Masih Pandemi, Pemkab Sragen Beli Mobil Damkar Rp2,7 Miliar

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen bisa membeli dua unit mobil pemadam kebakaran (Damkar) senilai Rp2,7 miliar pada 2021.
Masih Pandemi, Pemkab Sragen Beli Mobil Damkar Rp2,7 Miliar
SOLOPOS.COM - Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati menyerahkan kunci secara simbolis kepada Plt. Kepala Satpol PP Sragen, Samsuri, di halaman Satpol PP Sragen, Selasa (3/8/2021). (Solopos/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN — Setelah melalui proses panjang sejak perencanaan pada 2019, akhirnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen bisa membeli dua unit mobil pemadam kebakaran (Damkar) senilai Rp2,7 miliar pada 2021.

Proses lelang pengadaan dua unit mobil itu sempat gagal dan dilakukan lelang ulang karena pegawai di Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sragen tidak berani menjadi pejabat pembuat komitmen (PPK) dalam pengadaan mobil itu yang nilainya besar.

Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati pun mengira Sragen gagal beli mobil damkar karena alasan sumber daya manusia (SDM) yang tidak berani mengambil risiko. Yuni, sapaan akrabnya, saat ditemui wartawan, Selasa (3/8/2021), menjelaskan pembelian mobil Damkar ini dibutuhkan karena permintaan Damkar saat musim kemarau melonjak sementara armada yang dimiliki tidak mencukupi.

“Ya, memang sudah beberapa kali proses lelang dan sempat gagal juga karena SDM di Satpol PP takut. Saat briefing pun sudah saya singgung ASN harus berani mengambil risiko. Ketika ditelisik, ASN tidak berani karena tinggal menunggu waktu pensiun. Saya pikir sudah gagal dibeli, ternyata bisa beli juga. Perencanaan kan sudah 2019 tetapi baru terealisasi dua tahun berikutnya,” ujar Yuni.

Baca juga: PPKM Level 4 Diperpanjang, Penutupan Jalan di Solo Berlanjut! Ini Daftarnya

Kabid Damkar Satpol PP Sragen, Sunardi, saat ditemui Solopos.com, Selasa, menyampaikan satu unit mobil berkapasitas 4.000 liter senilai Rp1,1 miliar dan satu unit lainnya berkapasitas 3.000 liter senilai Rp1,6 miliar sehingga total Rp2,7 miliar. Sunardi menjelaskan untu satu unit mobil tangka kapasitas 4.000 liter itu berfungsi sebagai suplai utama tetapi juga bisa melakukan penyemprotan air saat memadamkan api.

“Jadi memilik fungsi ganda. Selama ini kebutuhan suplai air bisa mengandalkan BPBD [Badan Penanggulangan Bencana Daerah] dan PMI Sragen. Sedmentara satu unit lainnya berkapasitas 3.000 liter dobel tangka, maisng-maisng 2.500 liter dn 500 liter yang berisi air voam. Air voam itu air yang memiliki bisa seperti air sabun yang berfungsi memadamkan api,” jelas Sunardi.

Dalam memadamkan api, Sunardi menyampaikan air voam yang paling efektif memadamkan api. Dia mengatakan sekarang Satpol PP memiliki tujuh unit Damkar yang terbagi enam unit di Mako Satpol PP Sragen dan satu unit di posko Gemolong.

“Sebenarnya masih ada satu unit yang rusak karena buatan 1990-an. Ada juga yang tidak layak dan segera diajukan lelang,” jelasnya.

Baca juga: Pemakaman dengan Protokol Covid-19 di Solo Melonjak 4 Kali Lipat, Penggali Kubur Kewalahan

Sunardi menerangkan kendala dalam prosesi pemadaman itu karena budaya berlalu lintas di Sragen masih belum sadar memberikan akses prioritas saat mobil Damkar lewat. Selain itu, Sunardi juga mendapati banyaknya motor yang diparkir di pinggir jalan dekta lokasi kejadian sehingga menyusahkan transporasti mobil Damkar.

“Untuk menjangkau gang-gang kecil maka mobil yang dipilih berukuran standar kecil. Dengan mobil kecil lebih mudah untuk manuver,” katanya.

Sunardi berkeinginan membentuk pos pembantu, teriutama di eks kawedanan, seperti Gesi, Sukodono, dan Tangen. Dengan mendekatkan pelayanan ke masyarakat, kata dia, maka kebakaran berhasil dipadamkan sedini mungkin. Selam aini dari laporan sampai respons butuh waktu 30 menit.

Dia menerangkan kasus kebakaran sepanjang 2020 menurun, yakni hanya 83 kasus sedangkan di 2019 ada sebanyak 240 kasus kebakaran.

Baca juga: 1 Peleton Polisi Dikerahkan Semprot Disinfektan di Jalanan Klaten

“Sekarang hingga akhir Juli 2021, sudah ada 50 kasus kebakaran,” jelasnya.

Dia menerangkan kasus yang paling banyak itu biasanya di permukiman karena korsleting yang mencapai 50% lebih. Untuk kasus lainnya, ujar dia, hanya 5% dan sisanya di sektor non permukiman. Kasus paling banyak, ujar dia, ada di utara Bengawan Solo, seperti Tangen, Gemolong, Kalijambe, Mondokan, dan Miri.

“Biasanya Juli-Agustus itu tinggi-tingginya kematian. Sekarang intesitas laporan hanya 1-2 laporan per hari. Kami bekerja itu tidak memungut biaya sepeser pun,” jelasnya.

 

Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago