Mengenal Hipotermia seperti Dialami Bayi yang Ditemukan di Wonogiri

Tips parenting kali ini membahas hipotermia pada bayi baru lahir seperti dialami orok yang ditemukan di Wonogiri.
SHARE
Mengenal Hipotermia seperti Dialami Bayi yang Ditemukan di Wonogiri
SOLOPOS.COM - Ilustrasi bayi hipotermia (Freepik)

Solopos.com, SOLO–Hipotermia juga bisa dialami bayi seperti yang terjadi pada bayi perempuan yang ditemukan tergeletak di dalam kardus di dekat jembatan, tepatnya di jalan perkampungan Lingkungan RT 005/RW 002, Kelurahan Wuryorejo, Kecamatan Wonogiri, Wonogiri, Selasa (24/8/2021).

Menurut Bidan Puskesmas II Wonogiri, Sinta Rusitasari, saat ditemukan bayi terlihat dehidrasi dan mengalami hipotermia atau kedinginan. Menurut dia, tali pusar bayi masih terdapat bercak darah karena tidak diklem.

PromosiTop! Bos Tokopedia Masuk List Most Extraordinary Women Business Leader

Hipotermia pada bayi baru lahir merupakan kondisi  dengan suhu di bawah 36,5 derajat Celcius. Mengapa hal ini bisa terjadi? Sistem pengaturan suhu tubuh pada bayi  belum berfungsi secara optimal, sehingga anak yang baru lahir akan mudah kehilangan suhu tubuh terutama pada masa 6-12 jam setelah kelahiran.

Baca Juga: Bayi Dibuang Dalam Kardus di Wonogiri Sempat Dehidrasi dan Mengalami Hipotermia

Kondisi lingkungan dingin, bayi tanpa selimut dan yang paling sering adalah subkutan yang tipis mampu mempercepat proses penurunan suhu tersebut. Bayi yang mengalami hipotermia akan mengalami penurunan kekuatan mengisap ASI, wajahnya akan pucat, kulitnya akan mengeras dan memerah dan bahkan akan mengalami kesulitan bernapas, sehingga bayi baru lahir harus tetap di jaga kehangatannya.

Mengutip situs repository.poltekkes-denpasar.ac.id, Selasa (24/8/2021), berikut ini penanganan bayi yang mengalami hipotermia :

1. Bayi yang telah mengalami hipotermi memiliki risiko besar untuk terjadi kematian, sehingga ketika terjadi hipotermi maka tindakan yang harus dilakukan pertama adalah hangatkan bayi dengan penyinaran atau inkubator.

2. Pakai metode kanguru, yaitu metode dengan memanfaatkan panas tubuh dari ibu. Bayi ditelungkupkan di dada ibu sehingga terjadi kontak langsung dengan kulit ibu. Untuk menjaga kehangatan maka bayi dan ibu harus berada dalam satu pakaian atau bahkan selimut, sehingga suhu bayi tetap hangat di dekapan ibu.

Baca Juga: Waspadai Dampak Covid-19 Terhadap Pertumbuhan Anak

3. Apabila setelah dilakukan tindakan tersebut, bayi tetap masih dingin, maka selimuti bayi dan ibu dengan pakaian atau selimut yang telah disetrika terlebih dahulu, dilakukan secara berulang sampai suhu tubuh bayi kembali hangat.

4. Saat mengalami hipotermia biasanya bayi akan mengalami hipoglikemia, sehingga ibu harus memberikan bayinya ASI sedikit-sedikit tetapi sering. Bila bayi tidak mau menghisap atau reflek hisapnya lemah, maka diberikan infus glukosa 10% sebanyak 60-80 ml/kg per hari



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago