Menata Koridor Kapujanggan di Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis 8 Juli 2021. Esai ini karya Dhian Lestari Hastuti, dosen di Program Studi Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Surakarta.
Menata Koridor Kapujanggan di Kota Solo

Solopos.com, SOLO — Program penataan koridor Jl. Gatot Subroto hingga Jl. Diponegoro di Kota Solo yang sedang didesain oleh Pemerintah Kota Solo bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat adalah upaya menciptakan destinasi wisata dan memberdayakan masyarakat.

Keberadaan kampung-kampung di sekitar koridor tersebut penting sebagai roh destinasi wisata. Kampung-kampung tersebut dapat menjadi ruang kreatif melalui pemberdayaan masyarakat setempat dengan melibatkan pelaku kreatif di bidang seni dan budaya berdasarkan potensi sejarah dan budaya sesuai toponimi kampung.

Kampung Kemlayan yang berada di sekitar koridor Jl. Gatot Subroto melahirkan banyak maestro, seperti Sardono W. Kusumo, Mlaya Widada, dan S. Ngaliman. Kampung Kemlayan adalah tempat belajar komposer gamelan Rahayu Supanggah, Marto Pangrawit, dan Sri Hastanto (Priyatmoko, 2019).

Kehidupan kampung tersebut dalam konteks sejarah kehidupan para maestro telah membesarkan mereka dengan beragam seni yang menjadikan mereka pakar di bidangnya. Nama Kemlayan muncul karena abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta sebagai pangrawit bernama Mlaya berdomisili di Kemlayan kidul (selatan).

Selain pangrawit, para pradangga (pembuat gamelan) dan penari juga berdomisili di kampung tersebut. Koridor Ngarsapura tidak kalah menarik dalam sejarah Kota Solo. Jl. Slamet Riyadi pada masa kolonial menjadi pembagi wilayah kekuasaan Keraton Kasunanan Surakarta di sisi selatan dan Kadipaten Mangkunegaran di sisi utara.

Kawasan jalan utama di Kota Solo ini meninggalkan jejak warisan budaya yang berbeda. Jl. Slamet Riyadi dalam perencanaan koridor saat ini menjadi titik temu antara keduanya. Sisi timur dan barat koridor Ngarsapura atau Jl. Diponegoro pada masa pemerintahan Kadipaten Mangkunegaran dari ujung utara Jl. Slamet Riyadi hingga Jl. Ronggawarsito merupakan lokasi rumah-rumah para pejabat Kadipaten Mangkunegaran.

Salah satu jejaknya adalah Dalem Dipoyanan yang berada di belakang restoran fast food Kentucky Fried Chicken atau KFC, namun kondisinya saat ini sudah direnovasi dan berpindah kepemilikan. Jejak lainnya adalah Pasar Triwindu yang menjual aneka macam barang antik dan dipugar dengan pendesainan ulang pada era Wali Kota Solo Joko Widodo.

Pasar Triwindu adalah jejak pasar malam yang diselenggarakan guna memperingati tiga windu atau 24 tahun pemerintahan K.G.P.A.A. Mangkunagoro VII yang menjual barang bekas perkakas rumah tangga di sepanjang Ngarsapura (depan pura/istana) atau Jl. Diponegoro.

Seusai acara peringatan tersebut ternyata pasar malam itu terus hidup dan sering kali K.G.P.A.A Mangkunagoro VII menyelinap di tengah kerumunan para pedagang dan pembeli. Pasar ini sebagai bentuk keberpihakan terhadap rakyat kecil. Perubahan komoditas yang dijual terjadi ketika masa pendudukan Jepang.

Pada masa penjajahan Jepang itu banyak wilayah dan jalur ekspor serta impor ditutup, tidak lagi ada hubungan dagang, bahkan mereka merampas dagangan. Kelompok sosial kelas atas banyak yang merelakan koleksi barang antic mereka untuk ditukar baju atau bahan makanan.

Sejak itulah komoditas atau barang dagangan di Pasar Triwindu berubah menjadi barang-barang antik, barang-barang seni, dan berkembang menjaid tempat penjualan barang-barang reproduksi hingga sekarang. Pada era pemerintahan Wali Kota Joko Widodo terselenggara Ngarsapura Night Market. Seiring berjalannya waktu dan karena pandemi Covid-19, pasar ini tidak diselenggarakan.

Berdasarkan potensi sejarah dan budaya, penamaan koridor tersebut menjadi penting untuk dipertimbangkan. Memori kolektif yang terbangun pada masa lalu dan konsep destinasi wisata harus dikaitkan dengan potensi sejarah dan jejak artefak budaya di kedua koridor tersebut.

Penamaan berdasarkan signifikansi dua koridor tersebut sangat penting agar memori kolektif terhadap wilayah Keraton Kasunanan Surakarta dan wilayah Kadipaten Mangkunegaran terbangun. Kampung Kemlayan sebagai situs kapujanggan dan Ngarsapura adalah situs di depan Pura Mangkunegaran berikut Pasar Triwindu.

Penamaan yang memenuhi syarat memori kolektif misalnya Koridor Kemlayan-Ngarsapura atau Koridor Kemlayan-Triwindu. Ada kesepadanan antara dua pilihan nama tersebut dengan signifikansi sejarah dan budaya keduanya. Kecenderungan wisatawan saat ini adalah membeli pengalaman, bukan hanya melihat dan menikmati.

Kehidupan Batin

Aktivitas yang menarik adalah melibatkan wisatawan dalam menciptakan keterikatan emosional dan pengalaman terhadap tempat melalui interaksi sosial dengan masyarakat setempat. Ruang interaksi dapat terwujud melalui penciptaan interior dengan persepsi ruang yang mampu menstimulasi indra manusia.

Aspek interior berkaitan dengan kehidupan batin individu sebagai ranah privasi dan subjektif. Gamelan mengajarkan cara terbaik untuk mengetahui pengalaman batin bermusik dengan mengalami secara audiotori (pendengaran), taktil (sentuhan atau rabaan), visual (mata), dan kinestetik (otot melalui gerakan).

Keterlibatan masyarakat Kampung Kemlayan menciptakan interior situs kapujanggan sangat diharapkan untuk membangun story telling melalui ruang-ruang sebagai tempat belajar filosofi Jawa yang terimplementasikan melalui gamelan, nembang, menari, dan lain sebagainya.

Lorong-lorong kampung sebagai pengantar menuju situs melalui objek visual lukisan para pujangga sebagai latar berswafoto menciptakan aroma khas dengan tanaman bunga melati, tekstur permukaan material sebagai objek rabaan, dan pola paving block untuk stimulan kinestetik terhadap otot kaki.

Harapan yang mengemuka adalah Kampung Kemlayan dapat hadir secara fisik dan nonfisik bagi wisatawan dengan interior-arsitektural dan interior situs kapujanggan. Kuliner tidak kalah pentingnya. Sajian kue khas Kota Solo dan berbagai hasil bumi, seperti jagung, kacang, singkong, ubi, kacang rebus, dan teh panas yang ginasthêl (lêgi, panas, kenthêl) sebagai sajian kudapan seusai berlatih gamelan, nembang, dan menari.

Hal yang sama juga ada di kampung sekitar Ngarsapura dengan menggali situs pusaka budaya kampung-kampung tersebut sebagai jejak peninggalan Kadipaten Mangkunegaran. Harapannya ruang-ruang tersebut sebagai wujud tagline Solo Past is Solo Future yang menghadirkan interior-arsitektural dan interior dengan Solo Cultural Unity of Java yang berfungsi sebagai material penting dan perangkat psikologis untuk menikmati hidup yang berkualitas dan bermartabat.

Promo & Events
Berita Terkait
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago