Membangun Ekosistem Lifelong Learning: Bagaimana Bertahan di Era Education 4.0?

Opini ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.
Membangun Ekosistem Lifelong Learning: Bagaimana Bertahan di Era Education 4.0?
SOLOPOS.COM - Astrid Widayani (Istimewa)

Pertemuan tatap muka (PTM) di sekolah atau kampus yang dinantikan sejak tahun lalu akhirnya segera terlaksana. Saat ini ada beberapa institusi yang telah memenuhi syarat dilaksanakannya proses pembelajaran tatap muka.

Hal pertama yang disiapkan terlebih dahulu yaitu mengadakan simulasi kegiatan pembelajaran, bahkan beberapa di antaranya juga telah menggabungkan pembelajaran online dan tatap muka yang dikenal dengan hybrid learning atau blended learning.

Berbagai pendekatan metode pengajaran sudah dilalui seluruh elemen di sektor pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Hal positif yang didapatkan selama pandemi di sektor pendidikan adalah meningkatnya kemampuan digital (digital skill) dan kreativitas para pendidik serta semakin banyaknya inovasi khususnya dalam proses kegiatan belajar dan mengajar.

Hal ini sejalan dengan tujuan pembelajaran sepanjang hayat atau dikenal dengan lifelong learning yang menjadikan proses belajar bisa terus berjalan di mana saja dan dalam situasi apa pun.

Dengan perubahan yang sangat cepat di bidang teknologi dan tatanan sosial, pendidikan formal dan ijazah dinilai tidak lagi cukup menjadi syarat para pekerja masa depan untuk bisa bersaing menuju society 5.0. Masyarakat khususnya calon lulusan perguruan tinggi harus bisa menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi di lapangan pekerjaan, kebutuhan pasar, dan peluang karier yang ada. Banyak yang menganggap bahwa nantinya pekerja masa depan harus bersaing dengan robot atau mesin, namun pada kenyataannya hal utama yang harus dihadapi adalah bagaimana menghadapi revolusi industri yang mengharuskan kita menguasai literasi baru di bidang teknologi digital dan informasi, serta literasi mengenai perkembangan sosial ekonomi yang menjadi dasar segala perubahan di masyarakat.

Perubahan ini akan menghasilkan berbagai jenis pekerjaan baru dan kesempatan baru di masa depan. Jenis pekerjaan lama akan semakin berkurang, seluruh pekerjaan akan berpusat pada inovasi teknologi, serta tantangan pekerja masa depan yang berfokus pada keterampilan (skills) dan karakter (character) selain pada pengetahuan (knowledge) saja.

Berdasarkan pengalaman dan kebijakan yang telah berjalan, pendekatan baru melalui ekosistem lifelong learning perlu menjadi acuan. Pendekatan ini menjadikan proses pembelajaran akan terus bergerak menyesuaikan arus perubahan dan tantangan zaman. Setiap instansi bisa mulai menerapkan lifelong learning sebagai budaya baru tidak hanya dilihat dari proses pembelajaran saja, akan tetapi juga bagaimana nantinya setiap institusi bisa menciptakan strategi untuk menjawab perubahan yang ada di masyarakat maupun di industri kerja. Hal ini akan sangat membantu institusi untuk dapat bergerak lebih efektif dan efisien khususnya dalam membangun komunikasi strategis internal organisasi.

Selain itu, pemahaman mengenai kesadaran belajar sepanjang hayat bisa dikenalkan mulai dari sekarang agar pendidikan di Indonesia bisa lebih cepat dalam mengakselerasi kebijakan baru pemerintah melalui Kemendikbud yaitu Kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM).

Dikutip dari sebuah artikel di The Economist, ada sebuah pernyataan yang menjelaskan bahwa gelar sarjana di awal karier tidak menjawab kebutuhan untuk memperoleh keterampilan baru, terutama dalam rentang karier yang panjang. Pelatihan keterampilan sangat dibutuhkan untuk mendukung standar keahlian yang dibutuhkan, namun masih diperlukan kebaharuan keterampilan (upgrading skill) yang harus dilakukan terus menerus sepanjang karier.

Literasi Baru

Era digital telah menjadikan kita untuk lebih cakap digital sehingga banyak literasi baru bisa dipelajari dibandingkan dengan pendidikan di era konvensional yang bergantung pada buku ajar. Pemanfaatan teknologi informasi secara baik akan menjadi jembatan yang membuka banyak peluang bagi para lifelong learner. Pada akhirnya, banyak orang yang mencapai kesuksesan secara pribadi maupun organisasi sudah pasti telah berhasil membangun ekosistem lifelong learning sehingga mampu adaptif dan inovatif menghadapi tantangan zaman.

Di sisi lain, masih banyak pribadi maupun organisasi yang belum terbuka dengan kesempatan ini. Bahkan belum menjadikan pelatihan (training) dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) sebagai prioritas di era education 4.0 ini disebabkan terbatasnya dana pengembangan sumber daya manusia (SDM). Padahal pendekatan ekosistem lifelong learning ini bukan hal yang mahal karena hanya membutuhkan strategi untuk memastikan bahwa pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skills) kita selalu up-to-date.

Pendidikan yang berkelanjutan (on going education) dapat membantu mewujudkan pembangunan nasional melalui pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang terampil dan kompeten. Melalui pembangunan ekosistem lifelong learning diharapkan seluruh peran yang ada di dunia pendidikan bergerak bersama saling mengisi tanpa tumpang tindih karena akan sejalan dengan kebutuhan dan perubahan. Pembangunan pendidikan melalui pendekatan belajar sepanjang hayat ini akhirnya bisa menghasilkan standar baru sumber daya manusia (SDM) Indonesia di masa depan yang tidak hanya berfokus pada pendidikan formal namun juga practical skills.

Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago