Masjid Agung Pati Saksi Sejarah Bumi Mina Tani

Masjid ini memiliki beberapa keunikan, di antaranya kombinasi apik antara marmer putih pada lantai dan dinding bagian depan yang berpadu dengan ornament kayu berwarna coklat.
Masjid Agung Pati Saksi Sejarah Bumi Mina Tani
SOLOPOS.COM - Masjid Agung Baitunnur Pati (Instagram/@masjidinfo.id)

Solopos.com, PATI — Masjid Agung Baitunnur Pati (Masjid Agung Pati) terletak di sisi sebelah barat alun-alun Kota Pati atau lebih dikenal dengan simpah lima. Di sebelah kiri masjid ini terdapat Kantor Bupati Pati dan Gedung DPRD Kabupaten Pati.

Mengutip situs Patikab.go.id, Minggu (11/7/2021), masjid ini memiliki beberapa keunikan, di antaranya kombinasi apik antara marmer putih pada lantai dan dinding bagian depan yang berpadu dengan ornament kayu berwarna coklat.

Sejarahnya, Masjid Agung Baitunnur Pati ini dibangun pertama kali oleh Raden Adipati Aryo Condro Adinegoro (nama aslinya adalah Raden Bagus Mita) yang  memegang kekuasaan antara tahun 1829-1895 M. Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 1261 H atau 1845 M dan tahun pembangunan masjid ini ditunjukkan melalui prasasti berbentuk kaligrafi milik Masjid Agung yang sekarang berada di Masjid Gambiran.

Baca Juga : Ganjar Ajak ASN Jateng Jajan di Warung Pedagang Kecil, Ga Usah Masak

Kaligrafi tersebut berbunyi: “ibtidaa’u binaa’i hadza al-masjid fii sanah 1261 H / 1845 M”. (artinya: Awal Pembangunan Masjid ini adalah pada Tahun 1261 Hijriyah bertepatan dengan Tahun 1845 Masehi)

Dahulu atap masjid ini berundak seperti pada Masjid Agung Demak dan masjid-masjid kuno di Jawa Tengah yang dibangun oleh para wali. Masjid tidak memiliki kubah, tetapi cungkup berundah khas yang ada di rumah tradisional Jawa kuno.

Kemudian pada tahun 1289 H/1969 M, Masjid Agung Baitunnur Pati direnovasi. Tahun renovasi ini bisa dilihat pula pada tulisan Arab di sebelah kiri prasasti kaligrafi yang sama.

Pada tahun tersebut yang menjadi Bupati Pati adalah A.K.B.P. Raden Soehargo Djojolukito (Menjadi Bupati Pati dari Tahun 1967-1973 M). Desain masjid ini berubah, dari yang sebelumnya tanpa kubah kemudian memiliki kubah di bagian atasnya. namun atap berundah masjid masih dipertahankan

Baca Juga : Pindang Serani, Santapan Pesisir Jepara Bercitarasa Khas

Pada tahun 1979 masjid Agung Baitunnur Pati direnovasi untuk kedua kalinya di akhir Jabatan Bupati Kol. Pol. Drs. Edy Rustam Santiko (menjabat Bupati dari Tahun 1973-1979 M). Pembangunan selesai pada tahun 1980 M yang pada saat itu Bupati Pati dijabat Kol. Inf. Panoedjoe Hidayat. Desain masjid pada renovasi kedua ini dilakukan oleh Nu’man dari ITB Bandung. Desain Masjid Agung Baitunnur Pati berubah total dari desain sebelumnya.

Desain Masjid Agung Pati yang sebelumnya berundak dan berkubah, setelah direnovasi pada 1979, atap masjid tidak lagi berundak dan juga tidak lagi berkubah. Desain bangunan masjid tersebut terkesan memiliki desain minimalis dan bertahan sampai sekarang ini.

Masjid Agung Baitunnur Pati juga memiliki mimbar unik dan kuno yang berumur sekitar 160 tahun. Mimbar ini adalah hadiah atau pemberian Raden Adipati Aryo Condro Adinegoro 9 tahun setelah pembangunan masjid. Di dalam mimbar tersebut terdapat prasasti bertuliskan huruf Arab Pegon.

Baca Juga : Pemkot Pekalongan Jadikan Perpus Sebagai Pusat Kegiatan Warga

Masjid Agung Baitunnur memiliki arsitektur yang unik. Di samping kiri masjid menjulang menara tunggal yang terpisah dengan bangunan utama masjid. Di sebelah belakang masjid berdiri Gedung Islamic Centre yang bergandengan dengan tempat wudu dan kamar mandi. Keunikannya, antara masjid dan tempat wudu dihubungkan dengan teras dan kolam yang sama-sama berdasarkan tatanan batu-batu kecil

Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago