Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Mengupas Hipospadia, Kelainan Bawaan yang Bisa Dialami Anak Laki-Laki

Dokter Spesialis Urologi dan Konsultan Urologi Anak Rumah Sakit (RS) JIH Solo, Fajar Sudarsono, menjelaskan hipospadia termasuk jenis kelainan bawaan pada anak laki-laki.
Mengupas Hipospadia, Kelainan Bawaan yang Bisa Dialami Anak Laki-Laki
SOLOPOS.COM - Hipospadia termasuk jenis kelainan bawaan pada anak laki-laki. (ILustrasi/Solopos Dok)

Solopos.com, SOLO — Pernahkah Anda mendengar istilah hipospadia yang biasa dialami anak laki-laki?

Hipospadia terjadi ketika lubang saluran kencing pada anak laki-laki tidak berada pada ujung kepala penis atau lokasi yang semestinya.

Dokter Spesialis Urologi dan Konsultan Urologi Anak Rumah Sakit (RS) JIH Solo, Fajar Sudarsono, menjelaskan hipospadia termasuk jenis kelainan bawaan pada anak laki-laki. Dimana pada anak dengan hipospadia, memiliki lubang kencing yang tidak berada pada ujung penis.

“Secara umum dan mudah dipahami, hipospadia adalah suatu kelainan atau keadaan dimana lubang kencing pada anak laki-laki itu tidak pada ujung kemaluan, tapi di bawah. Itu merupakan kelainan bawaan sejak lahir. Kondisinya bisa ringan, sedang, sampai berat,” kata dia, Kamis (9/6/2022).

Hipospadia bisa dikatakan ringan jika posisi lubang kencing, meski tidak berada di lokasi semestinya, namun masih di area kepala penis. Sedangkan untuk kategori sedang hingga berat, ketika posisi lubang kencing berada di bawah kepala penis.

Baca Juga: One Stop Dental Care Rumah Sakit JIH Solo, Atasi Tuntas Masalah Gigi

Bisa di area batang penis hingga di pangkal penis bahkan di area kantung penis. Bahkan terkadang, ada kondisi penis yang sampai melengkung ke bawah ketika ereksi.

Ada juga kondisi kulit kepala penis yang tidak menutup kepala penis secara sempurna. Menurutnya hipospadia merupakan jenis kelainan yang harus mendapat perhatian.

Sebab kondisi ini jika tidak mendapatkan penanganan sedini mungkin akan berdampak pada masa depan anak, terlebih jika sudah menginjak dewasa. Sebab kelainan hipospadia akan berdampak secara fungsional pada alat kelaminnya.

Terlebih ketika anak tersebut sudah dewasa dan menikah, akan kesulitan mendapatkan keturunan karena fungsional penisnya yang terkendala. Selain dari segi fungsional, jika kondisi tersebut tidak segera ditangani, akan berdampak pada psikologis anak.

Terlebih jika anak sudah menginjak usia sekolah. Untuk itu orang tua juga harus memperhatikan kondisi anak saat masih bayi.

Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan & RS JIH Solo Siap Layani Pasien Kecelakaan Kerja

Dokter Spesialis Urologi dan Konsultan Urologi Anak Rumah Sakit (RS) JIH Solo, Fajar Sudarsono. (Istimewa)
Dokter Spesialis Urologi dan Konsultan Urologi Anak Rumah Sakit (RS) JIH Solo, Fajar Sudarsono. (Istimewa)

Penanganan hipospadia akan dilakukan sesuai dengan kondisi atau tingkat kelainannya. Jika masih dalam kategori ringan, kecenderungannya bisa dilakukan dalam satu tahap operasi. Namun ketika kondisinya masuk kategori berat, biasanya akan dilakukan dua tahap penanganan.

Tahap pertama dilakukan untuk meluruskan penis jika kelainan disertai penis melengkung. Kemudian setelah empat sampai enam bulan, setelah jaringan pada penanganan tahap pertama sudah bagus, dan kondisi sudah memungkinkan, dapat dilakukan penanganan tahap kedua.

Tahap ini dilakukan untuk membuat saluran kencing, agar posisinya di ujung penis atau pada lokasi yang semestinya.



Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terpopular
    Indeks Berita
    Berita Terkini
    Indeks Berita
    Part of Solopos.com
    Punya akun? Silahkan login
    Daftar sekarang...
    Support - FaQ
    Privacy Policy
    Tentang Kami
    Kontak Kami
    Night Mode