Mbok Karti, Pelopor Penjual Teh Tradisional di Kemuning Ngargoyoso

UMKM teh rumaha di Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar, baru berkembang signifikan dalam 10 tahun terakhir. Usaha ini dipelopori seorang wanita yang dikenal dengan nama Mbok Karti.
SHARE
Mbok Karti, Pelopor Penjual Teh Tradisional di Kemuning Ngargoyoso
SOLOPOS.COM - Pemetik daun teh di Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar . (JIBI/Solopo/Bony Eko W)

Solopos.com, KARANGANYAR — Desa Kemuning di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar memiliki perkebunan teh yang menjadi rujukan wisatawan.

Masyarakat yang berkunjung ke sana selain dapat menikmati pemandangan hamparan perkebunan yang indah, juga bisa membawa pulang produk daun teh produk warga setempat.

PromosiHari Keluarga Nasional: Kudu Tepat, Ortu Jangan Pelit Gadget ke Anak!

Pengunjung dapat membelinya di lapak-lapak PKL di beberapa tempat, di kios pasar, di toko oleh-oleh, hingga di kedai teh. Daun teh tubruk ini biasanya dikemas di dalam plastik transparan.

Surat untuk Bunda Selvi Gibran

Berbicara tentang sejarah produk teh Kemuning bikinan warga ini tak lepas dari nama Mbok Karti. Dia adalah warga Kemuning yang menjadi pelopor usaha pembuatan dan penjualan teh di sana.

Wanita berusia 76 tahun ini merintis usaha tersebut sejak 1986. Ia membuat teh yang ia petik dari kebun atau ia peroleh dari petani setempat kemudian mengolah secara tradisional dan menjualnya di Pasar Kemuning.

Baca Juga: Mewujudkan Mimpi Bupati Yuni Miliki Teh Khas Sragen

Putra Mbok Karti, Wahyono, mengatakan ibunya memiliki kios di pasar tersebut dengan dagangan utamanya bumbu dapur. Tetapi ia juga menjual teh Kemuning. “Sejak saya masih kecil, ibu saya, Mbok Karti, sudah jualan bumbon [bumbu dapur] teh di Pasar Kemuning. Waktu itu ibu saya juga menjual teh kemuning. Ia juga mengepul teh-teh yang dibikin warga sini,” ujar Wahyono, Sabtu, (21/5/2022).

Ia menambahkan, pada saat itu pelanggan Mbok Karti sebagian besar adalah warga Solo keturunan Tionghoa. “Dulu yang cari teh kemuning di kios ibu saya kebanyakan malah orang-orang Chinese dari Solo. Mereka sengaja datang ke sini untuk beli teh,” ujarnya.

Sekarang peminat teh kemuning bukan hanya warga keturunan Tionghoa asal Solo, tetapi semua lapisan masyarakat dari berbagai daerah.

Naik Kelas

Pada 2011, Wahyono mulai tertarik untuk ikut terjun dalam usaha teh. Ia sedikit menaikkan kelas teh kemuning dari yang sebelumnya dijual di pasar menjadi produk yang bisa dijual di kios oleh-oleh.

Pembuatannya pun tak lagi secara tradisional, tetapi sebagian sudah menggunakan mesin. “Sejak 2011 saya melihat Kemuning ini mulai berkembang menjadi tempat wisata yang semakin banyak dikunjungi. Lalu saya bikin teh Kemuning ini menjadi oleh-oleh,” ujarnya.

Baca Juga: Di Kemuning Ngargoyoso Tak ada Warga Menganggur

Seiring bergulirnya waktu, usaha yang ia geluti terus berkembang sehingga permintaan semakin tinggi. Pada sisi lain, pasokan teh lokal kemuning sudah tidak memadai. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan tersebut, ia mendatangkan sebagian daun teh dari Pekalongan dan Banjarnegara

Sementara itu, saat itu banyak juga warga lain yang mulai tertarik untuk ikut mengembangkannya melalui usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) teh.

Salah satu pelaku UMKM teh kemuning lainnya, Priyanto, juga mengatakan kebangkitan teh kemuning dirasakan sekitar sepuluh tahun yang lalu. Saat itu, ia menjadi orang yang kali pertama memesan daun teh ke pabrik teh setempat untuk diolah sendiri.

“Sekitar tahun 2011 belum ada yang berani pesan daun teh ke pabrik. Lalu saya coba melobi pabrik teh di sini untuk DO [delivery order] dan dikasih, lalu kami olah secara tradisional,” ujarnya.

Namun pengolahan/pembuatan teh secara tradisional ini dirasa terlalu lama dan kurang menguntungkan, sehingga Priyanto mulai melakukan modernisasi dengan menggunakan mesin.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago