top ear
Tutup Iklan

Pengendara sepeda motor dari arah Jl. Slamet Riyadi menerabas water barrier di Bundaran Gladag untuk menuju Jl. Mayor Sunaryo tanpa terlebih dahulu memutar ke Bundaran Tugu Pamandengan di depan Balai Kota Solo, Jumat (8/4/2016). (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos)
  • SOLOPOS.COM
    Pengendara sepeda motor dari arah Jl. Slamet Riyadi menerabas water barrier di Bundaran Gladag untuk menuju Jl. Mayor Sunaryo tanpa terlebih dahulu memutar ke Bundaran Tugu Pamandengan di depan Balai Kota Solo, Jumat (8/4/2016). (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos)

Lihat Orang Titip Dagangan di Wedangan Solo, CEO Jouska Terheran-Heran

CEO Jouska Aakar Abyasa dikejutkan dengan kearifan lokal di Solo.
Diterbitkan Senin, 2/12/2019 - 20:34 WIB
oleh Solopos.com/Nugroho Meidinata
3 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Pendiri dan CEO Jouska Indonesia, Aakar Abyasa, beberapa waktu lalu mengunjungi Kota Solo, Jawa Tengah. Aakar Abyasa tak lupa untuk menikmati kuliner dan belanjar batik yang menjadi ciri khas kota dengan slogan The Spirit of Java ini.

Namun, ada kisah menarik yang ia beberkan melalui Instagram pribadinya, @aakarabyasa, Sabtu (30/11/2019). Dia dikejutkan dengan budaya berbagi yang dipraktikkan masyarakat Solo dan dibalut kearifan lokal.

"Dua hari di Soloraya menemukan bahwa kolaborasi itu bukan ide baru. Itu adalah local wisdom yang sudah dipraktikkan berabad-abad di negara kita sendiri," ungkap Abyasa.

Mata Air Cuma Keluar 1 Ember/Jam, Warga Ngancar Wonogiri Andalkan Bantuan

"Ketika di Solo, saya justru menemukan jawaban soal sharing economy [ekonomi berbagi] yang sudah dipraktikkan masyarakatnya dalam keseharian mereka," sambungnya.

Tuduhan Shalfa Tak Perawan, Khofifah Desak Pelatih Minta Maaf

Awalnya dia mengisahkan pelajaran berharga tentang berbagi antar pedagang selama di Solo. Aakar Abyasa mengunjungi tiga tempat di Solo, yakni wedangan dan pasar yang semuanya menerapkan prinsip tersebut. Berikut cerita lengkapnya yang dibagian melalui akun @aakarabyasa.

Asal Usul Sumur di Bawah Musala yang Celakai Imam Mahasiswa UIN Jogja

Selama di Solo saya beberapa kali nyobain steet food / warung / wedangan. Ada satu warung saya tanyain. Warungnya ramai banget. Enak banget. Tapi bukanya cuma dari jam enam pagi sampe jam tiga sore. Padahal rame kayak pasar.

Apple Watch Series 5 Segera Meluncur di Indonesia, Ini Harga dan Spesifikasinya

Iseng saya nanya ke kepemiliknya, 'kok gak buka sampe malem kenapa?' Jawabannya: 'ya biar karyawan istirahat. Biar tetangga bisa ganti jualan yang lain'. Deg!! Rasanya saya sangat tertampar.

Ada Roti Jangkrik di Inggris, Rasanya Diklaim Lezat

Saya pergi ke wedangan dua kali. Yang terakhir, karena flight saya jam tujuh malem, maka saya minta early dinner. Jam setengah lima. Wedangannya baru dasaran. Dasaran itu siap-siap lapak. Saya perhatikan bolak-balik ada orang nitip jual makanan ke lapak. Bahkan kata bapaknya yang jual, dia cuma modal tempat, nasi, gorengan & minuman. Sisanya semua konsinyasi. Titipan.

Waduh, Kalori Kerupuk Setara Sepiring Nasi

Saya tanya, kenapa gak bikin sendiri Pak? 'Wah...gak papa Mas. Biar tetangga sekitar ikut cari untung. Ikut makan. Saya sudah cukup kok.' Sekali lagi saya terkejut engan jawabannya.

Nadiem Makarim: Kalau Saya Cari Uang, Enggak Usah Jadi Menteri

Satu lagi yang menarik. Saya sempat berburu kain batik lama di pasar. Kebetulan temen saya yang nganterin direferensikan satu toko namanya. Sebutlah toko bu Nanik.

UMS Solo Kampus Swasta Indonesia Terbaik Se-Asia

Kami mencari toko bu Nanik ini tanya ke pemilik toko lain yang jualanya sama. Kalo di Jakarta, biasanya bilang gak tau. Tapi Bapak ini justru nganterin saya ke tokonya Bu Nanik.

Kedai Bakso Kejujuran di Banjarsari Solo: Ambil, Hitung, dan Bayar Sendiri Makananmu

Saya nyeletuk gini: 'Bapak baik banget mau anter. Dia nyeletuk, 'namanya dagang bareng Mas, kalo rejeki ga bakal ketuker.' Akhirnya setelah belanja ke Bu Nanik, saya juga belanja ke toko Bapak yang nganter tadi.

 

View this post on Instagram

 

2 hari di Solo saya menemukan bahwa KOLABORASI itu bukan ide baru. Itu adalah LOCAL WISDOM yang sudah dipraktekkan berabad-abad di negara kita sendiri. - Bertahun-tahun saya berdebat dengan kepala saya sendiri soal kapitalisme, marxisme, doughnut economy, dan banyak sekali referensi dari ekonom dunia yang saya baca mengenai bentuk sistem ekonomi baru yang bakal sustain dan menjadi solusi di masa depan. - Ketika di Solo, saya justru menemukan jawaban soal SHARING ECONOMY yang sudah dipraktekkan masyarakatnya dalam keseharian mereka. - Mungkin benar adanya, bahwa seringkali jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita justru ada di rumah kita sendiri. Ada di sebelah kita sendiri. Kita cuma perlu sedikit rendah hati untuk mengakuinya. - Apa local wisdom di sekitarmu?

A post shared by Aakar Abyasa Fidzuno (@aakarabyasa) on

Editor : Profile Adib M Asfar
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

Properti Solo & Jogja

Iklan Baris

berita terkini