[x] close
Membaca Perempuan Kini
Solopos.com|kolom

Membaca Perempuan Kini

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 24 April 2021. Esai ini karya Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Solopos.com, SOLO -- Notifikasi muncul di telepon seluler saya. Ada pesan pendek dari keponakan saya,  perempuan, yang prestasinya saya kagumi. Dia duduk di kelas II SMAN di Solo. Dia bertanya apakah saya punya kemampuan dan kesediaan mengajari dirinya menggunakan peralatan make up wajah?

Saya langsung menjawab pesan itu. Intinya saya tidak pernah menggunakan peralatan make up wajah (alat rias atau kosmetik lengkap) kecuali saat saya menikah belasan tahun lalu sehingga saya menyesal sekali tak bisa membantu dirinya kali ini.

Setelah menjawab, giliran saya yang bertanya karena penasaran. Saya bertanya kepada dia, apa alasan tiba-tiba bertanya mengenai make up wajah? Saya ingin tahu apakah dia sedang tertarik pada lawan jenisnya setelah drama putus belum lama ini. Ternyata dugaan saya salah.

Keponakan saya itu lantas mengirim video Tiktok yang isinya remaja perempuan yang menggunakan peralatan make up wajah dengan narasi seorang perempuan Indonesia tidak boleh melupakan akar budaya.

Remaja di video itu memaknai kewajiban menjadi perempuan modern sekaligus tidak melupakan budaya adalah dengan mengenakan make up wajah lengkap, kebaya, jarit, serta berbagai perhiasaan bercorak tradisional. Video tersebut menggunakan latar belakang gending Jawa.

Terus terang saya shock melihat video itu sehingga sesaat saya merasa tak bisa berpikir logis. Keponakan saya yang sekarang menjadi ketua kelas itu kemudian memberikan penjelasan. Dalam rangka menyambut Hari Kartini, perwakilan kelas, khususnya yang perempuan, diminta membuat video serupa.

Meski dia berkukuh membuat video serupa dengan kemampuan menggunakan alat make up wajah seadanya dan narasi yang agak berbeda, saya lega karena telah menyampaikan pemikiran saya tentang begitu konyol tugas di sekolahannya tersebut.

Kami mengobrol cukup lama lewat Whatsapp maupun ketika dia datang ke rumah saya. Saya meminta dia berpikir kritis dan dia memberikan jawaban melegakan. Lepas dari diskusi itu, tugas sekolah yang saya yakin juga banyak diterapkan di sekolahan lain tersebut mengundang kekhawatiran dan keprihatinan saya sebagai seorang perempuan.

Saya merasa bahwa mitos kecantikan dan ideologi domestifikasi perempuan sebenarnya tidak akan pernah bisa punah dari dunia ini. Mitos itu bukan berjalan di tempa. Mitos itu justru makin stabil, makin kukuh, dengan dukungan industri kosmetik yang subur sebagai kontranarasi perjuangan para feminis yang mendorong kebebasan dan kesetaraan perempuan.

Saya melihat industri kosmetik saat ini menggurita dengan penyokong loyal bukan hanya televisi, namun juga media sosial, para selebgram, maupun influencer. Dengan semata-mata alasan keuntungan materi, mereka membombardir para remaja dan perempuan dewasa tentang standar kecantikan.

Ideologi yang mereka bawa bisa dipastikan bukan mencerahkan perempuan, namun membodohi perempuan. Saat ini saya sadar bahwa saya dipaksa untuk menelan iklan obat jerawat, pemutih, hingga pelangsing lebih banyak dan lebih sering dibandingkan pada masa sebelum media sosial lahir.

Berbagai iklan untuk menghidupkan mitos kecantikan tersebut hidup di televisi, Instagram, Youtube, dan lainnya. Lewat media sosial, saya jadi tahu bahwa sekarang ini muncul fenomena para selebritas dan influencer yang berlomba-lomba membuat produk kosmetik sendiri.

Entitas Sesungguhnya

Mereka menjadi produsen, ahli promosi, sekaligus bintang iklan untuk produk tersebut. Sampai pada titik ini, bukannya gembira, saya justru melihat kondisi jauh lebih mengerikan dan saya punya alasan kuat kenapa merasa seperti itu.

Era majalah dan TV yang sudah berlalu, saya pikir, belum ada apa-apanya dibandingkan kondisi sekarang. Bagi generasi muda era 1990-an seperti saya, iklan adalah dunia yang terlepas dari para bintangnya. Kehidupan di iklan yang dibentuk para selebritas adalah kehidupan hampa, tak punya akar.

Ibu saya selalu mengatakan iklan adalah dunia khayalan, yang hanya bisa hidup di realitas media massa. Nah, mari kita bandingkan dengan kondisi saat ini. Pada era kini iklan telah berubah menjadi sangat agresif dan personal. Iklan produk kosmetik, misalnya. telah membaur dengan kehidupan para bintang yang mereka tampilkan di akun Tiktok, Youtube, serta Instagram masing-masing.

Kehidupan para bintang saat ini adalah entitas iklan sesungguhnya. Yang nyata dan khayalan seakan-akan membaur karena garis pembatas realitas itu sangat tipis. Iklan kosmetik yang mengampanyekan mitos kecantikan (kulit putih, tubuh langsing, wajah mulus) kini dilengkapi nuansa personalisasi yang sangat domestik.

Para selebgram dan influencer mengampanyekan wajah cantik yang sangat terstandardisasi dan menginternalisasikan dengan pemikiran pribadi mereka soal indahnya perkawinan muda, mulianya ibu dengan banyak anak, sifat perempuan yang submisif, laki-laki yang dominan, dan sejenisnya.

Sekali lagi, saya tegaskan, yang mereka bawa adalah ideologi pembodohan. Jutaan followers mereka, khususnya para remaja perempuan, kini mulai kesulitan membedakan mana yang nyata dan mana yang ilusi. Mereka kini bukan hanya memuja penampilan fisik para bintang tersebut, melainkan juga mengadopsi gaya hidup sekaligus pemikiran mereka.

Perlahan-lahan saya melihat dengan rasa khawatir bahwa sindrom Cinderella complex itu kini bangkit lagi. Dunia perempuan masa kini menjadi sangat tradisional dari sisi ideologi berkat kampanye-kampanye pembodohan tersebut! Pertanyaan yang muncul di benak saya adalah bagaimana perempuan, termasuk saya yang mempelajari isu feminisme sejak lama, sering kali menjadi sangat tidak kritis melihat fenomena ini?

Kembali pada soal kosmetik, esensi yang saya khawatirkan bukan pada produknya, melainkan pada sesuatu yang tidak tampak, yang gagal saya pikirkan secara serius. Sesuatu itu adalah ideologi kecantikan, gerakan objektivikasi perempuan dari kaca mata patriarki, serta paham domestifikasi yang makin menguat akhir-akhir ini.

Saya mengerti perkembangan teknologi yang melahirkan realitas maya tak selalu berdampak positif bagi kaum perempuan. Media sosial, contohnya, adalah alat yang paling efektif mengamplifikasi dan memperkuat ideologi tradisional perempuan lewat para influencer yang tak bertanggung jawab.

Segregasi

Gampangnya begini: kosmetik seperti juga rokok bukanlah produk primer. Gerakan mengonsumsi keduanya jelas bukan dengan narasi makanlah makanan bergizi agar kau sehat, melainkan pakailah kosmetik supaya orang-orang ternganga melihatmu. Penekanan penjualan produk-produk seperti ini adalah pada citra, bukan isi.

Kampanye selanjutnya adalah “gunakan usia mudamu untuk semaksimal mungkin berdandan karena kesempatanmu akan habis begitu kulitmu keriput.” Anda ingat bukan dengan isu netizen yang menghina Yuni Shara karena dinilai tak berpakaian sesuai umur yang menjadi trending topic?

Begitulah cara industri kecantikan bekerja, menyegregasi para perempuan dan seakan-akan menjadi hakim yang menentukan tingkah laku perempuan berdasarkan usia! Orang-orang, termasuk para perempuan, terbius dengan ideologi ini dan mereka saling bertengkar untuk isu yang sebenarnya tidak penting sama sekali.

Kondisi itu tiba-tiba saja membuat saya seperti mengalami de javu. Saya merasa seperti terperangkap dalam latar belakang narasi Simone de Beauvoir dan Betty Friedan saat mereka menulis buku-buku tentang paham kesetaraan pada diri perempuan adalah kata kunci agar perempuan tidak menjadi makhluk subordinat.

Kenapa banyak hal terasa seperti mundur ke belakang? Kenapa kini justru banyak perempuan yang memperdaya kaumnya sendiri? Apakah saya boleh khawatir bahwa kapitalisme terus melahirkan ekses negatif dalam gelombang femisme terakhir?

Feminisme gelombang ketiga yang seharusnya merayakan penghormatan dan pengakuan atas segala perbedaan dan keunikan perempuan itu kini berbelok arah. Kapitalisme telah membentuk simulakrum, dunia simulasi yang menjadikan banyak perempuan mengejar hasrat, memprioritaskan citra kebebasan dan kemerdekaan melalui berbagai benda.

Tebaran diskon di toko online dan offline menjelang Hari Kartini supaya perempuan berbelanja alih-alih menjadi manusia produktif seperti yang diimpikan para pejuang perempuan adalah salah satu contohnya. Lomba berkebaya alih-alih mengajak siswa berpikir kritis di sekolahan menjadi contoh yang lain.

Saya ternyata bisa menjadi contoh. Saat saya gembira melihat berat badan saya turun 12 kilogram. Melihat itu sebagai pencapaian membanggakan. Berat badan turun itu seperti halnya profesional setelah sekian lama didera kecemasan dan sedikit kebencian akan gambaran perempuan dan kelebihan berat badan di ruang publik. Bukankah saya juga menggunakan konsep objektivikasi perempuan dan mitos kecantikan? ah, betapa ruwetnya ini!

 

 

 


Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks
Berita Video
View All

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago