top ear
Tutup Iklan

Lardianto Budhi/Istimewa
  • SOLOPOS.COM
    Lardianto Budhi/Istimewa

Mempertinggi Kebudayaan Bangsa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (26/11/2019). Esai ini karya Lardianto Budhi, esais dan guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com.
Diterbitkan Selasa, 3/12/2019 - 06:00 WIB
oleh Solopos.com/Lardianto Budhi
4 menit baca

Solopos.com, SOLO — Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang terhormat, seorang guru berkeluh kesah kepada saya perihal sikap salah seorang siswa yang menghadirkan dilema. Ia guru Pendidikan Seni dan Budaya, berstatus tidak tetap, di sebuah SMA negeri.

Pada suatu hari,  di kelas eksakta, ia mengevaluasi pekerjaan yang dia berikan kepada siswa-siswa kelas tersebut. Beberapa siswa enggan mengumpulkan pekerjaan. Siswa-siswa itu mengatakan mereka tak perlu belajar seni karena tak butuh pelajaran itu.

Cita-cita mereka tak menuntut mereka belajar seni. Seni dan budaya tak ada sangkut paut dengan karier dan obsesi pekerjaan mereka. Seni dan budaya bukan mata pelajaran yang diujikan saat ujian nasional.

Bapak Menteri yang terhormat, tentu kawan saya ini menghadapi situasi sangat dilematis. Ia dituntut memberikan penilaian terhadap semua siswa sebagai bagian tugas pendidik. Bagaimana akan memberikan nilai bila siswa tidak mau mengikuti tahap dan proses pembelajaran?

Tidak mungkin memberikan nilai nol, sedangkan memberi nilai di bawah ambang batas nilai ketuntasan minimal saja hampir mustahil dia lakukan. Pengelola sekolah tidak menginginkan ada siswa yang tidak naik kelas atau tidak lulus.

Kalau hal ini terjadi, akan berdampak pada nama baik sekolah. Kalau ada siswa yang nilainya di bawah nilai ambang batas kelulusan, guru berkewajiban melaksanakan remidiasi dan perbaikan.

Barangkali Bapak Menteri belum tahu di banyak tempat di sekolah dasar hingga sekolah menengah, banyak orang memandang Pendidikan Seni dan Budaya adalah pelajaran ”kasta ketiga” dan sekadar diasosiasikan sebagai pelajaran hiburan. Apa susashnya menyanyi, menggambar, atau menari?

Tak mengherankana pelajaran Pendidikan Seni dan Budaya kalah pamor dengan pelajaran rumpun eksakta seperti Kimia, Fisika, Biologi, dan Matematika atau dibandingkan dengan pelajaran  Bahasa Inggris.

Masalah Kecil

Bapak Menteri yang terhormat, barangkali cerita yang saya sampaikan ini masalah kecil dibandingkan dengan seabrek masalah besar di dunia pendidikan kita. Persoalan kesejahteraan guru, mutu pendidik, nasib guru honorer dan guru tidak tetap, daya serap lulusan sekolah, serta masalah kurikulum yang hingga kini masih menjadi kontroversi tentu lebih mendesak untuk diperbincangkan dan ditangani.

Yang dialami oleh teman saya itu sangat mungkin bukan merupakan kasus yang endemik sifatnya sehingga peristiwa itu layak hilang ditelan gegap gempita persoalan pendidikan yang lain. Kasus seperti ini bisa saja terjadi dalam skala dan frekuensi yang sangat terbatas sehingga bukan menjadi isu penting dalam program kerja di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Masalah yang dihadapi kawan saya tadi paling tidak menggambarkan betapa kompleks dinamika dunia pendidikan kita, bahkan di tiap ruang kelas. Guru dan dunia pendidikan adalah spotlight yang selalu menjadi pusat perhatian masyarakat. Pendidikan sebagai serangkaian proses penyiapan generasi penerus bangsa belum benar-benar mampu keluar dari kelindan problematika internal.

Bapak Menteri yang terhormat, pengalaman kawan saya tersebut bagi saya merupakan hal yang mengkhawatirkan. Argumen siswa menolak pembelajaran Pendidikan Seni dan Budaya adalah pandangan umum yang selama ini berkembang, yaitu dikotomi terhadap mata pelajaran sekolah.

Bila seperti itu yang terjadi, bukankah ini membahayakan tujuan pendidikan yang paling mendasar? Bahwa pendidikan bertujuan agar setiap orang mengenal dirinya, menemukan keunikan-keunikannya sendiri sebagai anugerah Tuhan, dan yang paling penting, pendidikan harus mempertinggi kebudayaan.

Beberapa waktu yang lalu, di hadapan DPR, Anda memaparkan guideline dan road map kinerja Anda dalam menakhodai Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan untuk (semoga) lima tahun ke depan. Apa yang Anda sampaikan memang memperlihatkan cara pandang seseorang yang mampu mengakselerasi sumber ilmu dan pengetahuan menjadi tindakan-tindakan dan sikap yang konkret artikulatif.

Keberhasilan Anda di bisnis, terobosan-terobosan anda di berbagai bidang kreatif, adalah bukti Anda memang memiliki banyak hal yang dibutuhkan masyarakat. Ketika kemudian Presiden Joko Widodo menunjuk Anda menjadi menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, tentu keputusan itu dilatarbelakangi pertimbangan pencapaian dan dedikasi Anda.

Perubahan Kurikulum

Bapak Menteri yang terhormat, beredar kabar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan mengganti lagi kurikulum sekolah. Seandainya berita itu benar, kiranya perubahan itu tidak menimbulkan kegaduhan karena perubahan kurikulum berkonsekuensi terhadap hal-hal teknis.

Alih-alih perbaikan dan terobosan, yang terjadi justru hiruk pikuk dan kontroversi yang menguras energi. Kurikulum memang salah satu aspek yang menentukan wajah pendidikan, tapi harus diingat pelaku kurikulum adalah manusia: guru. Tugas Anda berat, bahkan teramat berat, karena pendidikan adalah kunci yang menentukan keberlanjutan generasi bangsa.

Pendidikan dan kebudayaan adalah sekeping mata uang, seperti ikan dan air. Keduanya saling identik dan saling menghidupkan. Fragmen kecil yang dialami guru kawan saya itu adalah contoh kecenderungan dan gelagat di kalangan peserta didik bahwa pendidikan direduksi hanya proses menuju dunia kerja dan industri.

Anggapan ini melahirkan sikap abai karena menimbulkan pengelompokan pelajaran penting (rumpun eksakta) dan pelajaran tidak penting (rumpun ilmu sosial, sastra, dan seni budaya). Kita semua pasti setuju bahwa tujuan inti pendidikan adalah memajukan kebudayaan.

Artinya, segala proses pendidikan harus bermuara pada lahir dan hidupnya sebuah tata kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan, bukan hanya berorientasi pada pencapaian-pencapaian yang bersifat materialistik.

Saya percaya Anda, sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, punya niat baik memperbaiki pendidikan nasional bangsa kita untuk menuju ke sana, mempertinggi kebudayaan bangsa.

Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

Properti Solo & Jogja

Iklan Baris

berita terkini