Melawan Begal Digital

Esai ini ditulis oleh Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia Group, dan telah terbit di Koran Solopos edisi 22 September 2021.
Melawan Begal Digital
SOLOPOS.COM - Presiden Direktur PT Aksara Solopos Arif Budi Susilo.

Solopos.com, SOLO — Namanya Aqua Dwipayana. Dia mantan wartawan. Kini, Aqua berprofesi sebagai motivator sekaligus praktisi komunikasi. Jelas, profesi itu valid baginya, mengingat Aqua adalah Doktor Ilmu Komunikasi lulusan Universitas Padjadjaran.

Saya jadi ingat Aqua, karena apa yang dilakukannya hari ini sangat relevan. Baik dengan profesinya, maupun perilaku audiensnya. Sahabat baik saya itu sudah lama mendeklarasikan dirinya sebagai “orang bebas”, dengan atasan hanya Tuhan.

Bagi saya, Aqua adalah pelopor. Saya ingat, tatkala masih belum ada aplikasi pesan Whatsapp seperti hari ini, Aqua sudah rajin berkirim pesan berantai melalui Blackberry Messenger alias BBM. Gadget dan aplikasi yang, kemudian ternyata, tidak berumur panjang.

Melalui aplikasi pesan tersebut, Aqua rajin berkirim berita dan kisah inspiratif, atas apa yang dilakukan secara positif oleh para kenalannya yang bermanfaat untuk orang banyak. Bahkan dia juga “memberitakan” aktivitasnya bertemu dan silaturahmi dengan banyak orang melalui BBM setiap hari.

Kadang, pesan yang dikirimkan juga terselip masukan dan kritik halus atas perilaku yang tidak selayaknya dilakukan oleh koleganya. Tentu tanpa menyebut nama. Aqua layaknya jurnalis, dengan aplikasi pesan sebagai medianya.

Setelah BBM ditinggalkan dan banyak orang beralih ke Whatsapp (WA), rutinitas Aqua mengirimkan pesan berpindah ke WA. Minimal sehari sekali Aqua mem-broadcast pesan ke semua kontaknya. Kadang bahkan dua atau tiga kali. Tidak pernah bosan dan tidak ada capainya.

Kemarin saya sapa Aqua sambil bertanya, ada berapa kontak WA di ponselnya? “Hampir 7.000 orang. Sebagian di antara para kontak tersebut adalah konsumen buku-buku saya,” Aqua menjawab disertai kalimat khasnya, “terima kasih banyak Mas Arif.” Dan tentu, diiringi dengan “salam hormat untuk keluarga”. Khas sejak dari BBM dulu.

Aqua tidak saya kasih tahu kalau saya akan menulis tentang dia. Sengaja ingin saya jadikan surprise buatnya. Dan memang, cara yang dipakai Aqua dengan memanfaatkan media aplikasi pesan itu adalah direct branding yang efektif. Bahkan saya tahu, beberapa koran di Jakarta pun, dan juga majalah, oplahnya tak sampai 7.000 setiap terbit.

Artinya, Aqua terus menyesuaikan diri dalam memilih cara berkomunikasi. Dia adaptif dan relevan. Karena setiap orang pasti memiliki HP, dan selalu melihat WA. Menurut survei, lebih dari 8 jam rata-rata orang Indonesia pegang HP dalam sehari.

Saya sebut Aqua adalah pelopor, lantaran dia adalah orang pertama, sepengetahuan saya, melakukan cara komunikasi semacam itu. Cara bertuturnya pun memakai gaya jurnalistik. Mungkin karena dia pernah jadi wartawan. Barangkali tidak ada orang lain yang setekun, sekonsisten, dan punya durabilitas tinggi macam orang asal Bukittinggi itu.

Dan Aqua sejak awal konsisten dengan pesan kunci yang digunakannya. Silaturahmi dan berbuat baik. Peduli terhadap orang lain. Itu jadi brand yang kemudian melekat kepada dirinya. Pasalnya, pesan kunci tersebut terus disampaikan selama 10 tahun terakhir secara konsisten kepada seluruh audiensnya. Langsung ke ponsel masing-masing.

Dia menulis dari mana saja, di tengah kesibukan kegiatannya dari kota ke kota dan dari pulau ke pulau, nyaris tanpa jeda. Apa yang ditulisnya adalah apa yang dilakukannya. Atau dijumpainya. Tentu, di antara kisah-kisahnya adalah cerita motivasi yang menginspirasi orang lain. Memang, salah satu tekadnya adalah menolong orang lain. Berpikir positif, optimistis, berusaha keras, dan berserah diri kepada Tuhan.

Dan hampir pasti, dari 7.000 kontak yang setiap hari dikirimi kisah inspirasinya, ada yang mem-forward ke grup-grup aplikasi pesan lainnya, atau kolega yang lain. Artinya, peluang viralitasnya tentu cukup besar. Tak heran, Aqua memiliki pergaulan yang sangat luas. Di lingkungan pengusaha, korporasi, birokrat di pusat dan daerah, maupun militer dan kepolisian.

Dampaknya tentu positif sekali. Setiap membukukan kisah-kisahnya itu, bukunya laku keras. Buku terakhir yang diterbitkan Aqua laku keras, sampai lebih dari 20.000 eksemplar. Juga tentu saja banyak sponsor pula.

Anda barangkali belum tahu, hasilnya dipakai untuk memberangkatkan banyak orang untuk umrah gratis. Hanya karena pandemi Covid-19 saja kegiatan umrah gratis itu saat ini sementara terhenti.

***

Saya ingin membawa perjalanan Aqua ini dalam konteks perilaku komunikasi dan pergeseran industri media hari-hari ini. Buat saya, apa yang dilakukan Aqua sejak 10 tahun silam itu adalah penemuannya yang genuine dalam menggunakan platform media secara efektif. Platform aplikasi pesan berubah, Aqua cepat menyesuaikan diri, dan terbukti kemudian sangat relevan hingga hari ini.

Barangkali pada awalnya Aqua tidak menyadari apa yang dilakukannya memiliki efektivitas yang tinggi. Bahkan komunikasi personal yang dilakukannya dengan platform aplikasi pesan itu sebenarnya berdampak langsung. Dan sangat targeted. Namun, sengaja saya tidak bertanya soal itu ke Aqua. Lain waktu saya akan tanyakan soal ini. Biar saat ini saya bisa menebak-nebak dan menganalisa secara mandiri.

Tentu saja, saya mengusung perspektif tersebut lantaran kebetulan masih dalam suasana ulang tahun ke-24 Solopos, salah satu media legacy atau media mainstream konvensional. Media konvensional, termasuk Solopos, selama ini menjadi “platform” utama untuk berkomunikasi kepada publik. Namun, satu dasawarsa terakhir, peran media konvensional tergeser oleh platform media berbasis internet, termasuk media sosial.

Kemajuan teknologi berbasis internet terbukti telah dengan nyata menjadi mesin utama revolusi industri media. Akibatnya terjadi perubahan perilaku dalam mengasup dan menyebarkan informasi secara masif dan drastis.

Media konvensional menjadi “korban” paling depan dari disrupsi digital ini. Bukan hanya media cetak, tetapi juga media elektronik. Koran, tabloid dan majalah tergilas oleh media online. Begitupun televisi dan radio. Bisnis mereka terpapar bahkan tergerus oleh “radikalisme” youtuber dan “podcaster“.

Maka bagi para praktisi media belakangan ini, perubahan adalah keniscayaan. Media harus berubah agar tetap relevan dengan perubahan perilaku audiens. Agar tidak terlempar dari gelanggang.

Salah satu tren model bisnis media yang sekarang ini semakin berkembang dan menguat adalah monetisasi konten. Namun, tantangan model bisnis berbasis monetisasi konten ini juga bukan perkara mudah. Apalagi dengan ekosistem digital baru, di mana semua jenis informasi begitu mudahnya menyebar melalui gadget di setiap orang. Dan gratis.

Namun, saya percaya, kondisi akan terus berubah. Sekelompok praktisi industri, di mana saya terlibat di dalamnya, saat ini tengah berupaya memperbaiki ekosistem industri agar lebih sehat dan memiliki ruang bermain yang imbang antara penerbit dan platform global.

Selain persoalan tersebut, dua tahun terakhir ini juga marak perilaku konsumen yang sangat merugikan media konvensional dalam memasuki industri digital. Contohnya adalah perilaku “loper koran digital” yang semakin marak.

Setiap hari kita mendapatkan kiriman e-paper beraneka macam media, di banyak grup aplikasi pesan. Saya kerap mengolok-olok para penyebarluas e-paper PDF banyak koran di Indonesia ini, di mana banyak di antaranya para intelektual dan profesional, sebagai “begal digital”. Karena itulah dengan sangat berat hati, Solopos menghentikan distribusi e-paper PDF, begitu pula Harian Jogja sejak April 2021 lalu, sebagai ikhtiar untuk “melawan” begal digital. Tentu sambil mengembangkan opsi platform yang berbeda.

Pengelola media memang perlu keberanian untuk melakukan “trial and adjust” dari waktu ke waktu. Saya kok percaya, bila para publisher bisa membuat konsensus bersama untuk menghentikan e-paper PDF itu, rasanya akan sangat membantu memotong rantai gelap para “loper koran digital” yang saat ini menjadi pembegal produk media secara masif di seluruh Indonesia.

Lebih dari itu, saya sangat percaya terhadap kekuatan konten. Selain berkualitas –dalam arti akurat dan mengikuti standard jurnalistik yang baik– konten media harus “relevan dan bermanfaat”. Hanya konten yang bermanfaatlah yang akan diterima oleh khalayak dalam jangka panjang.

Maka, dalam konteks “relevan dan bermanfaat” itulah saya jadi ingat keberhasilan Aqua Dwipayana seperti saya kisahkan di muka. Nah, bagaimana menurut Anda? (*)

Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago