Larry King dan Komunikasi Efektif
Solopos.com|kolom

Larry King dan Komunikasi Efektif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 15 Februari 2021. Esai ini karya Satrio Wahono, alumnus Magister Filsafat Universitas Indonesia dan dosen di Universitas Pancasila.

Solopos.com, SOLO — Dunia jurnalisme penyiaran belum lama ini berduka. Larry King (1933-2021) meninggal dunia pada 23 Januari 2021 lalu karena terinfeksi Covid-19. Meski mungkin tidak terlalu populer di Indonesia, Larry King adalah legenda dunia penyiaran, terutama di bidang gelar wicara (talk-show) politik dengan memandu acara Larry King Show, Larry King Live, dan Larry King Now.

Ia memandu acara itu sejak 1978 hingga beberapa saat sebelum kematiannya (total 42 tahun lebih). Seiring tingginya antusiasme dan minat masyarakat Indonesia terhadap acara bincang-bincang atau diskusi politik, yang juga terlihat dari kian banyaknya kanal TV khusus berita (Metro TV, Kompas TV, INews, TVOne, dan lain sebagainya), menarik jika kita coba melihat warisan atau legacy Larry King berupa kiat komunikasi efektif sebagai pewawancara.

Hal ini tentu akan berguna untuk meningkatkan kualitas industri televisi berita kita dan juga bagi kita semua yang dalam hidup pasti pernah merasakan pengalaman ditanyai atau menanyai orang. Larry King sangat terkenal dengan buku karyanya How to Talk to Anyone, Anytime, Anywhere, yang di sini diterjemahkan oleh penerbit Gramedia menjadi buku superlaris Seni Berbicara.

Dalam itu, Larry King menguraikan dua resep sederhana yang menurutnya berlaku universal. Pertama, seorang pewawancara harus lebih banyak mendengarkan narasumber. Bagi King ini adalah aturan emas (golden rule/rule-of-thumb) yang tak boleh dilanggar.

Seorang pewawancara atau pemandu acara (host) tidak boleh lebih banyak berbicara ketimbang tamu atau narasumbernya. Seorang pewawancara harus menyadari bahwa penonton atau pendengar tidak tertarik dengan sang pewawancara.

Mereka lebih tertarik menyimak apa yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh sang narasumber. Ini sebenarnya berbanding terbalik dengan cukup banyak pewawancara di acara televisi kita yang justru lebih heboh sendiri ketimbang tamunya.

Alhasil, penonton atau pendengar tidak mendapatkan informasi baru dari narasumber dan bisa jadi akan merasa rugi serta terasa hanya membuang-buang waktu menyimak suatu acara. Aturan emas “banyak mendengar” ini memang universal.

Disukai

Hal yang sama juga diutarakan guru motivasi Dale Carnegie dalam buku How to Win Friends and Influence People (di Indonesia diterjemahkan oleh banyak penerbit) terkait bagaimana membuat diri kita bisa lebih mudah disukai dan mendapatkan lebih banyak teman.

Menurut Carnegie, orang punya fitrah untuk mendapatkan pendengar sehingga mereka cenderung akan senang jika ada orang yang mau mendengarkan dengan saksama. Tatkala mereka sudah merasa senang maka sang pendengar yang baik itu sejatinya sudah memenangi perhatian mereka dan akan lebih mudah memengaruhi lawan bicara.

Kedua, jadikan pertanyaan Anda ringkas alias keep it short. Sesuai aturan pertama tadi, pewawancara harus lebih banyak mendengar dan membiarkan tamu yang menjadi bintangnya, sesuai dengan titel mereka ”bintang tamu.”

Seorang pewawancara atau pemandu acara harus mengajukan pertanyaan seringkas mungkin dan biarkan bintang tamu yang memberikan jawaban versi mereka. Prolog pertanyaan yang terlalu panjang akan melelahkan, mengaburkan fokus, dan membuat waktu bintang tamu menjawab banyak terpangkas.

Terkait resep kedua ini, pewawancara sebisa mungkin jangan memotong pembicaraan bintang tamu atau lawan bicara. Pewawancara juga harus berupaya tidak mendesakkan opininya sendiri terkait isu yang sedang dibicarakan bersama bintang tamu.

Kalau demikian yang dilakukan hanya akan berujung pada perdebatan dan membuat bintang tamu merasa tidak nyaman atau tidak bisa lepas dalam mengutarakan pendapat terkait isu yang sedang dibahas. Apabila bintang tamu atau lawan bicara merasa tidak nyaman, mereka akan bersifat defensive sehingga pembicaraan akan buntu atau tidak produktif.

Dari legacy Larry King di atas kita bisa melihat bahwa kebanyakan acara gelar wicara legendaris di Indonesia yang bertahan lama ternyata memang menerapkan kedua resep tersebut. Ambil contoh acara Kick Andy yang dipandu jurnalis senior Andy F. Noya sudah bertahan selama hampir 15 tahun.

Dalam setiap episode terlihat Andy Noya di sana lebih banyak mendengar dan hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan singkat. Setelah mendapatkan jawaban panjang dari narasumber, barulah Andy Noya merespons berdasarkan amatan dan hasil penyimakannya. Demikian juga acara Indonesia Lawyers Club yang dipandu wartawan kawakan Karni Ilyas.

Acara gelar wicara politik ini bertahan selama 12 tahun lebih dari episode pertama pada 18 Februari 2008 hingga rehat sejenak untuk batas waktu yang belum ditentukan pada akhir 2020 lalu. Kita lihat dalam acara itu Karni Ilyas hanya sesekali melemparkan pertanyaan singkat (keep it short), menyimak jawaban, dan kemudian membiarkan setiap narasumber ”bersinar” dalam perdebatan seru yang kadang-kadang panas dengan sesama narasumber.

Karena itulah acara ini selalu dinanti-nanti oleh banyak penonton di berbagai belahan Nusantara dan segmen-segmennya kerap menjadi viral ketika diunggah di media sosial. Kepergian Larry King adalah kehilangan besar bagi dunia jurnalisme.

Kita di Indonesia bisa ikut mengenang jasanya dengan menerapkan dua resep sederhana wawancara yang dia tinggalkan dan praktikkan, baik dalam dunia penyiaran maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian kita bisa berharap akan menyaksikan industri penyiaran yang lebih berkualitas dan kehidupan personal yang lebih baik. Semoga!

 



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks
Berita Video
View All

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago