top ear
Livi Zheng Enggan Tanggapi Kontroversi Film The Santri
  • SOLOPOS.COM
    Livi Zheng. (Detik.com)

Livi Zheng Enggan Tanggapi Kontroversi Film The Santri

Film terbaru Livi Zheng yang berjudul The Santri menuai kontroversi di masyarakat, khususnya kelompok keagamaan. Seperti misalnya ketua Umum Front Santri Indonesia (FSI), Hanif Alathas yang menyoroti cerita di balik film The Santri, yang menurutnya tak mencerminkan akhlak santri serta tradisi di pesantren.
Diterbitkan Kamis, 19/09/2019 - 15:10 WIB
oleh Solopos.com/Jafar Sodiq Assegaf,
2 mnt baca -

Solopos.com, JAKARTA - Sutradara film The Santri, Livi Zheng menolak untuk memberikan komentar terkait filmnya yang kini menjadi kontroversi. Menurut Livi, saat ini proses wawancara hanya bisa dilakukan kepada Imam Pituduh, Produser Eksekutif dari film The Santri.

“Kalau untuk The Santri, sementara ini yang bisa diwawancarai baru executive producer-nya saja. Semua wawancara langsung ke Pak Imam,” kata Livi Zheng, dilansir Rabu (18/10/2019).

Seperti diketahui, film terbaru Livi Zheng yang berjudul The Santri menuai kontroversi di masyarakat, khususnya kelompok keagamaan. Seperti misalnya ketua Umum Front Santri Indonesia (FSI), Hanif Alathas yang menyoroti cerita di balik film The Santri, yang menurutnya tak mencerminkan akhlak santri serta tradisi di pesantren.

Ulama karismatik dari Cirebon, KH. Yahya Zainul Ma'arif atau yang akrab disapa Buya Yahya juga turut menjawab pertanyaan yang dilayangkan kepadanya. Pengasuh pondok pesantren Al-Bahjah ini meminta proses pembuatan hingga rampung produksi diperhatikan secar detail.

Film ini juga dituntut untuk bisa menjelaskan ciri khas pesantren tentang moral dan akhlak. "Kalau memakai nama "Pesantren" harus sesuai dengan penggambaran. Jika film ini tidak menampakkan karakter santri yang sesungguhnya, yang rusak banyak. Fitnah. Yang katanya film ingin membangun, maka akan justru merusak" pungkas Buya.

UAS & Habib Taufiq

Ustaz Abdul Somad (UAS) menjelaskan sejumlah poin yang menjadi keberatan. Salah satunya tentang penggambaran seseorang yang memasuki rumah ibadah agama lain.

"Kedua, tentang masalah laki-laki [dan] perempuan berduaan tak [bukan] mahram. [lalu saling] Pandang-pandangan," ungkapnya. "Orang-orang yang pernah di pesantren pun, ketika menonton itu: ini bukan anak pesantren, anak pesantren tak begitu."

Habib Taufiq Assegaf, turut keberatan. Habib Taufiq Assegaf menghimbau kepada jamaahnya untuk mengikuti perintah Allah dan akhlak Rasullullah, bukan film. "Insyaallah itu judulnya Santri. Tapi namanya judul kok. cuma judul. Enggak usah diikuti," katanya.

Seharusnya film itu dibuat tidak dengan judul mengecoh. Habib Taufiq lantas menyebut jika ingin mengetahui gambaran santri yang sebetulnya maka sebaiknya membaca kitab Bidayatul Hidayah oleh Imam Ghazali. "Itu [penggambaran di kitab] santri beneran, bukan yang ada di film itu," lanjutnya.

Habib Taufiq mengaku tersinggung jika film yang tidak menggambarkan santri tapi memakai judul santri. "Sak karepmu [terserah Anda] kalau pakai nama Santru. Santra. Kita enggak bakal berkomentar," sebutnya.

LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terkini