top ear
Sholahuddin (Istimewa/Dokumen pribadi)
  • SOLOPOS.COM
    Sholahuddin (Istimewa/Dokumen pribadi)

Menertawakan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 3 Februari 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.
Diterbitkan Selasa, 16/02/2021 - 22:04 WIB
oleh Solopos.com/Sholahuddin
4 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Seorang pemilik akun media sosial mengunggah sebuah video. Video itu berisi seorang pengendara motor mengangkut tiga galon air minum yang ditaruh di jok bagian belakang. Sang pengendara motor baru saja parkir di sebuah emperan rumah yang sedikit menurun lantainya. Karena beban berat di bagian belakang saat sang pengendara memundurkan motornya, tiba-tiba motor terjungkal. Sang pengendara terlempar ke belakang dan jatuh.

Seolah tanpa berdosa, sang pemilik akun menulis keterangan: “Mari kita tertawa sejenak”.  Saya tidak tertawa. Justru bersedih. Saya bertanya dalam hati, bukankah pengendara motor jatuh adalah musibah? Mengapa justru sang pemilik akun mengajak publik tertawa? Di mana letak kelucuannya?

Pada kesempatan lain, seseorang mengunggah video pengendara motor yang jatuh terpeleset di genangan air di jalan akibat hujan. Penasaran, saya buka di kolom komentar. Sungguh ramai. Warganet ramai-ramai memaki si pengendara. Memaki sang pengendara yang dinilai ngebut, menyalahkan karena sudah tahu ada genangan air  tetap saja diterjang. Saya yakin  para komentator belum memahami konstruksi fakta secara utuh. Tapi makian kadung dilontarkan.

Sebuah video truk pengangkut air minum dalam botol terguling. Air minum dalam botol itu pun tumpah menjadi rebutan warga. Seseorang merekam dan mengunggahnya dengan narasi mengajak agar orang lain mengambil air minum yang tumpah itu. Beruntung aksi main jarah ini dikecam publik. Kemudian muncul gerakan menggalang bantuan untuk sang sopir truk.

Baik yang menertawakan, memaki, atau mengambil keuntungan orang yang terkena musibah, prinsipnya sama saja. Sama-sama merendahkan kemanusiaan korban. Apakah masih ada video lain yang sejenis? Sangat  banyak. Saya sering menemukan potongan-potongan video musibah yang dipublikasikan dengan maksud menertawakan si korban.

Saya yakin ini adalah anomali. Sebuah fenomena yang menyimpang dari kenormalan. Saya masih percaya ini bukan watak warga Indonesia. Bagaimana mungkin saat orang lain terkena musibah justru menjadi bahan untuk tertawa? Bagaimana mungkin saat melihat orang lain terkena musibah justru memaki-maki korban? Tapi ini persoalan serius. Apapun alasannya, ketidaknormalan seperti ini tidak bisa ditoleransi.

Normalnya, saat orang tengah dirundung kemalangan, muncul rasa empati dari orang lain. Empati itu yang mendorong orang untuk membantu atau paling tidak mendoakan si korban. Empati adalah menempatkan diri kita seolah-olah pada posisi orang lain—dalam hal ini adalah korban. Ketika orang bisa berempati, tak mungkin orang terbahak-bahak di atas penderitaan orang. Tidak ada alasan moral maupun etis sedikitpun yang membolehkan kita tertawa atau menertawakan.

Keniscayaan

Adalah sebuah keniscayaan, di era serba digital ini, orang dengan mudah merekam sebuah peristiwa. Kamera bertebaran di mana-mana, baik melalui kamera pemantau maupun kamera smartphone. Dengan sangat mudah pula orang menyebarkan konten-konten tersebut melalui berbagai platform digital. Setiap hari kita disuguhi aneka konten. Jagat digital seolah membebaskan setiap orang mengemas pesan semaunya dengan mengabaikan kaidah kepantasan.

Ini yang mengakibatkan antara kejadian dengan kemasan pesan yang disampaikan bisa bertentangan. Kebebasan itu pula yang mengakibatkan kejadian seperti kecelakaan dikemas seolah-olah sekadar tontonan, bahkan bentuk kelucuan. Anehnya lagi, sang penerima pesan ikut girang menerima ketidaknormalan ini.

Dalam perspektif  F. Budi Hardiman melalui buku Seni Memahami, orang yang menyebarkan pesan maupun penerima pesan dalam video-video tersebut baru sebatas “mengetahui”, belum sampai pada tahap “memahami.” Dua terminologi ini jauh berbeda. Aspek mengetahui saat orang menyebarkan atau menerima teks video karena sekadar tahu ada peristiwa. Sangat permukaan.

Memahami lebih dari sekadar mengetahui. Memahami mengacu pada kemampuan untuk menjangkau pribadi seseorang. Memahami adalah saat kita menangkap makna dari sebuah teks.  Ketika seseorang menemukan kedalaman makna, ia akan menemukan kearifan.

Budi Hardiman kemudian menganalogikan penyampaian pesan seperti dilakukan Hermes, tokoh mitologi Yunani Kuno yang bertindak sebagai utusan dewa-dewa untuk menyampaikan pesan-pesan ilahi kepada manusia. Pertama, pihak yang menyampaikan pesan harus memahami maksud pesan itu. Kedua, agar maksud pesan dapat disampaikan, sang penyampai pesan harus membuat artikulasi yang sesuai dengan maksud penyampai.

Video kecelakaan maupun  kemalangan lainnya, galibnya dimaknai sebagai peristiwa yang perlu mengundang empati. Dengan perspektif memahami, publik sebagai penyebar maupun penerima teks bisa menempatkan diri tak berjarak dengan objek agar bisa menemukan makna.  Bukan malah menempatkan diri sebagai penonton yang terasing dari teks.

Dalam hidup, kita butuh humor. Butuh tertawa. Tapi tidak asal tertawa. Dalam bahasa Majalah Prisma, kita butuh humor yang adil dan beradab. Bukan humor yang merendahkan orang lain. Thomas Hobbes, sebagaimana dikutip Daniel Dhakidae, tertawa adalah sudden glory, kegirangan besar dadakan dan bisa menunjukkan rasa superior karena bisa bermakna merendahkan orang lain. Jadi tertawa atau menertawakan bisa dikaitkan dengan hegemoni.

Pesannya adalah: tertawalah secara hati-hati. Bolehlah menertawakan pejabat yang mencuri uang bantuan sosial. Menertawakan penguasa yang beralibi turunnya indeks persepsi korupsi di Indonesia akibat pandemi. Perilaku-perilaku seperti ini memang layak ditertawakan. Tapi menertawakan kemalangan jelas tidak beradab. Menurut Hobbes, menertawakan kekurangan orang lain adalah pertanda kekerdilan jiwa...


Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terpopuler

Iklan Baris

berita terkini


Cek Berita Lainnya