top ear
Flo. Kus Sapto W. (Istimewa/Dokumen pribadi)
  • SOLOPOS.COM
    Flo. Kus Sapto W. (Istimewa/Dokumen pribadi)

Legasi Kreatif Didi Kempot

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/5/2020). Esai ini karya Flo. Kus Sapto W., praktisi pemasaran dan pengajar di Politeknik Kawasan Industri Kendal. Alamat e-mail penulis adalah floptmas@gmail.com.
Diterbitkan Jumat, 15/05/2020 - 21:44 WIB
oleh Solopos.com/Flo. Kus Sapto W.
5 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Sekian tahun lalu saat Didi Kempot belum setenar sekarang, pernah dikerjain oleh Mamiek Prakoso dan teman-temannya. Didi Kempot kala itu masih ngamen dari rumah ke rumah. Ketika itu Mamiek Prakoso sedang bersendau gurau di rumah teman yang berkaca jendela riben.

”Eh… kuwi adhiku… jarno… diplekotho wae,” begitu kurang lebih ujar Mamiek Prakoso kepada koleganya. Didi Kempot akhirnya pergi dari rumah itu dengan gusar. Kabarnya Mamiek Prakoso kemudian mengejar Didi ssambil mengulurkan uang sepuluh ribuan. Mamiek Prakoso adalah kakak kandung Didi Kempot.

Kisah di atas hanyalah sedikit gambaran bagaimana Didi Kempot mengawali karier, benar-benar dari bawah. Ia seniman yang matang oleh tempaan dalam proses di ruang kehidupan. Bukan dari ruang-ruang kelas akademi maupun audisi.

Didi Kempot bahkan tidak lulus SMA (Solopos.com, 5 Oktober 2015). Putus sekolah bukan berarti akhir dunia, apalagi dunia musik. Didi Kempot terus belajar dari banyak orang. Tidak bermaksud melebih-lebihkan keunggulan jalur karier yang satu dengan lainnya, pencapaian Didi Kempot kurang lebih setipe dengan almarhum Bob Sadino.

Bob Sadino bukanlah orang yang belajar manajemen pemasaran di kelas-kelas bisnis dan akhirnya terbukti sebagai pelaku langsung dari teori-teori pemasaran sejati (Koran Tempo, 21 Januari 2015).  Demikian pula dengan Didi Kempot. Ia tidak mendalami teori-teori penciptaan lagu secara khusus.

Ia juga tidak menggeluti seluk-beluk manajerial pemasaran di industri musik skala masif. Pengalaman hidup mendorong Didi Kempot menciptakan lagu-lagu yang marketable. Didi Kempot bisa jadi tidak menyadari lagu-lagu gubahannya pada akhirnya sangat disukai publik. Diakui atau tidak, langkah-langkahnya dalam berkreasi ternyata sangat masuk akal untuk dimengerti.

Segmen Pasar

Pertama, maestro campursari ini bisa dikatakan memilih segmen pasar spesifik, yaitu lagu-lagu berbahasa Jawa. Populasi pengguna bahasa ini mencapai 95 juta lebih di Indonesia dan nomor 11 pengguna bahasa daerah terbanyak di dunia. Bahasa dalam lagu menjadi media penyampaian pesan yang penting.

Salah satu bagian dari pembelajaran berbahasa adalah mendengarkan–selain berbicara dan menulis tentunya. Kini lewat media sosial distribusi lagu-lagu bisa didengarkan oleh pemakai bahasa Jawa--yang notabene adalah pasar potensial bagi lagu-lagu Didi Kempot--tanpa batas teritorial lagi.

Kedua, Didi Kempot mengusung tema patah hati dalam hampir semua lagu-lagunya. Patah hati adalah pengalaman emosional yang pernah dialami oleh hampir semua orang. Uniknya, salah satu terapi mengatasi patah hati adalah justru membiarkan diri bersedih.

Artinya, orang yang patah hati harus menerima luapan perasaan sedih sebelum mampu untuk move on. Pengingkaran terhadap kesedihan sekaligus dalam waktu yang bersamaan berupaya untuk mengatasi kesedihan justru akan berujung pada kelelahan batin.

Upaya ini akan menguras banyak energi. Lebih baik menjalani satu demi satu sampai bisa menerima dan melewati dengan lapang dada. Lagu-lagu bertema ambyar khas Didi Kempot mau tidak mau menjadi luapan emosi kesedihan penggemarnya. Dengan kata lain, lagu-lagu Didi Kempot yang sarat dengan muatan lara ati merupakan terapi bagi para penderita patah hati–yang adalah sebagian besar dari kita.

Simaklah sederet lagu seperti Cidra, Suket Teki, Pamer Bojo Anyar, Banyu Langit, dan lain-lain adalah representasi pengalaman emosional publik sad boys dan sad girls. Demikian juga menjadi memori tersendiri bagi yang sudah melewati masa-masa ambyar. Tembang-tembang Didi Kempot seperti menggiring konsumen untuk mengenang kembali masa-masa ambyar dengan tersenyum.

Ketiga, Didi Kempot sering kali menjadikan tempat-tempat legendaris sebagai latar lagu-lagunya. Sebut saja misalnya Adheme Kutha Malang, Magelang Nyimpen Janji, Stasiun Balapan, Parangtritis, Lintang Ponorogo, dan lain-lain. Sangat jarang penyanyi dan penulis lagu yang secara khusus memberi porsi besar bagi penggunaan latar tempat-tempat memorable.

Dalam bahasa pemasaran, latar ini menjadi kekayaan dan memiliki nilai jual dalam produk (lagu). Hampir semua tempat pengingat memori bagi sebagian besar publik itu menjadi pengantar untuk mengenang kembali pengalaman emosional konsumen.

Secara kreatif dalam setiap live show Didi Kempot juga biasa mengganti nama-nama kota itu sesuai dengan nama kota tempat dia sedang manggung. Improvisasi ini tidak menghalangi Didi Kempot menumbuhkan kedekatan emosional dengan Sobat Ambyar di mana pun mereka berada, meski dengan lagu yang spesifik mengangkat tema latar daerah tertentu lainnya.

Hal lain yang bisa jadi hanya sebuah kebetulan adalah mulai bergabungnya Dory Harsa pada akhir 2008. Awalnya pemuda klimis bernama lengkap Dory Haryanto Eka Saputro ini sebagai penabuh drum. Dory Harsa yang tampan, santun, dan murah senyum sangat disukai generasi milenial.

Tema Paling Dasar

Hal unik dalam diri lelaki muda ini adalah kisah serupa dengan Didi Kempot dalam perkara ambyar. Anak lelaki Agus Haryanto (Agus Genjik) ini pernah mengalami kegagalan dalam kehidupan perkawinan. Duda keren beranak dua ini sedikit banyak turut menjadi daya tarik penggemar Didi Kempot.

Dory bahkan ikut menaikkan kepopuleran Didi Kempot dengan jargonnya yang sempat viral: nangisa tak kendhangi. Jargon itu seolah-olah menyampaikan empati sekaligus satire dari Dory--dan Didi Kempot tentunya--kepada semua Sobat Ambyar bahwa mereka tidak sendiri.

Agaknya kekuatan terbesar Didi Kempot adalah dalam tema paling dasar dan mendalam: broken heart. Di industri seni, sampai saat ini, banyak yang percaya kaitan erat antara pain and suffering dengan creativity (mentalfloss.com, 6 September 15). Van Gogh adalah salah seorang model dari dalil tersebut.

Masa kecil yang tenggelam dalam kemiskinan dan sakit menjadi daya dorong bagi kreativitas. Ada dalil pembanding yang menyatakan penderitaan korelatif dengan daya cipta adalah mitos (talentdevelop.com). Apakah hal itu berarti untuk menjadi kreatif seseorang harus menderita terlebih dahulu?

Dalil yang lebih mudah diterima sepertinya adalah bahwa penderitaan (emotional difficulties) menyajikan/menjadi konten yang baik. Sebuah sumber yang tidak akan habis dieksploitasi (psychologytoday.com, 6 Juni 2013).

Bisa dimaklumi bahwa karena penderitaan--patah hati, tidak disetujui oleh calon mertua pacarnya (Solopos, 5 September 2019)--menjadikan Didi Kempot memiliki sumber inpirasi yang tidak ada habis-habisnya dalam mencipta lagu.

Didi Kempot meninggalkan warisan besar tidak hanya dalam kreativitas dan popularitas. Kiprah seninya menjadi pengingat sarat makna. Pengembangan bahasa dan kebudayaan (Jawa) tidak cukup hanya dengan berteori dan asumi-asumsi. Konsistensi dalam mencipta syair lagu dalam bahasa Jawa layak diapresiasi tinggi.

Didi Kempot juga mewariskan spirit tetap berbagi meski dalam situasi pandemi. Konser amal pada 11 April 2020 menghasilkan donasi Rp7,5 miliar. Semoga konser yang ditayangkan ulang pada 18 April 2020 moleh salah satu stasiun TV swasta itu menjadi amal kebaikan Didi Kempot. Lagu terakhir Didi Kempot, Aja Mudik, seperti salam perpisahan. Selamat mudik di haribaan Sang Penguasa Kehidupan, Mas Didi Kempot…

Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

Properti Solo & Jogja


berita terkait