Menengok Industri Batik di Kampung Batik Semarang, Lokasinya di Dekat Kota Lama

Kota Semarang memiliki kampung batik di Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur, dengan pengrajin batik yang mulai tumbuh.
Menengok Industri Batik di Kampung Batik Semarang, Lokasinya di Dekat Kota Lama
SOLOPOS.COM - Ketua Paguyuban Batik Semarang, Eko Hariyanto, menunjukkan batik khas Semarang yang memiliki motif Warak, atau hewan mitologi khas Kota Semarang di gerainya, Selasa (27/7/2021). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)

Banner Wisata Joglosemar

Solopos.com, SEMARANG – “Memang Semarang punya Kampung Batik. Di mana itu? Aku kok baru tahu,” ujar Erna Dwi Nugraini, karyawan sebuah perusahaan media di Kota Semarang kepada Semarangpos.com, Senin (26/7/2021).

Erna memang bukanlah warga asli Kota Semarang. Kendati demikian, perempuan asli Kabupaten Batang itu sudah menetap di Ibu Kota Jawa Tengah (Jateng) itu lebih dari lima tahun. Meski tinggal cukup lama, alumnus UIN Walisanga itu tidak mengetahui jika Kota Semarang memiliki
Kampung Batik.

Mungkin bukan hanya Erna yang tidak mengetahui keberadaan Kampung Batik Semarang. Warga yang berdomisili di luar Kota Semarang pun tidak tahu jika kota tersebut memiliki sentra penjualan batik. Maklum, selama ini Semarang tidak dikenal sebagai daerah penghasil kain batik layaknya Solo maupun Pekalongan.

Baca Juga: Asa Seribuan Pembatik di Desa Wisata Batik Girilayu Karanganyar Dongkrak Perekonomian

Namun, keberadaan Kampung Batik di Semarang bukanlah hal yang fiktif. Kampung Batik Semarang terletak di Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur. Lokasi tepatnya tidak jauh dari kawasan Kota Lama, atau berseberangan dengan Bundaran Bubakan, yang saat ini akan didirikan Museum Kota Lama.

kampung batik semarang
Suasana Kampung Batik Semarang di Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, Selasa (27/7/2021). (Semarangpos.com.Imam Yuda S)

Deretan toko batik yang berjajar di pinggir jalan pun akan menjadi pemandangan yang lumrah saat memasuki kampung tersebut. Toko-toko itu kebanyakan menjual kain batik dengan warna mencolok, yang menjadi ciri khas kain batik daerah pesisir.

11 Tahun Bergeliat

Ketua Paguyuban Batik Semarang, Eko Hariyanto, membenarkan jika popularitas Kampung Batik Semarang belum bisa menandingi Kampung Batik Laweyan di Solo maupun Kampung Batik Kauman di Pekalongan.

Meski demikian, keberadaan Kampung Batik Semarang di Kelurahan Rejamulya itu sudah ada sejak 2010. Selama 11 tahun terakhir itu pun, geliat industri batik di kampung ini pun terus berjalan. Bahkan, saat ini banyak warga yang menggantungkan mata pencarian dari berjualan batik.

“Dulu sebelum tahun 2010, memang jarang yang jualan batik. Tapi, saat ini sudah ada lebih dari 25 toko atau gerai yang menjual batik di kampung ini. Kebanyakan mereka menjual batik dengan motif khas Semarangan seperti Tugu Muda, Lawangsewu, atau Warak,” ujar Eko saat dijumpai Semarangpos.com di gerainya, Selasa (27/7/2021).

Titik Mula

Eko mengatakan awal mula keberadaan Kampung Batik Semarang tidak bisa dilepaskan dari pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia sebagai warisan dunia pada 2009 lalu. Sejak saat itu, pemerintah setiap daerah berlomba-lomba untuk mengkreasikan batik khas daerahnya. Mereka juga mendorong sentra-sentra batik di wilayahnya dengan predikat Kampung Batik.

Kebetulan, lanjut Eko, Kampung Rejomulyo dipilih sebagai daerah yang pantas menyandang predikat Kampung Batik. Hal itu tak lepas dari sisi historis Kampung Rejomulyo yang erat hubungannya dengan para saudara batik pada era kolonial.

“Konon saat zaman kolonial, tepatnya tahun 1890-an, di sini menjadi lokasi menginap para saudagar batik yang hendak memasarkan batiknya ke luar Pulau Jawa. Itu didukung juga dengan keberadaan Gedung GKBI [Gabungan Koperasi Batik Indonesia] di Kota Lama,” ujar Eko.

Eko berharap keberadaan Kampung Batik di Rejamulya akan eksis selamanya. Tak hanya sebagai sentra penjualan, tapi juga memunculkan pengrajin untuk melestarikan batik Semarang. Meski hal itu tidak mudah. Apalagi, saat ini masih sangat minim ditemuinya pengrajin batik khas Semarang di kampung tersebut.

“Kita pernah mencoba untuk memberikan pelatihan membuat batik kepada 20 warga. Dari 20 ini, hanya satu yang bisa dan lolos uji sertifikasi,” ujar pria yang juga mengantongi sertifikat asesor pembatik itu.

Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago