Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Mangrove untuk Kesejahteraan dan Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca

Pelindungan mangrove sebagai ekosistem blue carbon tidak hanya mengurangi emisi dan peningkatan simpanan carbon benefit, tetapi juga memberi manfaat bagi kesejahteraan masyarakat.
SHARE
Mangrove untuk Kesejahteraan dan Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca
SOLOPOS.COM - Warga mengunjungi kawasan hutan mangrove di Taman Hutan Raya (Tahura) I Gusti Ngurah Rai, Bali, Selasa (2/11/2021). (Antara/Fikri Yusuf)

Solopos.com, Solo – Pelindungan mangrove sebagai ekosistem blue carbon tidak hanya mengurangi emisi dan peningkatan simpanan carbon benefit, tetapi juga memberi manfaat bagi kesejahteraan masyarakat.

Presiden Joko Widodo dan Presiden Persatuan Emirat Arab (PEA) Sheikh Mohamed bin Zayed sepakat meningkatkan kerja sama untuk mengatasi dampak perubahan iklim dengan mengembangkan kawasan mangrove.

PromosiRekomendasi Merek Jeans Terbaik Pria & Wanita, Murah Banget!

“Telah ditandatangani kesepakatan joint project arrangement on mangrove development antara kedua negara,” kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam keterangan pers secara daring dari Abu Dhabi, seperti dilansir Antara, Sabtu (2/7/2022). Penjelasan lengkap bisa dibaca di Jadi Paru-Paru Dunia, Mangrove Juga Jamin Food Security Warga Pesisir.

Gunung Lawu sama seperti gunung lainnya di Pulau Jawa dipercaya sebagai pusat kekuatan sakral dan pemujaan yang menghubungkan masyarakat Jawa kuno dengan dewa atau leluhur yang dianggap memiliki kekuatan gaib, sehingga kerap digunakan sebagai lokasi ruwatan.

Pigeaud dalam De Tantu Panggelaran, 1924, menyebut pada zaman dahulu di tengah Jambudwipa berdiri kokoh Gunung Meru. Jambudwipa [India] dikelilingi tujuh samudra dan tujuh benua lainnya. Bhatara Guru memerintahkan para yaksa memindahkan Gunung Mahameru di Jambudwipa ke Jawadwipa. Ulasan lengkap bisa dibaca di Ruwatan di Gunung Lawu, Pusat Pemujaan Suci Masyarakat Jawa Kuno.

Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah menjadi satu-satunya wilayah di Jawa Tengah yang memiliki keunikan pesisir pantai selatan Jawa, yaitu pernah ditemukan jejak pembuatan garam rumahan. Mereka memproduksi garam dari air laut pada 1960-an hingga 1970-an.

Saat itu garam menjadi sumber penghidupan dan untuk barter. Hal itu dibuktikan dengan masih banyaknya puing gerabah (alat memasak dari tanah liat) yang ditemukan di sekitar tebing atau pantai di kawasan Paranggupito. Penjelasan lengkap bisa dibaca di Jejak Garam Rumahan Paranggupito Wonogiri dan Keunikan Pantainya.

Karapan sapi yang merupakan permainan khas masyarakat Madura, Jawa Timur, pernah digelar di sejumlah daerah di Jawa Tengah, salah satunya di Kota Solo. Berdasarkan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) berjudul Citra Pemerintahan Kota Surakarta dalam Arsip, 2014karapan sapi berlangsung di Kota Solo pada 10 Februari 1957.

Dalam dua foto yang dipublikasikan di buku tersebut, sejumlah orang memegang piala yang diduga merupakan pemenang festival itu. Tampak pula foto sepasang sapi yang disatukan dengan pangonong [kayu pertautan] pada leher. Salah satu peserta lomba pacuan itu mendapatkan nomor urut satu. Ulasan lengkap bisa dibaca di Tak Hanya Madura, Karapan Sapi Pernah Digelar di Solo.

Konten-konten premium di kanal Espos Plus menyajikan pembahasan dengan sudut pandang tajam, komprehensif, dan berdata lengkap. Konten premium menyajikan analisis mendalam atas suatu topik. Silakan mendaftar terlebih dulu untuk mengakses konten-konten premium tersebut.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode