Memaksa Industri Kreatif Lebih Kreatif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 30 Juli 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI)
Memaksa Industri Kreatif Lebih Kreatif

Solopos.com, SOLO — Bila menurunut data, Juni 2021 adalah sebuah ”cahaya di ujung lorong” bagi industri bioskop di Indonesia. Kendati masih 30% dari kapasitas, lebih dari tiga juta penonton menikmati tayangan film di bioskop. The Conjuring 3 dan Fast and Furious 9 adalah dua di antara sekian film yang banyak menarik penonton pada bulan itu.

Juni 2021 menjadi puncak yang sempat menjanjikan karena jumlah penonton mulai beranjak dari 200.000 pada Januari 2021 dan terus meningkat pada bulan-bulan setelahnya. Sungguh tak mudah menyalakan api bisnis dalam situasi pandemi Covid-19 yang belum juga terkendali.

Dalam sebuah webinar Rabu (21/7/201) Andi Surja Budiman, Managing Partner Ideosource Venture Capital, menyebut tak satu pun  film produksi Indonesia yang berani memasuki bioskop tahun ini. Anda pasti tahu mengapa?

Pembatasan sosial telah membuat banyak sektor bisnis berhenti, apalagi sejak 2 Juli 2021 Indonesia tengah dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang kemudian diubah menjadi PPKM Level 4.

PPKM Darurat atau Level 4 ini hampir sama substansinya, melarang pusat perbelanjaan buka. Pusat perbelanjaan, kita semua tahu, adalah tempat jejaring bioskop beroperasi. Bila semua tutup, praktis tak penonton datang sepanjang Juli 2021.

Bagi Andi Budiman yang telah menekuni bisnis modal ventura untuk industri konten, pandemi memang telah mengubah banyak hal. Padahal, usaha itu pernah membuahkan hasil signifikan. Beberapa film produksi Ideosource seperti Keluarga Cemara dan Gundala masing-masing telah menarik 1,7 juta penonton bioskop

Ideosource bahkan terus melebarkan kiprah ke 27 perusahaan rintisan, di antaranya di bidang gim, media, dan e-commerce. Namun, sekali lagi, pandemi telah mencerabut sebagian bisnis Andi Budiman dan memaksanya lebih kreatif dalam industri kreatif yang ditekuninya sejak lama.

Dia memanfaatkan saluran distribusi lain untuk bertahan, salah satunya mencoba peruntungan dengan menjual dua film produksinya Sobat Ambyar dan Guru-Guru Gokil kepada perusahaan over the top Netflix. Andi berharap ini bisa membantu dan mengembalikan investasi.

Tidak berhenti di situ, sambil menunggu penularan Covid-19 mereda sebuah film juga akan diedarkan melalui Mola TV, dan dua film, salah satunya Losmen, disiapkan untuk bioskop saat pembatasan kegiatan masyarakat dilonggarkan.

Presiden Direktur PT Dyandra Promosindo, Hendra Noor Saleh, sebuah perusahaan penyelanggara pameran kenamaan, punya cerita lain. Menurut dia, pandemi telah memukul bisnis MICE.  Pandemi pula yang telah mendisrupsi model bisnis Dyandra hingga harus melakukan banyak penyesuaian.

Hasilnya, sejumlah event tetap bisa digelar kendati dalam bentuk hybrid, perkawinan antara kegiatan offline dan online. Hendra mengatakan event yang diselenggaran oleh Dyandra Promosindo kini frekuensinya telah kembali seperti sebelum pandemi.

Pertengahan Januari 2021 hingga awal Februari 2021 Dyandra tetap bisa menggelar Indonesia International Motorshow (IIMS) Virtual Phase 1 dan berlanjut dengan Phase 2 pada pertengahan Maret 2021 hingga awal April 2021.

Dua event lain juga menyusul pada bulan April 2021, dan Dyandra masih menyisakan empat event besar lagi yang digelar pada September hingg akhir 2021 termasuk dua IIMS di Surabaya dan Makassar.

Penyesuaian yang dilakukan Dyandra ini tergolong unik. Hendra menekankan untuk selalu optimistis dalam keterbatasan, menghadirkan kesempatan baru melalui event hibrida, dan strategi manajemen baru dalam situasi pandemi. Bila melihat outlook industri, tuturnya, pasti jelek semua, tetapi dengan optimisme dan kreativitas, kesempan baru pasti terbuka.

***

Bisnis pameran seperti yang digeluti Dyandra sebenarnya merupakan industri yang mendatangkan kerumunan untuk bisa bertahan. Padahal, mendatangkan kerumunan adalah sumber penularan Covid-19. Kini, menyesuaikan diri dengan cara hibrida dan protokol kesehatan yang ketat adalah sebuah keniscayaan.

Pada akhirnya, kita akan dipaksa untuk hidup berdampingan bersama Covid-19 dengan adaptasi kebiasaan baru. Semua tak akan pernah sama lagi dan rasanya naif kalo kita hanya memilih menunggu tanpa berbuat sesuatu.

Seperti yang disampaikan ekonom Aviliani dalam webinar yang sama, jangan berharap kita bisa mendapatkan situasi yang pasti dalam pandemi sekarang. Justru, menurut dia, ketidakpastian itulah yang kini telah menjadi kepastian baru.

Oleh karena itulah, sebuah langkah kolaborasi dan inovasi sangat mutlak dan diperlukan. Karena kehidupan tak sama lagi, bahkan dalam hal cara orang mengonsumsi hiburan yang merupakan lahan bisnis dalam industri kreatif.

Siapa yang mengira bahwa pandemi ini juga mengubah arah bisnis Tiket.com jadi salah satu pemasar terbesar dari kebutuhan tes Covid-19 ketika bisnis tiket penerbangan dan voucer hotel jatuh pada titik terendah. Semua bisnis kini memerlukan pelampung untuk bertahan.

Saya sering mengumpamakan perekonomian di tengah pandemi ini mengalami penyusutan yang sedemikian rupa, kendati dalam hal volume konsumsi masyarakat tetap. Dalam bisnis kuliner, misalnya, sepi bukan karena orang tidak makan lagi, tetapi karena harus tinggal di rumah, maka mereka memasak sendiri sehingga menghilangkan nilai tambah bagi pengusaha restoran.

Orang tidak datang ke bioskop bukan karena tidak ada kebutuhan menghibur diri, tetapi agar terhidar dari penularan Covid-19. Kebutuhan menonton film bisa didapatkan melalui platform digital seperti Netflix, HBO Go, atau bahkan Go Play.

Cara yang berubah ini jelas merusak pasar para petahana. Namun, inilah kenyataan sekarang, menonton bisa lebih murah karena memang biaya pokok seperti alat yang telah dialihkan ke konsumen, termasuk sambungan Internet kecepatan tinggi.

Dalam situasi seperti ini memang banyak usaha tumbang. Sebelum PPKM Darurat berlaku, bila Anda sempat mampir ke mal, pasti akan melihat begitu banyak kios tutup. Bioskop dengan pusat perbelanjaan tutup usaha pun terhenti.

Kios-kios suvenir dan pakaian seputaran Kuta dan Legian, Bali, sudah sejak tahun lalu bertumbangan ditinggal penyewa. Tingkat hunian hotel di Bali selama pandemi ini tak pernah beranjak dari angka belasan persen.

Mungkin langit seperti hendak runtuh. Namun, sesungguhnya bukan itu yang sebenarnya terjadi. Benar, kita tengah berada dalam sebuah gelombang ketidakpastian, tetapi bukan tanpa harapan menjumpai sebuah pelabuhan.

Seperti kata pepatah, banyak jalan menuju Roma. Rasanya, kapasitas otak manusia masih sangat memadai untuk menciptakan jutaan kreativitas dalam mempertahankan hidup, juga bisnis yang berantakan dihantam pandemi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Promo & Events
Berita Terkait
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago