Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

McDonaldisasi dalam Dunia Pendidikan

Seiring perkembangan zaman, prinsip McDonaldisasi tidak hanya hadir bagi dunia bisnis, tetapi juga digunakan dalam banyak dunia salah satunya pendidikan.
SHARE
McDonaldisasi dalam Dunia Pendidikan
SOLOPOS.COM - Tatiana Pramudya Regita (Solopos/Istimewa)

Solopos.com, SOLOMcDonaldisasi merupakan istilah yang digunakan George Ritzer untuk menggambarkan fenomena munculnya industri-industri raksasa yang menjalar secara global. Industri itu menggunakan ide rasionalitas sebagai faktor determinan yang memengaruhi sendi-sendi kehidupan sosial budaya masyarakat (Ritzer, 1993).

Singkatnya, McDonaldisasi dapat diartikan sebagai perpindahan dari mode pemikiran tradisional menuju rasional. Mengapa Ritzer menggunakan istilah McDonaldisasi? Lalu, bagaimana fenomena ini juga muncul dalam dunia pendidikan?

PromosiBorong Penghargaan, Tokopedia Jadi Marketplace Favorit UMKM

Ritzer menggunakan perusahaan cepat saji McDonald’s sebagai awal mula munculnya istilah McDonaldisasi. McDonald’s sudah tidak lagi asing didengar oleh sebagian besar umat manusia karena telah gerainya sukses merambah hampir semua negara di dunia. Kegemilangan McDonald’s inilah yang kemudian menjadi motivasi bagi industri lain dan saat ini dijadikan sebagai role model dalam dunia bisnis.

Masyarakat di seluruh belahan bumi saat ini hidup dalam era globalisasi yang serba digital, termasuk Indonesia. Kemudahan yang lahir dari globalisasi membuat masyarakat menginginkan sesuatu yang efisien dan menguntungkan bagi kehidupannya. Oleh karena itu, salah satu prinsip McDonaldisasi adalah mampu memberi jawaban atas keinginan masyarakat.

Awalnya prinsip McDonaldisasi memang hanya berkembang dalam dunia bisnis. Namun, seiring perkembangan zaman, prinsip McDonaldisasi tidak hanya hadir bagi dunia bisnis, tetapi juga digunakan dalam banyak dunia salah satunya pendidikan.

Bagaimana keterkaitan prinsip McDonaldisasi dengan dunia pendidikan khususnya Indonesia? Prinsip McDonaldisasi menggunakan empat elemen yang dianggap sebagai jantung keberhasilan.

Pertama, efisiensi. Kurikulum dianggap sebagai sarana yang efisien dalam mencapai tujuan pendidikan. Ini tak lepas dari fungsinya sebagai pembatasan materi pengajaran untuk peserta didik. Pembatasan materi tersebut dianggap penting guna menghindari tumpang-tindihnya materi di setiap jenjang pendidikan. Peserta didik pada setiap jenjang pendidikan diberi materi yang sesuai kemampuan sehingga bisa dengan mudah menangkap materi yang diajarkan.

Begitu pula dalam ujian bagi peserta didik yang memiliki beragam bentuk, sepertipilihan ganda, uraian, dan lisan. Ujian pilihan ganda dianggap paling efisien karena mampu menghemat waktu pemeriksaan jawaban. Oleh karena itu, ujian nasional, ujian sekolah, ataupun ujian masuk perguruan tinggi selalu menggunakan model soal pilihan ganda.

Kedua, kalkulasi. Aspek kuantitatif setara bahkan diutamakan daripada aspek kualitatif. Teknologi yang canggih bisa menjadi optimal penggunaannya dengan dorongan situasi pandemi. Pascapandemi, pengumpulan tugas, absen, bahkan ujian bisa diselesaikan dengan cepat. Misalnya, pengumpulan tugas oleh pelajar atau mahasiswa bisa melalui email bisa dilakukan dari rumah masing-masing sehingga lebih menghemat waktu daripada harus mengumpulkan tugas ke sekolah.

Ketiga, prediktabilitas. Ini menunjukkan sebuah kepastian yang bisa diprediksi. Kepastian tersebut dapat dilihat dari adanya kurikulum. Kurikulum di semua sekolah di Indonesia baik di swasta maupun negeri semuanya sama. Batasan materi yang diberikan juga sama di setiap sekolah. Karena itu, pembuat program bimbingan belajar juga mampu memprediksi materi yang akan diajarkan karena keseragaman materi untuk siswa sekolah. Hal ini sesuai dengan prinsip McDonaldisasi di mana McDonald’s memberikan rasa yang sama di setiap gerai.

Keempat, kontrol. Setiap instansi pendidikan tentu memberi kontrol bagi siapa saja yang termasuk dalam instansi tersebut. Adanya tata tertib menjadi implementasi dari adanya elemen kontrol. Di antaranya larangan untuk datang terlambat ke sekolah, wajib menggunakan seragam, dan lainnya. Semua aturan yang ada bersifat mengikat dan mengontrol ruang gerak baik guru maupun peserta didik.

Contoh paling mudah dilihat adalah kurikulum yang bisa menjadi kontrol bagi proses belajar mengajar. Kurikulum memberikan batasan materi yang wajib diikuti oleh semua institusi pendidikan. Kinerja setiap guru dan institusi pendidikan dalam pemberian materi juga bisa diukur melalui kurikulum.

Dehumanisasi

Meski demikian, bagaimanapun hebatnya bagi dunia pendidikan yang berjalan sangat rasional, prinsip McDonaldisasi mau tidak mau melahirkan irrasionalitas. Keuntungan yang diperoleh melahirkan sebuah dehumanisasi dan juga homogenisasi.

Salah satunya, kelemahan ini muncul dalam model ujian pilihan ganda. Meskipun menciptakan efisiensi, di sisi lain ujian pilihan ganda menciptakan penumpulan kemampuan peserta didik dalam merangkai jawaban. Mereka tidak terlatih untuk menjelaskan jawaban dengan runtut. Hal ini akan berdampak pada ketidakmampuan mereka dalam menganalisis berbagai masalah dalam kehidupan.

Kurangnya relasi antara peserta didik dan guru juga terlihat apabila pengiriman tugas menggunakan platform daring seperti e-mail. Dalam dunia pendidikan, relasi antara peserta didik dengan guru sangat diperlukan untuk mengembangkan kepribadian peserta didik.

Kemajuan teknologi yang diadopsi dalam dunia pendidikan juga memberikan dampak negatif lainnya. Potensi plagiarisme adalah salah satu dampaknya. Peserta didik akan lebih mudah menempel karya tulis dari sumber-sumber di internet untuk dimasukkan dalam makalah atau jawaban mereka. Hal ini menunjukkan adanya mental “instan” peserta didik. Mental instan merupakan mental untuk mencapai tujuan cepat tanpa banyak usaha (Koentjaraningrat, 1985).

Terakhir, pembatasan materi oleh kurikulum berpotensi mematikan kreativitas guru. Begitu pula institusi pendidikan dalam mengembangkan model pembelajaran yang lebih bervariasi. Dengan demikian, terciptalah sebuah keseragaman yang berujung pada kematian kreativitas pendidik maupun peserta didik.

Esai ini ditulis oleh Tatiana Pramudya Regita, mahasiswa Program Studi Sosiologi FISIP UNS.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode