top ear
Menanti Kebangkitan Arseto Solo
  • SOLOPOS.COM
    Para mantan pemain Arseto Solo berfoto bersama di depan tribune Stadion Sriwedari Solo, Minggu (18/8/2019). (Solopos-Ivan Andimuhtarom)

Menanti Kebangkitan Arseto Solo

Puluhan mantan pemain Arseto Solo berkumpul di Stadion Sriwedari Solo, Minggu (18/8/2019) sore WIb. Mereka turun gunung melakoni pertandingan persahabatan melawan tim didikan Ricky Yakob yang juga mantan penggawa Arseto.
Diterbitkan Senin, 19/08/2019 - 15:25 WIB
oleh Solopos.com/Ivan Andimuhtarom,
2 mnt baca -

Solopos.com, SOLO - Puluhan mantan pemain Arseto Solo berkumpul di Stadion Sriwedari Solo, Minggu (18/8/2019) sore WIb. Mereka turun gunung melakoni pertandingan persahabatan melawan tim didikan Ricky Yakob yang juga mantan penggawa Arseto.

Sayang, Ricky tak bisa hadir dalam kesempatan itu. Selain dua tim tersebut, beberapa legenda Persis Solo juga berkumpul di satu tim. Ketiganya mengikuti trofeo dalam rangka reuni para pemain Arseto Solo.

Beberapa pemain Arseto yang hadir antara lain Anshar Ahmae, Agung Setyabudi, Ahmad Sukisno, Guntoro Tri Prasetyo, Untung Sudrajad, Eduard Tjong, Inyong Lolombulan, dan Sri Widadi. Namun, tidak semuanya ikut bermain. Sementara di kubu Persis, pemain seperti Totok Supriyanto, Triyanto, Dian Rompi, Ucok Yanis, dan Hong Widodo turut menyemarakkan laga persahabatan tersebut.

Mantan pemain generasi pertama Arseto, Suripto Mangunkusumo, mengungkapkan akan mengusulkan ke manajemen Arseto di Jakarta untuk kembali menghidupkan klub Arseto Solo. Menurutnya, walau Kompetisi Galatama telah hilang, Arseto harus terus hidup.

Suripto menyebut pertandingan trofeo itu hanya reuni yang membuktikan Arseto masih ada. Ia mengaku berharap pemilik Arseto Sigid Harjoyudanto memberikan izin untuk kembali lahirnya tim kebanggaan warga Solo era 1980-1990-an tersebut. “Semoga dapat izin dari kantor pusat Arseto. Barangkali bisa bermain di Liga 3,” kata dia.

Namun, semua itu belum bisa dipastikan. Ia menilai para pemain tentu akan senang seandainya Arseto kembali hidup dan berjaya seperti saat menjadi juara Galatama pada 1992. “Nanti biar diurus Mas Rio [Arya Surendra, putra dari manajer Arseto Brodjo Sudjono],” kata dia.

“Nanti harus ada restu dari pengurus Jakarta. Saya fikir kalau Arseto muncul, harus ada grand planning. Ini harus jadi proyek jangka panjang, jangan hanya proyek instan,” terangnya kepada wartawan.

Ia mengungkapkan sumber daya manusia dan infrastruktur Solo sudah lebih dari cukup senadainya wacana itu menjadi kenyataan. Terlebih, banyak warga Solo yang menantikan kebangkitan Arseto. ”Stadion Manahan itu dulu sebenarnya dibangun untuk Arseto Solo,” tutur Rektor Universitas Surakarta (Unsa) tersebut.


Editor : Ahmad Baihaqi ,
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com
Kata Kunci :


berita terkait

    berita terpopuler

    Iklan Baris

    Properti Solo & Jogja

    berita terkini