Misteri Lorong Bawah Tanah di Solo, Ternyata Eks Jalur Distribusi Candu

Lorong rahasia bawah tanah di wilayah Laweyan, Solo, ditengarai sebagai jalur distribusi opium atau candu.
Misteri Lorong Bawah Tanah di Solo, Ternyata Eks Jalur Distribusi Candu
SOLOPOS.COM - Pecinta sejarah Kota Solo, KRMT L. Nuky Mahendranata Nagoro (kanan) melihat sebuah lorong bawah tanah di rumah salah satu warga Kelurahan/Kecamatan Laweyan, Solo, belum lama ini. (Istimewa)

Solopos.com, SOLO — Seorang pecinta sejarah Kota Solo yang juga sentana Dalem Sinuhun Paku Buwono X, KRMT L Nuky Mahendranata Nagoro, 49, mengungkapkan adanya sebuah lorong rahasia bawah tanah di wilayah Laweyan, Solo.

Keberadaan lorong yang diduga dibangun semasa Kerajaan Pajang tahun 1549 dia ceritakan di akun Instagram (IG) nya @Kanjengnuky yang memang banyak bercerita tentang sejarah Solo dan sekitarnya dua hari lalu.

Unggahan Nuky mendapat banyak komentar dan like dari warganet. Saat Solopos.com berbincang dengannya di Kopi Puspa Laweyan, Selasa (30/11/2021) malam, Nuky mengaku sejak lama menyukai cerita tentang sejarah.

Baca Juga: Kerap Ada di Pinggir Jalan Solo, Ini Arti Makna Marka Kuning Zigzag

Tapi IG dia baru aktif mengunggah kisah-kisah tentang sejarah suatu tempat sekira setahun terakhir. Terkait unggahan terbarunya tentang lorong rahasia di Laweyan, menurut dia ada beberapa kemungkinan fungsinya.

Pertama, lorong itu sengaja dibuat sebagai jalur distribusi opium pada masa itu. Sebab saat itu kawasan Laweyan menjadi pelabuhan atau bandar utama semua kebutuhan warga Kerajaan Pajang, yaitu Bandar Kabanaran.

Tidak hanya barang kebutuhan legal seperti rempah-rempah dan makanan, tetapi juga barang ilegal seperti opium atau candu. Pada masa Amangkurat II memang impor dan monopoli candu di daerahnya dibolehkan.

Baca Juga: Daftar UMK Soloraya 2022: Semua Naik, Tapi Tipis

Alhasil candu menjadi konsumsi masyarakat umum, utamanya yang mampu membelinya. Tahun 1677 merupakan awal bisnis candu ini, sehingga menjadi konsumsi masyarakat masa itu. Opium diangkut via jalur air.

“Salah satu jalur masuk opium menggunakan perahu-perahu dari Jawa Timur melalui Sungai Bengawan Solo dan masuk ke sungai-sungai kecil, termasuk Kali Jenes dan berlabuh di Bandar Laweyan,” tutur dia.

Selanjutnya opium itu diangkat melalui lorong-lorong bawah tanah yang terhubung dengan rumah-rumah saudagar batik di Laweyan. Saat itu menurut Nuky penggunaan opium lazim sebagai obat penambah stamina.

Baca Juga: Ada Pemeliharaan di Solo Hari Ini (1/12/2021), Listrik Padam 3 Jam

“Dulu opium di Solo bukan hanya untuk sajian pesta kaum ningrat. Tapi untuk kalangan menengah ke bawah, termasuk karyawan batik yang banyak menggunakannya untuk doping, menghilangkan rasa lelah,” tambah dia.

Selain sebagai jalur distribusi opium, Nuky tak menampik kemungkinan lorong-lorong di Laweyan sebagai tempat melarikan diri saat diserang musuh. Sebab saat itu para saudagar batik Laweyan tak akur dengan Keraton.

“Dulu ada dua jenis masyarakat yang punya kuasa. Satu dari kaum ningrat yang punya hegemoni kekuasaan kerajaan. Mereka bertindak sesuai kekuasaannya. Kedua, masyarakat yang punya uang di Laweyan,” papar dia.

Baca Juga: KSP Sejahtera Bersama Solo Bermasalah, Anggota Minta Atensi Pemerintah

Kemungkinan lain dari keberadaan lorong-lorong di Laweyan, menurut Nuky sebagai tempat bersembunyi saat ada perampok. Sebagai saudagar yang kaya, otomatis mereka rentan menjadi sasaran perampokan.


Berita Terkait
    Promo & Events
    Honda Motor Jateng
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago