Meningkat Saat Ramadan, Sehari Puluhan PGOT Terjaring Razia di Solo
Solopos.com|soloraya

Meningkat Saat Ramadan, Sehari Puluhan PGOT Terjaring Razia di Solo

Jumlah pengemis gelandangan dan orang telantar atau PGOT di Kota Solo meningkat pada Ramadan ini, sehari bisa puluhan orang terjaring razia.

Solopos.com, SOLO -- Razia yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Solo mencatatkan peningkatan jumlah pengemis, gelandangan, dan orang terlantar atau PGOT meningkat selama Ramadan.

Dalam sehari ada 20-30 PGOT yang terjaring razia. Mereka terjaring di jalan-jalan seperti Jl Slamet Riyadi, Jl Dr Moewardi, Jl Adisucipto, Jl Kol Soetarto, dan Jl Ir Sutami.

Selain itu, mereka juga kerap berkerumun di taman-taman kota. “Tiap malam kami amankan kemudian kami pulangkan,” terang Kepala Satpol PP Kota Solo, Arif Darmawan, kepada Solopos.com, Senin (19/4/2021).

Baca Juga: Wali Kota Gibran Didesak Keluarkan Larangan Perdagangan Daging Anjing Di Solo

Satpol PP Solo mengantisipasi kedatangan rombongan PGOT dari luar kota yang sengaja mencari momen pada 10 hari kedua Ramadan hingga seterusnya dengan terus melakukan razia.

“Kami juga sudah mengantisipasi untuk rumah-rumah, kos-kosan jangan ada lagi penampungan untuk pemburu sedekah. Kami sampaikan ke Kementerian Agama supaya sumbangan disalurkan melalui lembaga-lembaga yang resmi saja. Itu lebih tetap sasaran, tidak ke orang yang mencari-cari sedekah,” imbuhnya.

Selain PGOT, Satpol PP juga menyebut potensi kerumunan yang ditimbulkan saat pembagian takjil atau sedekah langsung kepada masyarakat. Pembagian takjil langsung tak ubahnya pengumpulan massa sehingga membuat orang luar daerah datang ke Solo.

Baca Juga: Kasus Covid-19 Solo Mulai Merangkak Naik Lur, Prokes Jangan Kendur!

Petasan

Selain PGOT, persoalan lainnya di Kota Solo saat momentum Ramadan adalah penyalaan petasan oleh anak-anak. Hingga pekan ini, sudah 27 anak yang diberi pembinaan dengan memanggil orang tua bersangkutan.

“Sebagian besar ini petasan rakitan, pakai pipa, busi. Penjualannya sudah kami sisir, sebagian besar hanya kembang api. Tidak ada petasan yang meledak. Artinya kalau pun ada itu masih dicari. Ketika ada laporan, kami langsung datangi, tapi sudah tidak ada pelakunya. Kami sampaikan kalau memang ada langsung diidentifikasi orangnya nanti kita lakukan pembinaan lebih lanjut,” jelasnya.

Baca Juga: Pernikahan Dini Sragen: Masaran Pegang Rekor Terbanyak Dalam 2 Tahun, Apa Penyebabnya?

Lokasi dengan laporan petasan terbanyak meliputi Mojosongo, Karangasem, Gandekan, dan lain sebagainya. Laporan lainnya selama pekan pertama Ramadan ini adalah buka bersama di rumah makan dan hotel yang masih nekat prasmanan. Padahal, Surat Edaran (SE) Wali Kota tegas melarang penyajian makanan dengan prasmanan.

“Kalau pun prasmanan harus ada penyajinya. Tapi kadang-kadang diambilkan risih akhirnya ambil sendiri. Sudah kami lakukan pembinaan. Selama empat hari ini sudah ada tuga surat peringatan (SP) yang kami keluarkan, salah satunya hotel,” tutup Arif.




Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler

Espos Premium
Berita Terkini
Indeks

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago