top ear
Abu Nadhif/Dokumen Solopos
  • SOLOPOS.COM
    Abu Nadhif/Dokumen Solopos

Menanti Magis Shin Tae-yong

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (6/1/2020). Esai ini karya Abu Nadhif, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah abu.nadhif@solopos.co.id.
Diterbitkan Minggu, 12/01/2020 - 10:00 WIB
oleh Solopos.com/Abu Nadhif
4 menit baca

Solopos.com, SOLO — Harapan besar pencinta sepak bola Indonesia pernah ditimpakan ke pundak Luis Milla Aspas, mantan bintang Barcelona. Eks pemain tim nasional Spanyol itu diharapkan membawa sepak bola Indonesia berprestasi dengan meraih gelar, minimal tingkat Asia Tenggara.

Harapan itu menyala terang setelah melihat Tim Garuda bermain. Permainan penggawa tim nasional Indonesia kala itu lebih apik, cantik, dan rapi dengan satu dua sentuhan bola. Penyerangan lebih bertenaga dan bertahan lebih kukuh.

Prestasi sepak bola tak dilihat dari kecantikan permainan di lapangan hijau. Ukuran prestasi adalah gelar yang diraih. Dua tahun bersama Luis Milla, hanya medali perunggu SEA Games 2017 yang diraih. Kerja sama dengan Milla diakhiri dengan cara yang tidak mengenakkan. Kini harapan besar itu dipikul Shin Tae-yong. Pelatih asal Korea Selatan tersebut punya ”prestasi” mengejutkan. Tim nasional Korea Selatan yang dia latih mengalahkan Jerman 2-0 pada Piala Dunia 2018. Korea Selatan memang tersingkir di babak penyisihan.

Mengalahkan Jerman menjadikan  Taeguk Warriors—sebutan tim nasional Korea Selatan—sebagai negara Asia pertama yang mengalahkan juara bertahan Piala Dunia di ajang resmi. Tim nasional Korea Selatan sebelumnya menorehkan sejarah dengan menjadi tim Asia pertama yang mengalahkan tim Amerika Selatan dalam Piala Dunia. Kolombia dipermalukan 2-1.

Shin Tae-yong punya beban sangat berat. Ekspetasi pencinta sepak bola Indonesia kelewat besar. Bisakah Tae-yong berprestasi lebih baik daripada Milla? Legenda hidup sepak bola Indonesia, Bambang Pamungkas, pernah mengeluhkan pergantian pelatih yang terlalu cepat. Selain Tony Pogacnik (Yugoslavia, 1954-1964), rata-rata pelatih tim nasional Indonesia hanya dikontrak satu atau dua tahun. Setelah gagal mempersembahkan gelar, pelatih dicopot.

Menurut Bambang, kebiasaan ini tidak adil bagi pelatih maupun pemain. Waktu dua tahun sangat singkat untuk mempelajari dan meramu potensi pemain yang sangat beragam karakter dan sifatnya. Begitu pula bagi pemain. Saat mereka sedang belajar mempraktikkan teori pelatih sembari berkompetisi di ajang resmi, sang pelatih diganti karena gagal mempersembahkan piala.

Pembinaan Pemain Muda

Kali ini PSSI memberi waktu lebih lama kepada Shin Tae-yong, empat tahun. Seharusnya Tae-yong bisa berprestasi lebih baik. Persoalan di sepak bola Indonesia sangat kompleks. Pelatih hanya salah satu faktor yang membuat permainan lebih apik. Selebihnya, ditentukan oleh banyak faktor.

Pada era Milla, permainan cantik tim nasional hasil ramuan singkat tidak ditunjang stamina. Setelah babak kedua, kebanyakan stamina pemain kedodoran. Di belahan bumi mana pun, tugas pelatih sejatinya hanya meramu strategi dengan memanfaatkan potensi pemain.

Pelatih tidak membentuk fisik dan stamina pemain secara instan. Seharusnya setiap pemain yang masuk ke tim nasional sudah selesai dengan urusan kekurangan fisik dan stamina. Membentuk fisik kuat dan stamina prima adalah tugas pelatih di klub. Di klublah fisik dan mental pemain digembleng. Di klub pula potensi awal pemain diasah hingga mentereng  kemudian sang pemain dipanggil ke tim nasional. Saat berada di tim nasional pemain tinggal diajari taktik dan strategi menghadapi lawan yang beragam.

Di situlah fungsi pelatih tim nasional, dengan segudang ilmu dan pengalaman, menyampaikan visi bermain. Kalau pun perlu peningkatan fisik, itu hanya penambahan kecil saja. Dari tahun ke tahun, permasalahan di tim nasional justru soal stamina. Tampil energik pada babak pertama, pemain langsung loyo pada babak kedua. Gambaran paling anyar terlihat pada skuat asuhan Simon McMenemy yang tidak pernah menang sekalipun dalam kualifikasi Piala Dunia 2022 beberapa pekan lalu.

Shin Tae-yong, menurut saya, harus didampingi pelatih lokal berbakat. Indra Sjafrie, Fachri Husaeni, Bima Sakti, Rahmad Darmawan, atau Nil Maizar adalah kandidat yang layak. Pendampingan oleh pelatih lokal sangat penting karena pelatih kepala harus paham karakter pemain.

Secara umum, keunggulan pemain Indonesia adalah kecepatan. Permainan dengan bola-bola pendek dan cepat cocok untuk Evan Dimas dan kawan-kawan. Karena itulah, yang dibutuhkan tim nasional adalah pelatih yang bisa mengarahkan karakter pemain dengan kelebihan kecepatan tersebut.

Gambaran itu ada pada tim kelompok umur yang diasuh Fachri Husaeni (tim nasioal U-19) dan  Indra Sjafrie (tim nasional U-23) yang berprestasi beberapa waktu lalu. Sayangnya, ciri khas permainan tim nasional yang seharusnya mengandalkan kecepatan dan bola-bola pendek itu sering hilang saat mental jatuh.

Kompetisi yang Hebat

Para pemain justru kerap memainkan bola-bola panjang ala pemain Inggris yang jelas tidak sesuai dengan karakter bermain mereka. Tim nasional yang hebat tercipta dari kompetisi yang hebat. Kompetisi hebat muncul dari pemain yang hebat. Pemain hebat lahir dari pembinaan yang kuat. Pembinaan seharusnya menjadi tugas pengurus PSSI di tingkat kota/kabupaten.

PSSI di era Mochamad Iriawan dan seterusnya harus lebih serius membina bibit-bibit muda. Seperti sering dikatakan legenda sepak bola Indonesia asal Brasil, Jacksen F. Tiago, bahwa potensi pemain muda Indonesia berlimpah ruah.

Hanya wadah pembinaan dan penyalurannya yang masih amburadul. Tugas pengurus PSSI dari pusat hingga daerah untuk memunculkan, membina, dan membentuk potensi-potensi muda itu agar siap pakai saat tim nasional membutuhkan.

Jika bibit-bibit tim nasional itu memiliki kemampuan bagus, mental kuat, dan fisik yang prima, prestasi tim nasional di tangan pelatih hebat hanya tinggal menunggu waktu.

Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

Properti Solo & Jogja

Iklan Baris

berita terkini