top ear
Djoko Setijowarno (Istimewa/dokumen pribadi)
  • SOLOPOS.COM
    Djoko Setijowarno (Istimewa/dokumen pribadi)

Memberdayakan Batik Solo Trans

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 13 Januari 2021. Esai ini karya Djoko Setijowarno, dosen di Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Katolik Soegijapranata dan Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia.
Diterbitkan Senin, 25/01/2021 - 20:28 WIB
oleh Solopos.com/Djoko Setijowarno
5 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Kota Solo berupaya menata transportasi. Political will atau kehendak politik dan komitmen kuat para wali Kota Solo telah menjadikan beragam sarana transportasi umum beroperasi di Kota Solo.

Di kota ini ada kereta api Batara Kresna, bus Trans-Jateng, dan bus Batik Solo Trans. Pemerintah Kota Solo juga menata jalur sepeda dan fasilitas untuk pejalan kaki. Integrasi fisik, jadwal, pembayaran, dan layanan semakin disempurnakan.

Bus Batik Solo Trans yang disingkat BST merupakan layanan angkutan umum bus sistem transit yang beroperasi di Kota Solo. Layanan ini diresmikan oleh Wali Kota Solo Joko Widodo pada 1 September 2010. Pengoperasian pertama di koridor 1 dengan rute Bandara Internasional Adi Soemarmo (Kabupaten Boyolali)-Terminal Palur (Kabupaten Karanganyar).

Armada Batik Solo Trans ketika itu dioperasikan oleh Perum Damri. Pengoperasian Batik Solo Trans kala itu sebagai upaya menarik pengguna kendaraan pribadi beralih ke sarana transportasi umum. Wali Kota Solo Joko Widodo mengenalkan slogan Move People Not Car.

Dalam perjalanannya pengelolaan Batik Solo Trans tidak menunjukkan kinerja yang semakin membaik. Tanpa subsidi operasional tentu tidak bisa berharap banyak ihwal kualitas pelayanan yang sesuai dengan standar pelayanan minimal.

Pada 2020 lalu Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan meluncurkan program penataan transportasi umum dengan skema pembayaran pembelian layanan (buy the service) di lima kota.

Kota Solo menjadi salah satu lokasi pilihan program ini bersama Kota Medan, Kota Palembang, Kota Jogja, dan Kota Denpasar. Direktorat Jenderal Perhubungan Darat menanggung 100% biaya operasional. Pemerintah Kota Solo menyambut baik program ini karena sesungguhnya sarana transportasi umum sudah disiapkan sejak 10 tahun lalu.

Ketiadaan anggaran yang cukup menjadikan program penataan sarana transportasi umum jalan di tempat. Berbagai upaya sudah dilakukan, misalnya memperbarui penampilan angkutan perkotaan, namun tidak bisa mengangkat pamor sarana transportasi umum di Kota Solo.

Desain angkutan perkotaan di Kota Solo terdiri atas enam koridor utama. Baru empat koridor yang dioperasikan hingga 2020 didukung enam layanan angkutan pengumpan (feeder). Enam koridor utama tidak hanya melayani jaringan jalan di dalam Kota Solo.

Pelayanan di enam koridor itu hingga daerah bangkitan di wilayah sekitarnya, seperti Bandara Adi Soemarno (Kabupaten Boyolali), Terminal Palur (Kabupaten Karanganyar), Terminal Kartasura (Kabupaten Sukoharjo), Kabupaten Sragen, dan Kabupaten Klaten.

Pelayanan di koridor 3 dan koridor 4 dioperasikan mulai 4 Juli 2020 menggunakan sejumlah unit bus yang merupakan bantuan dari Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan. Bus bantuan ini diserahkan beberapa waktu lalu, namun belum sempat dioperasikan.

Pelayanan di koridor 1 dan koridor 2 menggunakan unit-unit bus baru dan pada 29 Desember 2020 baru dapat dioperasikan. Armada di koridor 1 dan koridor 2 adalah bus jenis low entry. Pada awalnya direncanakan menggunakan bus model low deck.

Koridor 1 melayani trayek Bandara Adi Soemarmo-Terminal Palur. Koridor 2 melayani trayek Subterminal Kerten-Terminal Palur. Koridor 3 melayani trayek Terminal Kartasura-Tugu Cembengan. Koridor 4 melayani trayek Terminal Kartasura-Terminal Palur (via Terminal Tirtonadi).

Di samping itu ada unit angkutan pengumpan (feeder) yang melayani rute RSUD Ngipang-Pasar Klewer, Cemani (Lotte Grosir)-Taman Jayawijaya, Subterminal Semanggi-Mojosongo, Pasar Klewer-Terminal Palur, Pasar Klewer-Terminal Tirtonadi, dan Pasar Klewer-Gentan.

Bus Batik Solo Trans dioperasikan pukul 05.00 WIB hingga 20.00 WIB. Pada masa pandemi Covid-19 ini mobilitas warga Kota Solo dan sekitarnya menurun sehingga memengaruhi pula jam pelayanan Batik Solo Trans.

Jika sudah kembali ke masa new normal, tentu layanan Batik Solo Trans dapat diperpanjang hingga pukul 22.00 WIB. Perhitungannya, para pekerja malam, seperti di pusat perbelanjaan yang ditutup pukul 21.00 WIB, dapat memanfaatkan Batik Solo Trans untuk kembali ke tempat tinggal mereka.

Dengan sistem pembayaran nontunai untuk sementara waktu penumpang belum dikenai tarif saat menumpang Batik Solo Trans. Penetapan dan pemberlakuan tarif masih menunggu peraturan Menteri Perhubungan.

Tarif akan ditetapkan dan diberlakukan setelah ada kajian ability to pay (ATP) dan willingness to pay (WTP). Jika merujuk tarif yang dikenakan bus Trans-Jateng, kalangan pelajar, mahasiswa, dan buruh dikenai Rp2.000 dan warga umum dikenai tarif Rp4.000.

Halte Cerdas

Pemerintah Kota Solo melaksanakan kewajiban mendorong warga kota ini menggunakan sarana transportasi umum (push strategy). Salah satunya dengan membangun halte untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.

Halte yang dibangun tidak sekadar bangunan biasa, namun dilengkapi dengan public transportation information system. Halte bus cerdas (smart halte bus) dibangun di sepanjang koridor utama Batik Solo Trans. Disebut halte cerdas karena dilengkapi public transportation information system.

Ini adalah sistem yang dapat berfungsi untuk mengetahui posisi bus secara realtime, titik integrasi jaringan transportasi umum, informasi yang terkait pelayanan di Pemerintah Kota Solo, dan infomasi kegiatan di Kota Solo.

Di halte cerdas itu disediakan pula ruang untuk memasang iklan. Iklan yang terpasang tentu akan menambah pendapatan asli daerah Kota Solo. Saat ini baru terbangun sembilan halte baru dengan kelengkapan public transportation information system.

Sebanyak 29 halte lama dilengkapi public transportation information system. Beberapa halte juga dilengkapi fasilitas untuk memarkir sepeda onthel. Kota Solo merupakan kota pertama di Indonesia yang menerapkan jalur melawan arus (contra flow) untuk transportasi umum di jalur searah di Jl. Slamet Riyadi.

Jalur tersebut membentang dari patung Slamet Riyadi hingga Gendengan sepanjang 1,8 kilometer. Jaluir melawan arus dilayani dua koridor Batik Solo Trans. Di sepanjang jalur ini terdapat enam halte yang dilengkapi public transportation information system.

Enam halte tersebut berada di Gladak, Nonongan, Ngapeman, Sriwedari 1, Sriwedari 2, dan Gendengan (Solo Grand Mall). Perlahan-lahan aktivitas parkir di sepanjang Jl. Slamet Riyadi harus dihilangkan untuk menambah kapasitas volume lalu lintas.

Uniknya, jalur melawan arus ini berdampingan dengan rel yang dilintasi kereta api Batara Kresna yang melayani Stasiun Porwosari (Kota Solo)-Stasiun Wonogiri (Kabupaten Wonogiri).

Jalur sepeda

Jalur lambat di Kota Solo kini mulai diaktifkan sebagai jalur khusus sepeda dalam upaya mendukung penataan transportasi umum. Kota Solo memiliki jalur lambat terpanjang di Indonesia, yakni sekitar 25 kilometer.

Jalur lambat yang cukup panjang itu terdapat di Jl. Slamet Riyadi, Jl. Jenderal Urip Sumoharjo, dan Jl. Adisucipto. Sekarang jalur lambat tersebut difungsikan sebagai jalur sepeda dua arah. Di persimpangan dilengkapi lampu lalu lintas (traffic light) khusus sepeda.

Jalur sepeda ini merupakan fasilitas pendukung integrasi moda yang bisa saling mendukung dan melengkapi dengan keberadaan bus Batik Solo Trans. Jalur pedestrian di sejumlah ruas jalan dalam kota telah ada sejak dulu. Jaringan jalur sepeda yang berupa markah harus dilengkapi pembatas fisik untuk melindungi pengendara sepeda.

Sarana transportasi perkotaan bus Batik Solo Trans juga terintegrasi dengan bus Trans-Jateng rute Terminal Tirtonadi (Kota)-Terminal Sumber Lawang (Kabupaten Sragen). Pada masa depan, dalam upaya memaksimal layanan bus Batik Solo Trans dibutuhkan kreativitas Pemerintah Kota Solo.

Kreativitas itu harus mewujud dalam kebijakan lain yang sekiranya membantu mengalihkan penggunaan kendaraan pribadi ke sarana transportasi umum (bus Batik Solo Trans). Integrasi pembayaran (single tarif) dapat dilakukan antara Batik Solo Trans, bus Trans-Jateng, kereta rel listrik Solo-Jogja, dan kereta api Batara Kresna.

Political will para wali Kota Solo sangat menentukan keberhasilan pemberdayaan Batik Solo Trans sejak sekarang hingga masa yang akan datang. Harus mulai dipikirkan dan disiapkan untuk mengikuti sustainable transportation award untuk mengukur tingkat keberhasilan penataan sarana transportasi di Kota Solo.

 


Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terpopuler

Iklan Baris

berita terkini


Cek Berita Lainnya