top ear
Hunian kumuh di Myanmar. (Reuters)
  • SOLOPOS.COM
    Hunian kumuh di Myanmar. (Reuters)

Lockdown Covid-19 Gelombang Kedua, Warga Miskin Myanmar Terpaksa Makan Tikus

Sekitar 38 juta orang diperkirakan akan tetap berada atau didorong kembali ke dalam kemiskinan.
Diterbitkan Rabu, 28/10/2020 - 08:20 WIB
oleh Solopos.com/Indah Pranataning Tyas
3 menit baca

Solopos.com, YANGON—Setelah dihantam gelombang pertama pandemi Covid-19, kini Myanmar mengalami gelombang ke dua wabah Covid-19. Akibat dari kebijakan lockdown pemerintah sejak September, warga miskin Myanmar dilanda kelaparan. Bahkan mereka makan tikus hingga ular untuk menyambung hidup.

Hore! 17 Pasien Covid-19 di Klaten Sembuh, Terbanyak dari Trucuk

Dilansir Reuters, Selasa (27/10/2020), gelombang pertama virus Covid-19 melanda Myanmar pada Maret 2020. Ma Suu berusia 36 tahun menutup kios saladnya. Saat gelombang kedua pandemi Covid-19 melanda di bulan September, pemerintah menerapkan aturan untuk tinggal di rumah. Ma Su harus menggadaikan perhiasannya, pakaian hingga perabotan rumahnya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Karena tidak ada yang tersisa untuk dijual, suaminya yang seorang pekerja kontruksi berhenti bekerja terpaksa berburu makanan di saluran air kumuh. Mereka tinggal di pinggiran kota terbesar Myanmar, Yangoon.

“Orang-orang makan tikus dan ular,” kata Ma Suu sambil menangis. “Tanpa penghasilan, kami perlu makan seperti itu untuk memberi makan anak-anak,” lanjutnya.

Kisah Mantan LC Karaoke Solo: Berhenti Karena Pandemi Covid-19, Kini Fokus Jualan Thai Tea

Mereka tinggal di Hlaing Thar Yar, salah satu lingkungan termiskin Yangoon. Di mana penduduknya harus menyalakan senter ke semak-semak di belakang rumah mereka, untuk mencari makanan guna menghilangkan rasa lapar mereka.

Berbahaya

Walaupun tikus, reptil dan serangga sering dimakan keluarga di daerah pedesaan. Orang di beberapa daerah perkotaan tidak terbiasa dengan makanan tersebut, sekarang mereka harus makan seperti itu untuk menyambung hidup.

Lebih dari 40.000 kasus dan 1000 kematian, menjadikan Myanmar dengan kasus Covid-19 terburuk di Asia Tenggara. Lockdown yang diterapkan oleh pemerintah, telah menyebabkan ratusan ribu orang seperti Ma Suu, kehilangan pekerjaan dan sedikit dukungan ekonomi.

Pertama di Wonogiri, Ada Bayi yang Positif Covid-19

Pejabat daerah, Nay Min Tun mengatakan 40% keluarga Hlaing Thar Yar telah menerima bantuan, tetapi banyak tempat kerja ditutup dan hal ini membuat orang-orang menjadi lebih putus asa.

Myat Min Thu, anggota parlemen partai yang berkuasa untuk daerah tersebut mengatakan bantuan pemerintah dan sumbangan pribadi sedang didistribusikan. Namun dirinya juga mengakui bantuan tersebut tidak dapat mencakup semua warga,

Bahkan sebelum pandemi melanda, sepertiga dari 53 juta orang Myanmar dianggap sangat rentan untuk jatuh dalam kemiskinan. Tekanan finansial sekarang mengancam untuk menjerumuskan banyak orang kambali ke dalam kemiskinan.

Waduh! Pasien Positif Covid-19 Asal Jebres Kabur Dari RSUD dr Moewardi Solo

Orang Miskin Baru

Diperkirakan akan menekan peluang mereka untuk bangkit. Menurut Bank Dunia pada bulan September, Kemiskinan di Kawasan Asia Timur dan Pasifik meningkat setelah 20 tahun karena Covid-19.

Sekitar 38 juta orang diperkirakan akan tetap berada atau didorong kembali ke dalam kemiskinan. Pemerintah Myamar sendiri telah menawarkan kepada rumah tangga miskin paket makan satu kali dan tiga hibah tunai masing-masing $15, sebagai bagian dari rencana bantuannya. Namun usaha ini gagal menurut masyarakat.

Sebuah survei oleh ONow Myanmar terhadap lebih dari 2000 orang di seluruh negara pada bulan April, menemukan 70% telah berhenti bekerja dan seperempat telah mengambil pinjaman untuk makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya.

Covid-19 Sukoharjo: Kasus Pasien Positif Nyaris 1.000 Orang

Gerard Meccarthy, seorang postdoctoral di Asia Reseach Institute di Singapura mengungkapkan, sektor-sektor yang mendorong industralisasi di Myanmar, termasuk garmen dan pariwisata telah dihentikan sementara.

Thant Myint-U, sejarawan Myanmar mengatakan tidak adanya jaring pengaman sosial yang layak dan runtuhnya sistem kesejahteraan tradisional desa, menambah sulit hidup masyarakat yang tinggal dalam kawasan miskin di Myanmar.


Editor : Profile Jafar Sodiq Assegaf
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini