Masjid Tertua di Sragen Ini Simpan Pusaka dari Raja Keraton Solo PB IV, Begini Ceritanya

Salah satu masjid tertua di Sragen yang terletak di Jetiskarangpung, Kalijambe, ternyata juga menyimpan pusaka pemberian Raja Solo.
Masjid Tertua di Sragen Ini Simpan Pusaka dari Raja Keraton Solo PB IV, Begini Ceritanya
SOLOPOS.COM - Bangunan Masjid Jami' Abdul Djalal Awal di Kaliyoso Jogopaten, Jetiskarangpung, Kalijambe, Sragen, Jumat (24/9/2021). Solopos/Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN — Masjid Jami’ Kiai Abdul Djalal Awal di Dukuh Kaliyoso Jogopaten, Desa Jetiskarangpung, Kalijambe, Sragen, bukan hanya merupakan masjid tertua di kabupaten tersebut.

Masjid ini juga menyimpan pusaka pemberian Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Pakoe Buwono (PB) IV. Pusaka berupa tombak itu masih terpasang di salah satu sokoguru dekat mimbar masjid.

Suara azan berkumandang dari menara Masjid Jami’ Kiai Abdul Djalal Awal saat Solopos.com berkunjung, Jumat (24/9/2021). Ratusan warga dari anak-anak hingga kakek-kakek bersiap menunaikan Salat Jumat di salah satu masjid tertua di Kabupaten Sragen itu.

Baca Juga: Selamat! Sragen Raih Penghargaan Parahita Ekapraya dari Kemen PPPA

Masjid Jami’ Kiai Abdul Djalal Awal dibangun atas perintah Sri Susuhunan Paku Buwono IV pada 1790 Masehi. Belum banyaknya perubahan pada bangunan fisik menjadikan masjid ini ditetapkan sebagai benda cagar budaya (BCB) oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen pada 2015.

Bangunan utama masjid itu masih menggunakan sejumlah sokoguru pemberian PB IV. Tidak hanya sokoguru, PB IV juga memberikan tiga pintu, mimbar khutbah, satu pusaka berupa tombak. Saat ini, tombak itu masih terpasang di salah satu sokoguru dekat mimbar.

Bagian usuk dari atap masjid itu juga belum pernah diganti. Walau ada beberapa yang sudah terlihat keropos, usuk itu tidak diganti baru, melainkan hanya dibersihkan.

Baca Juga: Buntut Temuan Klaster Covid-19 PTM di Jateng, Pelajar SMP Sragen akan Dites Antigen

Berusia 231 Tahun

“Desain mimbar masjid itu sama dengan mimbar di Masjid Agung Solo. Sebab, mimbar itu dibangun orang yang sama yakni Kiai Gubito. Ukurannya mimbar di sini memang lebih kecil. Tapi bentuk dan ukuran di permukaannya sama. Konon setiap motif ukiran itu memiliki makna tersendiri,” papar Robchan, 73, penasihat Takmir Masjid Jami’ Abdul Djalal Awal, kepada Solopos.com.

Walau sudah berusia 231 tahun, bangunan utama masjid tertua di Sragen itu tidak banyak berubah. Beberapa tahun lalu memang terdapat salah satu pilar yang sempat doyong.

Namun, setelah diperbaiki pilar itu kini kokoh kembali. Robchan menyebut penggantian hanya terjadi pada komponen tertentu seperti kusen dan jendela.

Baca Juga: Warga Sragen Jual Obat Terlarang Hingga Ratusan Butir per Hari, Pembeli Mayoritas Anak SMA

Sementara beduk di bagian depan juga masih dipertahankan. Beduk itu dibuat dari satu batang kayu utuh, tanpa ada sambungan. Hanya kulit beduk yang biasa diganti sekitar 4-5 kali.

Abdul Djalal Awal merupakan nama gelar dari Bagus Turmudli yang sosoknya mulai dikenal di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat setelah ditunjuk memimpin Salat Gerhana berikut khotbah di hadapan PB IV.

Oleh PB IV, kata Robchan, Bagus Turmudli kemudian diutus untuk menyebarkan ajaran Islam di Pardikan Kaliyoso. “Saat itu, Pardikan Kaliyoso masih berupa hutan belantara dan belum banyak warga yang beragama Islam. Beliau sampai di sini setelah menempuh perjalanan melalui sungai,” jelas Robchan.

Baca Juga: Tukang Rosok di Sragen Ditangkap Polisi Gara-Gara Curi Sepeda Seharga Jutaan Rupiah

Sering Jadi Tempat Studi Akademisi

Robchan menjelaskan dari Solo, Bagus Turmudli menyusuri Sungai Bengawan Solo sampai di Plupuh, dilanjutkan perjalanan melalui Sungai Cemoro. Setelah sampai di Pardikan Kaliyoso, Bagus Turmudli membangun tempat tinggal dan masjid.

Meski dekat Sungai Cemoro, Kiai Abdul Djalal memilih mendatangkan air dari Sendang Silumut yang berjarak sekitar 1 km dari masjid tertua di Sragen itu. Ajaibnya, walau kampung tempat berdirinya masjid itu terlihat lebih tinggi, air dari Sendang Silumut itu bisa dialirkan ke blumbang di kanan dan kiri masjid.

“Menurut dongeng sesepuh, entah benar atau salah, Kiai Abdul Djalal membuat saluran air itu cukup dengan menarik tongkatnya hingga membentuk garis di tanah dari Sendang Silumut menuju masjid. Garis itu kemudian jadi saluran air dari sendang menuju masjid,” ujar Rusdi Suharjo yang juga pengurus takmir Masjid Kiai Abdul Djalal Awal.

Baca Juga: Alasan Wong Sragen Beli Uang Palsu, Ternyata Untuk Balas Dendam ke Dukun

Serambi Masjid Jami’ Kiai Abdul Djalal Awal dibangun pada 1952. Sementara menara masjid dibangun pada masa Bupati Sragen Bawono pada 1995.

Selain digunakan sebagai tempat ibadah, cukup banyak akademisi dan mahasiswa yang menggelar studi terkait Masjid Kiai Abdul Djalal Awal.

Setiap pekan, paling tidak ada tiga kali pengajian yang diikuti oleh masyarakat sekitar. Salah satunya adalah semaan hafalan alquran yang digelar setiap Jumat sore.

Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago