top ear
Erya Indy P. (Istimewa/Dokumen pribadi)
  • SOLOPOS.COM
    Erya Indy P. (Istimewa/Dokumen pribadi)

Memacu Sektor Pertanian Pascapandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 24 Agustus 2020. Esai ini karya Erya Indy P., Statistisi di Badan Pusat Statistik Provinsi Papua.
Diterbitkan Jumat, 4/09/2020 - 20:48 WIB
oleh Solopos.com/Erya Indy P.
4 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Pandemi Covid-19 telah mengguncang perekonomian global, tidak terkecuali perekonomian Indonesia. Ekonomi Indonesia terkontraksi 5,32% setelah pada kuartal pertama 2020 mengalami perlambatan pada 2,97%.

Hampir semua sektor ekonomi terkena dampaknya dan tumbuh minus. Sektor pertanian mampu tumbuh positif sebesar 2,19%. Kekukuhan sektor pertanian di tengah pandemi ini memberikan harapan nyata bagi perekonomian Indonesia.

Presiden Joko Widodo mengatakan dalam pidatonya target kita saat ini bukan hanya lepas dari pandemi, bukan hanya keluar dari krisis. Langkah kita adalah melakukan lompatan besar, memanfaatkan momentum krisis yang sedang terjadi.

Berkaca dari pencapaian sektor pertanian ini maka pertanian patut dilirik sebagai salah satu modal bangsa untuk melakukan lompatan besar tersebut. Sektor pertanian memberikan andil terhadap perekonomian Indonesia sebesar 15,46% atau menempati urutan kedua terbesar setelah industri pengolahan.

Secara umum ekonomi Indonesia masih didominasi oleh lima sektor raksasa yaitu industri pengolahan; pertanian, kehutanan, dan perikanan; perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor; dan konstruksi.

Dari kelima sektor besar yang menyusun struktur produk domestik bruto ini, hanya sektor pertanian yang tumbuh positif. Hal ini seolah-olah mempertegas bahwa pertanian tidak begitu terganggu oleh pandemi Covid-19. Meski pandemi tengah terjadi, ekspor pertanian tetap berjalan.

Tercatat beberapa komoditas pertanian dilepas ke beberapa negara pada semester pertama tahun ini. Selama Januari-Juni 2020, ekspor nonmigas menyumbang 94,79% dari total ekspor yang dilakukan. Pada kurun waktu tersebut hanya sektor pertanian yang mengalami kenaikan dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Ekspor sektor pertanian selama Januari-Juni 2020 adalah senilai US$1,71 miliar, meningkat 9,60% daripada Januari-Juni 2019. Peningkatan ekspor pertanian ini disebabkan naiknya ekspor buah-buahan tahunan. Adapun sektor industri pengolahan turun sebesar 0,41% serta sektor tambang dan lainnya turun sebesar 20,71%.

Kinerja pertanian ini patut diapresiasi. Para petani tetap produktif di tengah pandemi Covid-19 sehingga produksi pangan tetap terjaga, bahkan meningkat. Pertanian mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri hingga meningkatkan ekspor. Di sisi lain, daya beli petani yang diukur melalui nilai tukar petani sempat anjlok pada bulan-bulan awal pandemi terjadi.

Nilai tukar petani merupakan nilai yang digunakan untuk mengukur kemampuan menukar barang-barang (produk) pertanian yang dihasilkan petani dengan barang atau jasa yang diperlukan untuk konsumsi rumah tangga dan keperluan dalam memproduksi hasil pertanian.

Semakin tinggi nilai tukar petani secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani. Nilai tukar petani nasional mencapai 104,16 pada Januari 2020. Selanjutnya nilai tukar petani ini terus menurun dan baru mulai merangkak naik pada Juni hingga berada pada angka 100,09 pada Juli 2020.

Nilai tukar usaha pertanian juga mengalami tren yang sama. Mulai naiknya lagi nilai tukar petani dan nilai tukar usaha pertanian ini merupakan salah satu indikasi yang baik. Demi mendorong sektor pertanian agar terus meningkat, kondisi petani harus terjamin. Kesejahteraan para petani mutlak diperhatikan agar tetap produktif, misalnya dengan menetapkan harga yang layak untuks setiap hasil pertanian.

Langkah ini akan memacu semangat petani bertanam dan meningkatkan produksi mereka. Hal kecil lain yang dapat dilakukan misalnya dengan mengaktifkan kembali koperasi-koperasi desa agar mampu nenampung hasil pertanian dengan harga yang menguntungkan petani. Tentu ini akan meningkatkan pendapatan para petani.

Peningkatan pendapatan petani secara kontinu akan meningkatkan daya beli petani. Selain itu, juga memperbesar peluang petani dalam mengembangkan usaha pertanian yang pada akhirnya akan turut berkontribusi dalam pembangunan pertanian. Dukungan pemerintah sangat berarti bagi petani dan sektor pertanian.

Ketahanan Pangan

Kebijakan yang memihak para petani akan sangat bermanfaat, seperti pengadaan alat dan mesin pertanian untuk penanaman maupun pemanenan. Dengan menggunakan alat dan mesin yang memadai akan meningkatkan hasil produksi pertanian bahkan memperpendek waktu proses yang diperlukan dalam setiap tahap pertanian.

Peningkatan hasil pertanian akan menjaga ketahanan pangan nasional dan mengurangi ketergantungan impor, bahkan mampu memperkuat ekspor. Keterkaitan antara sektor pertanian dan nonpertanian juga patut untuk dikembangkan, di antaranya adalah peningkatan nilai tambah dari produk-produk pertanian, misalnya kegiatan industri rumah tangga yang memanfaatkan produk-produk pertanian.

Contoh konkretnya seperti pembuatan bumbu homemade, minuman rempah kering, atau keripik-keripik dari tanaman lokal. Selain meningkatkan daya beli petani, hal ini juga akan memperluas pengembangan pertanian dan meningkatkan peluang kerja. Tentu dalam pengembangan industri rumah tangga ini tidak bisa dilepaskan begitu saja.

Masyarakat memerlukan pelatihan untuk menghasilkan produk yang baik dan memenuhi standar kesehatan, mulai dari pemilihan bahan baku, pembuatan, hingga pengemasan. Masyarakat juga perlu mendapat pengetahuan urusan pemasaran produk, utamanya saat pandemi seperti ini. Harapannya, industri rumah tangga tersebut akan terus bertahan dan berkelanjutan.

Sudah saatnya pemerintah menyadari akan pentingnya sektor pertanian bagi ekonomi Indonesia. Faktanya, meski di tengah pandemi, sektor pertanian masih tetap tumbuh positif. Demikian pula saat krisis ekonomi 1998 lalu, sektor pertanian merupakan satu-satunya lapangan usaha yang tetap tumbuh positif saat itu.

Sektor pertanian juga menempati peringkat pertama terbesar dalam struktur lapangan pekerjaan utama pada Februari 2020. Sebanyak 38,05 juta penduduk Indonesia bekerja di sektor pertanian. Banyak pakar meyakini bahwa sektor pertanian akan mampu menjadi penopang perekonomian bangsa pascapandemi Covid-19.

Prediksi ini sangat mungkin terjadi. Sektor pertanian akan menjadi penyokong perekonomian Indonesia hingga pascapandemi pada saat sektor lain mengalami kesulitan untuk kembali bangun. Fokus perhatian dan kebijakan yang tepat pada sektor pertanian akan menjadi sangat penting.

Keberhasilan sektor pertanian akan berpengaruh signifikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan berbagai upaya pemerintah dan kerja sama dari banyak pihak pada akhirnya akan membangkitkan optimisme bahwa Indonesia akan mampu bertahan melalui pandemi.


Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini