menyelaraskan keberagaman ke dalam satu situasi yang diperjuangkan bersama. Gotong royong berasal dari kata gotong yang artinya memikul atau mengangkat dan royong yang artinya bersama-sama. Gotong royong adalah bekerja bersama-sama secara tolong-menolong, bantu-membantu. Gotong yong merupakan istilah asli Indonesia yang menjadi landasan semangat membangun bangsa.

Presiden Sukarno menyampaikan makna gotong royong sebagai pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, dan perjuangan bantu-membantu bersama. Gotong royong sesuai dengan definisi Aristoteles tentang manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan manusia lain.

Koentjaraningrat membagi gotong royong menjadi dua jenis, gotong royong tolong-menolong dan gotong royong kerja bakti. Gotong royong tolong-menolong terjadi pada aktivitas pertanian, rumah tangga, hajatan atau pesta, perayaan, serta peristiwa bencana. Gotong royong kerja bakti biasanya dilakukan untuk mengerjakan sesuatu untuk kepentingan umum seperti bersih desa.

Tepa selira merupakan konsep masyarakat Jawa dalam bersikap. Tindakan yang dilakukan seseorang akan diterima atau dirasakan orang lain. Tepa selira berarti bercermin diri. Konsep tepa selira memiliki padanan dengan konsep tenggang rasa. Bertenggang rasa adalah suatu sikap hidup dalam ucapan, perbuatan, tingkah laku yang mencerminkan menghargai dan menghormati orang lain.

Ewuh pekewuh terkait kesopanan seseorang. Ewuh pekewuh dapat muncul akibat individu mengenal atau menerima suatu kebaikan dari orang lain sehingga bagi individu itu sulit menolak atau mengabaikan permintaan orang tersebut. Ewuh pekewuh biasanya cenderung dihadapi orang yang lebih muda terhadap orang yang lebih tua.

Soeharjono (2011) mendefenisikan ewuh pekewuh sebagai sikap sungkan atau rasa segan serta menjunjung tinggi rasa hormat. Menurut Tobing (2010), ewuh pekewuh merupakan nilai dalam masyarakat Jawa yang terdiri dari beberapa prinsip yang sangat erat hubunganya, yaitu kerukunan dan hormat.

Saling menghargai dalam kehidupan bermasyarakat akan membuahkan kerukunan, ketenangan, perdamaian sehingga membangun persatuan bangsa. Dalam budaya Jawa, pangerten adalah kunci utama kehidupan bermasyarakat. Pangerten dalam bahasa Indonesia berarti berpengertian atau peka pada kondisi sesama.

Ciri-ciri Kepribadian

Manusia diciptakan Tuhan dengan berbagai perbedaan. Dalam masyarakat yang majemuk, masing-masing anggota masyarakat dituntut hidup dengan orang lain yang memiliki perbedaan tersebut. Perbedaan dalam masyarakat mestinya dipandang sebagai rahmat Tuhan. Sikap pangerten digunakan untuk memahami perbedaan tanpa perselisihan.

Grapyak artinya seneng aruh-aruh dan semanak berarti hangat dan mudah akrab. Grapryak semanak ditunjukan dengan kebiasaan menyapa orang yang dikenal maupun orang yang baru ditemui. Grapyak semanak adalah sikap pada diri sesorang yang akrab dan menyenangkan dalam pergaulan, seperti suka tersenyum, sopan, dan hormat dalam pembicaraan, suka menyapa, suka membantu tanpa pamrih.

Grapyak semanak menjadikan orang yang baru saja ditemui merasa nyaman dan tidak terasing serta dapat mencairkan suasana dalam berkomunikasi. Grapyak semanak perlu dikembangkan dalam kehidupan sehari- hari. Lembah manah adalah sikap seseorang yang tidak merasa lebih daripada orang lain.

Seseorang dengan sikap lembah manah dapat memosisikan diri sama dengan orang lain, tidak merasa lebih pintar, tidak merasa lebih mahir atau menyombongkan jabatan yang dimiliki, dan menghargai orang lain. Seseorang yang memiliki sikap lembah manah tidak akan bersikap sombong, relatif rendah hati memandang orang lain sama sebagai ciptaan Tuhan yang wajib dihargai dan dihormati.

Lembah manah suatu sikap yang sangat perlu untuk dikembangkan dalam kehidupan agar manusia terhindar dari gaya hidup pamer yang berujung pada terlilit utang. Andhap asor tidak berarti rendah diri, tetapi rendah hati. Andhap asor adalah sikap seseorang yang tidak membedakan golongan, pangkat, kedudukan, maupun kekayaan.

Orang yang bersikap andhap asor tidak mau menonojolkan diri meskipun sebenarnya ia memiliki kemampuan. Orang Jawa sangat mengutamakan andhap asor bila berhubungan dengan orang lain. Orang yang andhap asor justru akan dihormati oleh orang lain daripada orang yang menganggap remeh orang lain.

Nilai-nilai budaya Jawa terbukti dan teruji untuk menyatukan Majapahit kala itu. Saat teknologi komunikasi beum secanggih sekarang, para pendahulu menggunakan nilai-nilai kebudayaan Jawa sebagai alat pemersatu. Kita harus berbenah menggali nila-nilai budaya Jawa untuk pijakan persatuan bangsa.

Nilai-nilai budaya perlu digaungkan di media sosial agar generasi milenial lebih dekat dan lebih memahami. Saat kita memahami budaya sendiri tentu kita akan sangat percaya diri berdialog dengan yang lain tentang keragaman budaya. Memahami budaya sendiri bukan untuk menunjukan budaya kita lebih unggul.

Yang terpenting adalah mengenal dan mengetahui adat dan tatakrama yang harus kita pahami sebagai ciri kepribadian kita. Setelah kita memahami kebudayaan sendiri kita akan lebih mudah memahami kebudayaan lainya. Ini akan menuntun kita berjalan beriringan di tengah keberagaman dalam persatuan.

Promo & Events
Berita Terkait
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago