top ear
Memasuki Masa Pancaroba, Penyakit ISPA Mengancam
  • SOLOPOS.COM
    Ilustrasi upper respiratory tract infections (URI/URTI) alias infeksi saluran pernafasan atas (ISPA). (JIBI/Harian Jogja/Dok.)

Memasuki Masa Pancaroba, Penyakit ISPA Mengancam

Diterbitkan Minggu, 25/03/2018 - 12:20 WIB
oleh Solopos.com/Fahmi Ahmad Burhan/JIBI/Harian Jogja
2 mnt baca -

Tercatat penderita penyakit ISPA di Sleman sebanyak 19.853 orang

Harianjogja.com, SLEMAN-Memasuki peralihan musim dari musim hujan ke musim kemarau, masyarakat rentan terserang penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA). Cuaca yang tidak menentu menyebabkan daya tahan tubuh menurun.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Sleman, sejak awal tahun sampai Jumat (23/3/2018) tercatat penderita penyakit ISPA di Sleman sebanyak 19.853 orang. Kecamatan Tempel merupakan kecamatan dengan penderita ISPA paling banyak yaitu 1.767 orang.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Sleman Dulzaini mengatakan, masyarakat rentan terkena penyakit ISPA karena daya tahan tubuh menurun. “Ketika masuk pancaroba seperti ini, hujan yang deras, terus kadang juga panas yang terik sekali akan membuat daya tahan tubuh menurun,” ujarnya, Jumat (23/3/2018).

Selain karena faktor cuaca, menurut Dulzaini, virus akan menyerang jika masyarakat tidak bisa menjaga kebersihan lingkungannya. “Ada juga dari faktor lingkungan, faktor alergi, dan bakteri, yang nanti akan memengaruhi kekebalan tubuh,” kata Dulzaini.

Menurutnya, penyebaran penyakit ISPA merata di tiap wilayah dan tidak ada wilayah tertentu yang terserang ISPA.“Kita mulai lakukan gerakan masyarakat sehat, masyarakat harus beraktivitas, minimal dalam satu hari 30 menit, makan buah dan sayur, secara fisik kekebalan tubuh akan terjaga,” ujar Dulzaini.

Sleman akan memasuki pancaroba dari awal Maret sampai akhir April. “Puncak musim hujan dari Januari sampai Februari sudah berakhir, setelah itu, masa peralihan musim hujan ke musim kemarau akan berlangsung dari Maret sampai April,” ujar Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG DIY Etik Setyaningrum.

Menurut Etik, ciri-ciri musim pancaroba yang mulai terasa dengan hujan deras di malam hari dan panas terik di siang hari membuat masyarakat harus menjaga kesehatan. “Kadang kala hujan yang deras diikuti dengan angin kencang, pohon bisa saja tumbang, membuat masyarakat harus berhati-hati,” katanya.


Editor : Avatar ,
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com
DataUtama

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini